Darah muda seringkali identik dengan raw energy, begitu pula dengan solois muda dari Kota Malang, Redientz yang merilis single ‘Every Time I Go To Ride’. Hasil produksi lagu yang lo-fi tidak menghentikannya untuk merilis single terbarunya tersebut. Menjadi muda memang punya benefit yaitu energi dan kepercayaan diri yang melimpah serta hal ini berbanding lurus dengan kreatifitas yang masih mudah terbarukan. Mengisi tahun 2022 dengan merilis tiga single yaitu ‘The Story is Over’, ‘Far Away’ dan ‘Distance’, adalah bukti betapa energinya masih tinggi untuk mendorong dirinya sendiri menjadi produktif. Patut diapresiasi langkah-langkah awal Redientz memasuki blantika musik Indonesia ini.
Mengaku terpengaruh oleh musisi – musisi pop, indie pop dan R&B kekinian era generasi-z yaitu Keshi, Cavetown, serta duo bersaudara Finneas O’Connell & Billie Eilish, musik Redientz dipenuhi reverb, beat hip-hop yang terpengaruh trap dan melodi synthesizer ala R&B yang terkadang diselingi gitar akustik. Nama moniker Redientz berasal dari kata “Radiants” dan diambil dari cara pengucapan kata tersebut, yang memiliki arti pancaran sinar. Redientz mulai bermain musik sejak SMP dan belajar memproduksi lagu saat covid pada tahun 2021 awal. Sebagaimana solois-solois muda yang memulai dari kamar, Redientz juga membuat lagu sendiri dengan niat melatih kreatifitas dan skill dalam produksi musik walaupun dengan budget yang pas-pasan. Terlebih lagi, sebagai seorang desainer grafis, Redientz menggambar sendiri artwork di dua single awal dan mulai beralih ke seni fotografi untuk artwork dua single terbarunya.
“Disamping budget pas pasan, juga untuk melatih kreatifitas dan skill dalam produksi musik hehehe.” Ujar Redientz menjelaskan alasan bermusiknya.
‘Every Time I Go To Ride’ mempunyai tema yang tidak jauh dari masa-masa coming of age yang masih berkutat dengan asmara, apalagi momen jatuh cinta tanpa teralihkan oleh urusan pekerjaan yang membuat frustasi. Momen jatuh cinta dan terngiang-ngiang ini Redientz selalu rasakan di saat berkendara sepeda motor di jalan.
“Judul dan lirik ‘Every time I Go To Ride’ muncul saat perasaan jatuh hati kepada seseorang dan selalu kepikiran akan tentangnya saat diperjalanan. Tema falling in love. Maknanya, di saat seseorang suka dengan seseorang yang lain, otomatis akan selalu kepikiran si dia, terlebih lagi saat melakukan perjalanan.” Tutur Redientz mengisahkan konten lagunya.
Karena ini produksi satu orang, Redientz mengaku tidak memenuhi timeline-nya dengan agenda besar. Rencana selanjutnya cukup sederhana yaitu merilis single lagi.
Klik untuk mendengarkan Every Time I Go To Ride di berbagai layanan streaming.





