Space Invasion: All The Things We Never Said In Inertia Intimate Showcase

Share

Bunga-bunga Mekar dan Kuncup dalam Satu Malam

“Bunyi-bunyian sipongang memantul dan bergaung pada empat sisi tembok aula, kemudian diserap sebagai pemicu perjalanan transenden oleh kerumunan yang menunduk pada muka altar, beberapa orang sesenggukan.” (Yanto Gadil, 37 tahun, Anggota Dewan Kesedihan Banyumas)

Prolog

            Sudah menjadi hal lumrah, Hetero Space Purwokerto jadi ruang dengan aktivitas gelaran kegiatan kolektif dan komunitas paling masif di kota ini beberapa tahun ke belakang. Tidak terkecuali bagi kolektif salah arah (Heartcorner) dan beberapa rekanan serta produk pendampingnya. Kolektif ini menutup deretan penyelenggaraan gigs pada 2025 dengan manuver sentimentil, yang harusnya cukup untuk sekadar meninggalkan jejak pada spektator sebagai radar di gelombang kejut berikutnya. Opini ini terlintas beberapa menit setelah gelaran ‘Space Invasion’ selesai pada 6 Desember kemarin. Seperti biasanya, sekejap selepas gelaran usai, beberapa dari kerumunan berkumpul berkelompok, sesi remeh temeh (ramah tamah) siap dimulai. Mulai dari mereka yang memberikan penilaian soal teknis pertunjukan, testimoni perasaan, atau sekadar guyon gogon (gosip-gosip underground) menghabiskan sisa miras. Meski remeh temeh, aktivitas ini sama perannya dengan durasi pertunjukan dalam hal merawat geliat kolektif di kota ini.

            Sepanjang 2025 kolekif ini telah menggelar sekurang-kurangnya enam gigs pertunjukan musik di Hetero Space. Mulai dari ‘Road to: Back to Struggle #8’ pada bulan Februari, ‘Record Store Day’ pada bulan April, ‘Dead Pop Society’ dan ‘Musyawarah Hujan Orang Mati’ pada bulan September, ‘Blissteria’ pada bulan November, dan diakhiri oleh ‘Space Invasion’ pada bulan Desember yang sekaligus mengakomodir intimate showcase In Inertia, sebuah unit post rock/ambient dari Jakarta. Jumlah ini bukan berarti sedikit, namun tidak juga terlalu banyak untuk gelaran gigs skala kecil di ‘kota’ yang isunya jadi incaran investor dan percepatan gelombang kebudayaannya yang terus bergerak meski tidak sekencang itu. Apabila melihat dari jumlah tiket yang terjual dan keperluan produksi pertunjukan dari enam gigs tersebut, slogan ‘Indie Jaya Rugi Selalu’ tentu masih jadi barang sakral yang belum boleh bergeser bahkan satu atau dua rupiah. Namun repetisi ini yang semakin membangun opini saya akan harapan pada radar gelombang kejut selanjutnya, pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Radar Pada Radius Tertentu

            Berbicara tentang laporan pandangan mata, tentu akan terasa pada garis subjektivitas tertentu, terlebih saya datang dengan tujuan mendokumentasikan gigs tersebut. Saya dan teman-teman dengan kamera di tangan tentu mencoba untuk memanipulasi momen, bahkan pada situasi dan atmosfer yang hampa. Namun dari apa yang saya rekam, terlihat peralihan mencolok yang sebenarnya sudah mulai terasa dari beberapa gigs ke belakang, namun baru saya sadari kembali di gigs ini. Hal tersebut adalah wajah-wajah yang belum begitu familiar beredar di sebuah gigs kolektif salah arah ini. Tidak hanya materi dari penampil yang patut diapresiasi, wajah-wajah ini juga selayaknya penyegar lini masa pada kerumunan lingkaran ini. Bahkan sebaliknya, otokritik pada kolektif ini terus digaungkan, apakah selama ini terlalu fokus pada kotak kecil terbatas, sehingga bahkan kehilangan peluang untuk melakukan peremajaan.

            Ada variabel asumsi yang terlintas, bahkan paling mudah untuk diterka, yakni nama besar penampil pada gelaran tersebut. Poin ini cukup krusial, pasalnya mengingat sebelum ini sudah ada Niskala sampai Majelis Lidah Berduri yang meninggalkan jejak pada lintasan yang sama, dan tentunya penyelenggara yang sama. Kali ini giliran In Inertia yang menyambung jejak tersebut, sekaligus menamatkannya babak pada periode temporal tahun ini. Variabel ini tentu sulit untuk disanggah, dan tak ada keperluan untuk menyanggahnya. Bahkan pada babak In Inertia ini, beberapa kali saya mendengar selentingan penonton yang mengenal unit ini dari aktivitas dan kemunculan mereka di sosial media, terutama pada platform TikTok. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang baru pertama kali datang ke sebuah gigs.

Perkenalan seseorang dengan musik memang bisa datang dari mana saja, terlebih pada pola distribusinya hari ini. Sampai pada momen musisi terebut mengunjungi sebuah kota tertentu dan diselenggarakannya sebuah pertunjukan. Kemudian, pendengar baru mereka memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara langsung, sekaligus kesempatan terpapar musik lainnya, serta terpapar geliat skena di kota mereka. Pada momen itu, radar pada radius-radius tertentu punya potensi untuk semakin meluaskan gelombangnya.

Polinasi pada Tunas Bunga

            Tidak perlu diragukan lagi, In Inertia tampil maksimal pada malam itu, terlihat bahwa mereka telah matang dari segi teknis maupun wacana dalam memainkan musik mereka secara langsung di panggung, dihadapan pendengarnya. Kerumunan berkumpul di depan set bunga-bunga yang diinstalasi pada tepi panggung. In Inertia memainkan nomor terbaiknya, kerumunan tertunduk, tak kuasa mendayung perasaan dari gelombang musik mengawang-awang, beruntung tidak ada yang kesurupan. Begitu juga dengan Marryane, Sadstory on Sunday, serta Surn yang bertemu dengan pendengar-pendengar baru mereka pada malam itu.  

Catatan ini juga merupakan hasil kaji aktivitas H. Gibran (Surn), yang menghabiskan jatah salaman satu tahun dalam semalam. Dari hasil perbincangan batin dan sukma dengan beberapa band tersebut, mereka mengaku bahwa cukup banyak berkenalan dengan pendengar baru, sampai pada tahap saling mengikuti di sosial media mereka masing-masing. Bak taman bunga, lawatan In Inertia malam itu layaknya kumbang atau kupu-kupu yang membantu proses penyerbukan sehingga bunga-bunga baru bermekaran dalam semalam. Mungkin ini yang menjadi wacana dialektika yang mereka bawa, bahkan yang saya rasakan saat mewawancarai mereka. Pada saat mereka menyebutkan telah mendengar satu dua musik dari kota ini, cukup menandakan bahwa mereka punya sisi eksplorasi lebih, terlebih perihal dialog, terutama pada kota yang akan mereka sambangi. Hal tersebut menyiratkan radar yang disuarkan pada geliat-geliat kecil kota ini punya potensi meluas, meskipun sinyalnya kecil, bahkan beberapa kali hampir kehabisan daya.

Pertemuan-pertemuan pertama dari berbagai persona ini tentu memunculkan impresi tentang semua hal yang terjadi pada malam itu. In Inertia menutup malam itu dengan kehangatan dan pengalaman auditoris yang magis, membangun impresi yang mengikat, baik dari penampil, penyelenggara, maupun penonton.

Epilog

Boleh jadi geliat ini jadi kontra narasi dan penyeimbang gigs di Purwokerto yang ‘harus Hardcore’ beberapa waktu belakangan ini, namun apa pun bentuk musiknya, dan kolektif mana pun yang menjaganya, semuanya berhak untuk tumbuh dan mekar. Tentang bagaimana kota ini akhirnya akan memperlakukan kita semua yang bergeliat di dalamnya adalah urusan lain. Provokasi akan tetap dilakukan, wacana akan tetap dibicarakan, bahkan pada dentuman kecil atau lorong tergelap sekalipun. Selamat pada kolektif salah arah dan semua pihak serta produk pendukungnya, untuk mencoba tetap waras. Perihal gelombang kejut berikutnya tidak lebih dari sekadar potensi dan harapan. Tahun depan tentunya tetap seperti biasa, ora ngapa-ngapa. (FF)