Dawnshifter, unit Rock/Alternative Metal asal Bandung, resmi memperkenalkan album perdana mereka bertajuk “Phantoms”. Album ini tumbuh bersamaan dengan kelahiran Dawnshifter sebagai sebuah entitas musik. Meski baru berjalan kurang lebih satu tahun, formasi ini dihuni oleh para musisi yang telah lama berkarya di skena masing-masing: Fariz (Heliost), Raka a.k.a. Pablo Cikaso, Zen (Graysea), dan Lucky (Sesak), dengan Wendo (Playfvl Cab) sebagai additional performance. Pertemuan mereka berlangsung cepat, dipertemukan oleh frekuensi yang sama, yakni hasrat untuk memulai dari awal, meninggalkan pola lama, dan membangun ruang ekspresi yang lebih jujur secara emosional. Dawnshifter tidak lahir untuk pembuktian, melainkan untuk menyampaikan kisah apa adanya, sebuah perjalanan spiritual yang reflektif tanpa terjebak dalam sikap dogmatis.
Proses kreatif Phantoms memakan waktu hampir satu tahun dan menjadi fase eksplorasi untuk menemukan arah musikal yang benar-benar merepresentasikan Dawnshifter. Album berdurasi sekitar 38 menit ini merangkum perenungan batin para personelnya. Banyak materi justru bermula dari percakapan-percakapan sederhana, yang perlahan berkembang menjadi lirik-lirik paling jujur dan personal.
Perjalanan menuju album penuh diawali dengan single debut “Bisikantara” pada Juni 2025, lengkap dengan video musik perdana yang memperkenalkan karakter atmosferik dan kontemplatif Dawnshifter. Lagu tersebut menjadi gerbang awal yang mengajak pendengar memasuki semesta yang mereka bangun. Selanjutnya, “Silent Echoes” yang dirilis pada Agustus 2025 semakin menguatkan identitas musikal mereka melalui tekstur suara yang khas dan lirik yang membekas, sembari tetap membuka ruang interpretasi.
Pada saat momen menjelang perilisan resmi album, Dawnshifter telah sukses mengadakan sesi dengar eksklusif pada 4 Februari 2026 lalu di 996 Council, Bandung. Acara tersebut menjadi momen intim bagi pendengar terdekat dan para pendukung untuk merasakan Phantoms secara utuh sebelum dilepas ke publik sehari setelahnya. Secara keseluruhan, Phantoms memuat 10 trek yang dirangkai dari potongan kisah personal dan pengalaman batin. Setiap lagu hadir sebagai metafora tentang fase kehidupan dan tentang suara-suara dari masa lalu. Phantoms bukan sekadar gema yang harus dilupakan, melainkan simbol keberanian untuk kembali mendengarkan dan memaknainya.




