Aktor suara, seniman teater sekaligus penyanyi Jati Andito resmi merampungkan lagu kedua berjudul ‘Rentan‘ yang bisa didengarkan pengguna platform music. Lagu berjudul Rentan telah rilis, sebagai wujud sambungan pokok cerita realita para pekerja, dari single pertamanya ‘Cerita Pekerja‘. Judul Rentan dipilih bukan tanpa makna, kata ‘Rentan’ sendiri meceritakan gambaran kondisi kerapuhan para pekerja.
‘Rentan‘ bukan untuk jadi hymn. Lagu kedua ini berangkat dari realita pekerja yang menghabiskan waktu hanya untuk bekerja, tanpa punya waktu untuk mencari cinta atau mimpi.
Bait-bait ‘Rentan‘ ditulis Jati sendiri, bermula saat temannya mempertanyakan eksis makna hidup bagi pekerja.
“Jat emang ada waktu untuk jatuh cinta? Kayaknya pikiran gua cuma deadline, atasan, tagihan, takut besok ga bisa survive.”
Begitu tanya kawannya, seperti dituturkan ulang Jati. Momen itu jadi arus balik Jati, membuatnya tertegun.
Lewat musik Ia mulai refleksi. Berulang kali hatinya merasakan kegundahan yang sama, sibuk kerja tanpa mengejar mimpi atau cinta. Hasil akhirnya Jati mencurahkan perasaan dalam bait-bait ‘Rentan‘.
‘Rentan‘ menjadi lagu pengingat para pekerja, untuk coba mengambil jeda waktu sejenak, alihkan perhatian ke cinta dan mimpi.
Sementara penggalan lirik paragraf kedua yang ditulis juga menambah daya kuat premis Jati.
‘Ragu menderu, melesat seperti peluru, ingin kau ku kejar namun ku tak punya waktu’
Bahwa ‘pekerja tidak punya hak istimewa’. Jati menggambarkan kondisi ini dengan metafora pekerja sebagai peluru, maksudnya saat ada kesempatan untuk pekerja, mereka sering cepat ragu, dan mempertanyakan hak istimewanya.
“Aku sering ngerasa ragu untuk mengejar mimpi, karena aku selalu khawatir kalo aku fokus mengejar mimpi, aku nggak akan dapat penghasilan gimana? Jadi seperti ga selaras antara apa yang dikerjakan dengan apa yang sebenarnya diimpikan, “ tutur Jati membeberkan kegundahan buah pikirannya.
Jati juga merasa, di situasi tidak punya waktu lebih untuk hal lain, sebagian besar waktunya dihabiskan mencari pundi-pundi penghasilan.
“Selalu ngerasa kayak gak punya waktu, habis waktunya hanya kerja demi penghasilan. Jadilah aku tulis lagu ini,” kata Jati. Lagu ‘Rentan‘ bersuasana bangunan kehilangan separuh jiwa. Kokoh tapi kosong tak berpenghuni. Di samping itu, ia juga menampilkan eksploitasi pekerja sebagai kelompok rentan, seakan hidup hanya untuk mencari penghasilan. Selalu dibenturkan dengan uang, tanpa punya prinsip hidup dan makna lain.
Lagu kedua Jati mengajak kita semua untuk membebaskan, dan menyadari kondisi itu.
‘Dan adakah celah,
untuk cinta temukan rumah,
di relung hati yang buncah,
Penuh gelisah,
Kala memandang remang masa depan,
Terus berharap terang akan datang,
Walau semua rentan’
Penggalan bait pahit di atas menggambarkan pengalaman personal dan kolektif para pekerja.
Dibalut dengan musik indie pop, punk, dan teknik easy listening menambah lengkap, untuk didengarkan, khususnya kalangan pekerja.
Dalam single kedua, Jati tidak sendiri bekerja. Ia percaya kolaborasi adalah kesempurnaan dalam musik. Ia mengajak beberapa musisi yang memiliki talenta luar biasa seperti FA Poetra Tiarda (Gulf Of Meru/In Inertia) sebagai produser audio sekaligus music director dan Bass. sedangkan Putra “Babet” Buchari (Authentics/ SCRUM/HabaHaba) dipercaya jadi Gitar Elektrik. Sementara Raoul Dikka (Low Pink) pada Drum. Terakhir, Jati mengajak Ghandiee_ sebagai vokal latar.
Hingga akhir tahun nanti, Jati Andito akan terus membuat lagu, konsisten di jalur lorong problematika pekerja.





