Sebagai pembuka tahun, kita disuguhi dengan beragam karya musik yang tumpah ruah. Semuanya menyenangkan dan menarik untuk disimak. Satu dari banyaknya musisi yang melepas karyanya, ada Fredxel dari Palu, yang juga melepas judul ‘Riuh Dalam Dada‘ ke dalam bentuk video musik. Lagu ini sebenarnya sudah pernah dilepas olehnya di tahun 2020, dan juga telah lama ditulis. Tepatnya pada 2015 dan disempurnakan pada 2019. Bercerita perihal sebuah kejadian pertemuan yang di dalamnya terdapat rasa dan harapan untuk saling memiliki, namun sayang seribu sayang hal itu tidak tersampaikan kepada masing-masing. Dalam proses penulisannya, menurut Fredxel lagu ini cukup jauh berbeda, baik itu dari sisi judul, notasi, dan juga liriknya. Hasil finalnya merupakan karya kolaborasi antara Fredxel, Rahmadiyah Trigayatri, dan Naldi Cante, dalam penggarapan lirik.
”Riuh Dalam Dada awalnya lagu dengan judul, notasi, dan lirik yang berbeda. Kemudian dirombak bersama ka Ama dan ka Naldi, lalu saya sedikit merombak notasi dan temponya. Pun pengerjaan perombakan semuanya, hanya dilakukan dalam waktu satu malam saja, di tahun 2019,” terang Fredxel.
Untuk proses perekaman, semua dilakukan di sebuah studio bernama RnR Studio (yang kerap kali menjadi tempat tujuan para musisi Palu untuk merekam dan mencipta lagu mereka), oleh Fredxel dan Arki yang bertugas sebagai operator perekam, sekaligus mixing dan mastering. Bagian yang cukup menonjol dari rilisnya video musik ini adalah perubahan nama panggung dari Fredxel, yang sebelumnya lebih dikenal dengan moniker Felix, dan kini memakai nama lahirnya. Hal ini dilakukannya karena sudah sangat lama memiliki keinginan untuk menggunakan nama sendiri sebagai nama panggungnya.
Menghilangkan kepribadiannya yang selalu menahan diri untuk berkarya, dalam artian lebih apa adanya, jadi lebih personal dan ingin mengatakan bahwa jadi diri sendiri lebih baik dengan segala kurang atau lebihnya diri kita. Berbagai perjalanan menuju pendewasaan, melawan keegoisan dalam diri, dan menumbuhkan kepercayaan diri, adalah banyak hal yang dilewati guna mendapatkan keputusan finalnya memakai nama asli sebagai nama panggung.
“Saya sudah lama kepikiran mau menggunakan nama saya sendiri. Proses
pendewasaan saya pribadi, membuat saya mulai jadi apa adanya dan percaya dengan diri sendiri. Dulu saya selalu merasa kurang, egois, apa yang ada di isi kepala harus terjadi. Sampai akhirnya semua rasa takut itu cuman menghambat. Merubah brandingan menjadi nama saya sendiri, saya pun mendapatkan kekuatan untuk tidak takut berkarya dengan jujur, tidak terlalu memikirkan apa yang orang katakana, dan memang jadi diri sendiri itu lebih baik.” Pungkas dirinya dalam menjelaskan perihal pemakaian nama lahirnya.
Bicara soal video musiknya, Fredxel di sini berkolaborasi bersama seorang seniman fotografi bernama Charles Edward, yang sangat dikenal sebagai orang yang malang melintang di dunia foto di kota Palu. Penggarapannya pun tak perlu memakan waktu lama, hanya butuh satu hari untuk erampungkan proses syuting yang dilakukan di banyak lokasi ini. Dari segi adegan per adegan, Charles Edward ingin mengungkapkan sisi artistiknya, tanpa perlu mengganggu makna sebenarnya dari keseluruhan lagu yang ada.
“Ka Charles awalnya dengar lagu ini, kemudian dirinya pun sangat suka, dan menyalurkan ide, gagasan, dan idealisnya lewat penggarapan musik video. Atas dasar ide dan kreativitas yang dimiliki oleh kak Charles bersama tim Kumbaja (Studio milik Charles). Jadinya proses pengerjaannya Cuma sehari saja.” Tutur Fredxel.
Bagai angin segar di teriknya matahari kota Palu, Fredxel hadir membawa musik yang melankolis, tenang, mudah diingat, tapi tetap berkualitas. Hanya dirinya dan sebuah piano, dia mampu mengaransemen musiknya sedemikian rupa. Takarannya pas dan tidak berlebihan. Sebuah musik sederhana, tapi kaya akan cita rasa yang akan terus melekat ketika mendengarkannya, bahkan saat pertama kali.
Kabarnya kini dia tengah menggarap banyak materi yang akan dimasukkan ke dalam mini album, yang akan dirilis di pertengahan tahun ini. Selain itu, dia juga tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan personal, yang harus terus diimbangi dengan giat mencipta karya.





