‘Nishkala‘ merupakan single ketiga yang dipersembahkan oleh Rammadhanial sebagai salah satu rangkaian dari perjalanan album kedua; “Whisper From Nowhere“.
‘Nishkala‘ adalah sebuah lagu yang cukup emosional dari Rammadhanial. Sayup-sayup keyboard terdengar sebagai pemanis, synthetizer yang mengejutkan ditengah lagu serta distorsi gitar yang tebal, semua terbalut dalam lantunan dan lirik yang mengisyaratkan keputusasaan dan kepasrahan menjadikan ‘Nishkala‘ bernafas di antara gaya musik pop punk dan emo. ‘Nishkala‘ mengingatkan bahwasanya kita semua memiliki titik terendah dalam hidup dengan bentuk dan ruang yang berbeda-beda pada masing-masing cerita kita sebagai manusia. Dimana akhirnya, Tuhan adalah satu-satunya penunjuk jalan.
Proses kreatif lagu ‘Nishkala‘ bermula saat Hany Wahyu (vokal/gitar) menemui sahabatnya, Enggel (gitar), menceritakan tentang salah satu kisah hidupnya yang belum juga menemui jalan keluar karena terjebak dalam lingkaran setan. Di saat yang sama, Hany juga sedang memiliki keresahan lain karena belum juga mendapat pekerjaan tetap, sedangkan waktu terus berjalan mengikis usia dan mempertanyakan kewajibannya sebagai seorang laki-laki dewasa. Kisah yang sama tapi tak serupa tersebut menjadi pemantik terciptanya lagu ‘Nishkala‘.
Diproduseri oleh Hany, ‘Nishkala‘ diramu dan dikemas di Medusa Records yang beralamat di Kota Satria, Purwokerto. Sebuah studio rekaman milik Ananta Ajie, gitaris band deathcore Eternal Desolator, yang berperan sebagai operator dan meramu racikan lewat mixing dan mastering. Secara musik, ‘Nishkala‘ disusun oleh Hany Wahyu (vokal/gitar) kemudian disempurnakan oleh Satya Nugroho (keyboard) dan Rosyid Imron (bass). Secara dominan, lirik ditulis oleh Hany Wahyu (vokal/gitar) dan diberi sentuhan oleh Jaka Jeck. “Nishkala menjadi salah satu lagu yang cukup mendalam bagi saya pribadi. Baru kali ini saat saya memutar file mixing dan mastering lagu yang saya ciptakan, pada saat perjalanan pulang dari studio (Purwokerto ke Banjarnegara), hampir meneteskan air mata. Saya rasa, aransemen dan hasil rekaman lagu ini, sudah sesuai dengan apa yang saya bayangkan.” Ujar Hany Wahyu.
“Refleksi warta penemuan diri dan sang maha kendali. Binar Cahaya: Ia menghangatkan sekaligus membiaskan (juga) membinasakan. Bilur bunga adalah bagian dari wujud sekuler serta sisa-sisa gerlap mahligai yang semu. Saat gelap menggulita; selalu ada pelita yang merona di wajah setiap bait-bait punah akan rapalannya. Dan kini perjamuan ini telah hadir di antara bisikan yang entah dari mana.”





