Kabar Lelayu: Fadjar Sopsan, Seorang Legenda yang Berpulang

Share

SEBUAH OBITUARI

Kembali bicara tentang kota ini, belum genap seminggu hingar bingar perayaan tahun baru, kota yang pelan ini harus sejenak mengheningkan cipta, seorang legenda harus berpulang. Fadjar Praptono meninggal dunia. Ia adalah seorang seniman yang tanggap mengupayakan dialek banyumasan dalam wacana populer melalui kelompok musik bernama Sopsan. Senin, 6 Januari 2025, kabar lelayu disiarkan, Fadjar Sopsan berpulang pada pukul 08.30 pagi di Rumah Sakit Geriyatri dan dikebumikan di TP Martadirejan Kalibogor pukul 13.00 siang. Beliau pergi menyusul Taryoto (Soto Sopsan) rekannya di Sopsan yang lebih dulu berpulang dua pekan lalu.

Hari ini rumahnya seketika ramai, banyak rekan seniman, budayawan sampai orang-orang kedinasan yang berkunjung, berdoa dan berduka. Fadjar juga dikenal sebagai seorang guru sekolah dasar di wilayah Cilongok, beberapa kilometer dari Purwokerto. Saya tidak mengenal beliau secara personal, apalagi berdialog, hingga beberapa tahun lalu bertemu dan berteman dengan Ariya Baskara, anak laki-laki Fadjar Sopsan. Kami aktif berkegiatan melalui komunitas Drum dan Perkusionis Purwokerto. Melalui Onyeng (sapaan akrab Ariya) sedikit banyak saya mencoba menafsirkan sosok jenaka ayahnya yang selama ini hanya saya dengar dari lagu-lagunya yang menggelitik. Masih lekat dalam ingatan saya, mendengar lagu-lagu dan video klip Sopsan saat kecil melalui saluran Banyumas TV yang tidak begitu jernih pada periode awal 2000-an. Saat itu sebagai anak kecil kami benar-benar gembira mendengar dialek Banyumasan dipopulerkan melalui senandung jenaka Sopsan. Sampai beberapa tahun ke belakang saya melihat begitu banyak orang ditertawakan karena logat dan dialek Banyumasnya. Saya cukup meyakini bahwa beberapa nomor jenakanya menjadi ingatan kolektif bagi warga Banyumas dan sekitarnya, seperti ‘Gentawil Gek, ‘Nini Kartisen‘, ‘Roll N Banyumas‘, dan masih banyak lagi.

Siang tadi saya dan beberapa rekan berkunjung melayat ke rumah duka, bertemu dengan Onyeng menyampaikan bela sungkawa. Kami datang pukul 12.30 saat jenazah sedang dishalatkan di Masjid dekat dengan rumah duka. Selayaknya duka, beberapa terlihat hanyut dalam lamunan, beberapa terlihat sembab, beberapa di antaranya bercengkerama secukupnya. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan melalui orbituari ini. Sopsan ia gagas pada tahun 1994, bahkan tiga tahun sebelum saya dilahirkan. Fadjar Praptono telah melampaui batas fasih dalam berkarya. Melalui berita lelayu, ia dikabarkan meninggal di usia enam puluh tiga tahun, namun nama dan karyanya akan hidup selama mungkin, selama kota ini masih dibicarakan dengan layak. (FF)