PROLOG
Ulasan ini ditulis tepat sepekan setelah saya menonton ‘Sore: istri dari masa depan’. Ya, saya menonton film tersebut di hari pertama penayangan dan di jam pertama film tersebut ditayangkan di bioskop kota ini, ‘Rajawali Cinema’. Gairah untuk menonton pada putaran pertamanya tidak lain karena ketokohan Yandy Laurens, sang Sutradara. Hal tersebut sebenarnya cukup menakutkan bagi saya. Timbul kekhawatiran terjebak atas kekaguman terhadap seorang pengkarya ketika akan menyaksikan karyanya. Tapi saat saya menghabiskan film ini di menit-menit terakhirnya, bahkan saya lupa sejenak tentang genetisme film ini.
‘Sore: Istri dari Masa Depan’, melalui satu kali pengalaman menonton menceritakan tentang protagonis perempuan bernama ‘Sore’, yang datang dari masa depan. Ia mengunjungi ‘Jonathan’, suaminya, di masa ketika mereka bahkan belum saling mengenal. Sore bertujuan mengubah gaya hidup Jonathan, karena di masa depan, beberapa tahun setelah menikah Jonathan diceritakan meninggal terkena serangan jantung. Proses tersebut membuat sore berhadapan dengan hukum limitasi temporal dan kronotop yang dibuat dalam semesta film. Oleh karena itu, Sore menjadi tokoh yang terjebak dalam repetisi dan simpai kausal deterministik sampai akhirnya momentum tersebut selesai atau Sore, dalam film ini, hilang ‘Terbuang dalam Waktu’.
Secara subjektif, genre dan pendekatan, secara struktur maupun wacana, dalam film ini tentu memancing saya untuk mengulasnya di paruh pertama film ini beredar. Baik secara komprehensif maupun dialog serampangan. Cara bertutur film dengan tema serupa sempat menjadi fokus saya beberapa tahun lalu, menjadikannya korpus makalah proyek akhir serta dipublikasi melalui kanal jurnal akademik. Tema yang dimaksud adalah dimensi waktu dalam film, baik secara gagasan maupun kemasan. Kali ini saya akan coba membedah melalui pisau analisis yang sama untuk film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’.
DALAM BABAK NARATOLOGI
Lapisan pertama yang layak untuk dibicarakan dari film ini menurut saya adalah cara bertuturnya. Isu temporal dalam film dieksekusi melalui plot yang baik oleh Sutradara. Tentu pencarian afirmasi terkait konteks serupa melalui film-film lainnya muncul di kepala saat menonton. Yang saya bayangkan mulai dari ‘Tenet’ (2020) ¾yang sempat saya jadikan korpus penelitian seperti yang diutarakan di atas ¾, ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’ (2004), ‘Run Lola Run’ (1998), ‘Memento’ (2000), sampai dengan ‘Everything Everywhere All at Once’ (2022) dan beberapa film fiksi sains lainnya. Struktur naratif dalam film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ ini selaras dengan kajian forkingpath narratives. Allan Cameron, dalam bukunya berjudul Modular Narratives in Contemporary Cinema (2008) menyebut dalam salah satu babnya ’Projecting the Future: Order, Chaos and Modularity’, bahwa penggunaan metode ini mengundang spektator berpikir tentang kemungkinan narasi alternatif dan rentetan kejadian yang dihasilkan. Ia juga menyebutkan bahwa jalur bercabang yang ditimbulkan membangkitkan memori paralalel. Efek ini terjadi karena repetisi dan diferensiasi pada tiap jalurnya. Hal ini yang membuat penonton mengingat kembali iterasi naratif sebelumnya, kemudian mengamati perubahan dalam iterasi setelahnya. Metode ini mengangkat isu dalam diegesis (lapisan semesta dalam fiksi), menunjukan kepada kita (penonton) karakter yang secara sadar mengalami percabangan naratif ¾dalam kasus ini adalah Sore sebagai protagonis.
Selanjutnya adalah penciptaan limitasi, sekaligus pemicu momentum perjalanan waktu dan simpai kausal dalam film. Mungkin hal ini yang menjadi alasan adegan di Artik menjadi substansi yang esensial bagi film, selain visualnya yang memukau. Fenomena ini ditandai dengan kemunculan aurora berwarna merah, serta kesadaran tokoh terhadap sebuah berita yang menyiarkan berita tentang badai matahari pada satu fragmen yang berdekatan. Tidak hanya digunakan sebatas penanda arena limitasi bagi Sore dalam menjelajah waktu, namun fenomena ini jadi bagian krusial bagi tonggak kausalitas plot modular dalam semesta fiksi bekerja. Aurora ini bergerak dari Artik sampai ke Kroasia, di mana Sore tiba-tiba terbangun di sebelah Jonathan (di masa lalu). Pergerakan dari satu titik ke titik lainnya merupakan jangka waktu yang bisa dilalui oleh Sore dalam penjelajahan waktunya. Selain itu, limitasi lain yang diciptakan dalam film ini adalah dialog tentang kematian tokoh Jonathan. Tiap kali Sore mengucap dialog tersebut, ia akan kembali ke titik awal ketika ia memulai perjalanan waktu, dan repetisi tersebut terjadi berkali-kali menciptakan lompatan serta probabilitas realita yang baru.
SORE, DALAM APORIA DETERMINISTIK
Limitasi dan segala skema yang dikonstruksi dalam film membuat Sore mengalami aporia (kebingungan) deterministik. Sore sebagai entitas fiksi dalam semesta diegetisnya berada pada keadaan tercekik oleh putaran waktu. Elana Gomel dalam bukunya yang berjudul Postmodern Science Fiction and Temporal Imagination (2010), menyebutkan keadaan ini sebagai paradoks determinisme. Ia menggunakan simbolisasi ular Ouroboros, sebuah entitas kosmik primordial tanpa diferensiasi yang telah mendahului keruntuhannya dalam pembagian waktu, ruang, dan individualitas. Lebih jauh lagi pada tahap ideologis dan refleksinya terhadap kesadaran manusia akan dimensi waktu, Sore berada pada tahap ironi metaksis atopik. Sebuah istilah yang menegaskan bahwa atemporalitas dan perpindahan yang diinginkan itu sebenarnya ‘mungkin’ meskipun mustahil. Dalam sebuah jurnal berjudul Notes on Metamodernism, Timotheus Vermeulen dan Robin Van Den Akker (2010), menyebutkan bahwa kesadaran manusia akan dimensi waktu dalam pendekatan metaksis atopik ini penuh ambivalensi. Ambivalensi atas segala sesuatu yang mungkin telah terlihat jelas batas dan tepinya. Tetapi manusia justru memiliki ambisi penuh untuk melewatinya. Dalam konteks Sore, perjalanan waktu dan usaha-usahanya, dalam garis tertentu seharusnya tidak akan mengubah apa pun, karena masa kini, masa depan maupun masa lalu telah termaterialisasi dan akan berulang secara kontinu. Hal ini sama halnya dengan mengejar cakrawala yang selamanya surut.
EPILOG
Lupakan semua omong kosong saya di atas, saya pikir Yandy Laurens paham betul tentang permainan ini. Tercatat dari permainannya melakukan metafiksi di ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-film’ sebelumnya memberi sinyal bahwa ia punya cara yang unik dalam bertutur melalui sinema. Sama halnya dengan ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ dan segala batas sureal yang ia sengaja tabrak, dan bagaimana memori dalam semesta diegetis digambarkan begitu megah dan dramatis. Begitu pula dengan romansa antara Sore dan Jonathan pada tahap tertentu melewati batas bingkai fiksi dan setidaknya berhasil membuat film ini terus dibicarakan dari berbagai perspektif. Pengalaman sinematis menonton film ini untuk pertama kalinya saya rasa cukup menggembirakan dan memberi angin segar, terutama dalam koridor cara bertutur, baik dalam tahap ideologis maupun strukturnya. Aspek sinematografi dan sonor yang dihadirkan saya rasa tidak ada yang percuma, bahkan pemilihan lagu ‘Terbuang dalam Waktu’ milik Barasuara dalam film ini sama krusialnya dengan topik yang dibahas. Film ini layak untuk ditonton dan dibicarakan kembali dalam spektrum yang lebih luas, dari berbagai perspektif, dan dari berbagai medium resepsi penontonnya.





