Malam Jumat Penuh Berkah: Foo Fighters Kembali Hadir Setelah Tiga Dekade!

Share

Kamis Pahing, 10 Rabiul Akhir 1447 Hijriah, 9 Bakda Mulud 1959 Dal, saya mengawali hari ini dengan ‘kedagar-dagar’. Waktu menunjukan Pukul 09.07 WIB, ketika Game Dota saya baru memasuki menit awal permainan, padahal pukul 10.00 saya sudah harus berada di Stasiun Kereta Api Purwokerto, karena hari ini (2/10) rencananya saya akan bertandang ke ibukota untuk menyaksikan pementasan dari grup musik asal negara barat, Amerika, yang hari ini mampir ke Indonesia dalam agenda tour Asia-nya. Ya! Foo Fighters.

Tiga dekade berselang, akhirnya Foo Fighters kembali untuk menyapa pengemarnya di Indonesia. Tahun 1996 merupakan tahun kali pertama Foo Fighters menginjakkan kakinya di Indonesia, merasakan dan menghirup udara ‘semromong’ khas negara khatulistiwa yang mungkin setelahnya membuat mereka kapok dan baru kembali setelah 29 tahun lamanya. Waktu itu, band asal Seattle yang baru berusia dua tahun ini hadir menjadi bagian dari Festival Alternative Nation bersama penampil lain yakni Sonic Youth dan juga Beastie Boy. Berbeda dengan saat itu, kali ini Foo Fighters hadir untuk melakoni Tour Asia, yang membuat Indonesia terpilih untuk menjadi first stop tour mereka, sebelum keesokan harinya akan menggebrak Singapore, kemudian disusul Jepang setelahnya.

Kembali pada momen ‘kedagar-dagar’ saya, akhirnya setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, tibalah saya di Carnaval Ancol yang menjadi venue untuk acara peribadatan hari ini. Entah kenapa, Ancol dan Ravel Entertainment sepertinya sudah menjadi paket yang tak bisa dipisahkan, ‘seperti langit dan birunya, seperti diam dan emasnya.’ Saya tiba tepat pukul 17.10 WIB, saat orang orang sudah mulai berdatangan dan mulai menyerbu booth yang ada, dengan satu yang paling mencolok yakni booth merchandise, membuat saya membayangkan jika band-band yang tumbuh di kota kecil saya mendapat momen dan kesempatan yang sama saat mereka menjual merchandise mereka. Tidak ada yang spesial pada layout dan konten yang ada pada acara ini, yang secara umum masih sama seperti acara-acara besutan Ravel Entertainment lainnya.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB, saya sudah ‘mapan’ di tempat terbaik bersiap untuk menikmati pementasan yang dijadwalkan akan dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit, bahkan dua puluh menit, tetapi masih tidak ada tanda-tanda Dave Grohl cs akan masuk untuk memulai acara. Sayu-sayu hanya terlihat crew yang berada di samping panggung nampak sibuk menunjukkan gestur sedang menyetem gitar yang entah itu akan berada di tangan siapa. Seandainya saja mereka tahu lagu ‘Semua Tentang Kita’ milik Peterpan, mungkin proses stem-menyetem ini akan berjalan lebih cepat. Hingga tiga puluh menit berselang sejak jadwal semestinya, pertunjukan belum juga dimulai. Justru malah rekan sesama penonton di sebelah saya yang sudah memulai acara versinya sendiri dengan ‘jackpot’ tiba-tiba, membuat suasana sedikit tidak nyaman untuk para penonton di sekitarnya. Untungnya momen ini tidak bertahan lama karena di tengah ketidaknyamanan yang terjadi ini, tiba-tiba terdengar suara gitar dari atas panggung yang ternyata itu berasal dari gitar milik Dave yang mulai berlarian naik keatas panggung diikuti personel yang lain.

Its been a looooong time,” ujar Dave sembari menatap tegas ribuan pasang mata yang ada di tempat ini. Seluruh penonton bergemuruh. Bagi saya sendiri, ini adalah momen yang cukup luar biasa, melihat Dave Grohl di depan saya dengan aura bintangnya, membuat saya seketika berteriak ‘kyaaaaa, Dave-kun’. Asap yang tertiup dari smoke machine, lampu dominan biru yang terpancar, teriakan penonton yang menggelegar, mengiringi petikan gitar Dave yang terus berkumandang sedari tadi hingga akhirnya menyambung pada riff ‘All My Life’ yang langsung dimainkan menjadi tembang pembuka pada malam ini. Kemudian disusul ‘Times Like These’ dan ‘Rope’ sebagai lagu kedua dan ketiga yang membuat semua yang hadir malam ini bersorak menggelinjang tidak karuan. Sebagai speech pembuka, Dave menyampaikan, “Terdapat kota yang jaraknya 5 tahun kami manggung, ada kota yang jaraknya 10 tahun, bahkan ada kota yang jaraknya 20 tahun kami manggung, tapi disini, dikota ini, kami tidak manggung sudah hampir 30 tahun! Dan terakhir kami kesini kami hanya punya 12 lagu, tapi sekarang kami punya banyak. Jadi bersiaplah untuk menari malam ini, karena malam ini akan menjadi malam yang panjang!” beriring dengan semangat penonton yang kian menggebu setelahnya.

Seakan enggan memberi rehat untuk kami, petikan gitar intro dari lagu ‘The Pretender’ kemudian langsung digeber untuk melanjutkan aksi mereka malam ini, membuat saya pribadi sedikit khawatir sudah kehabisan nafas bahkan saat penampilan mereka belum sampai setengah jalan. ‘The Pretender’ sendiri merupakan Top List lagu Foo Fighters yang paling saya sukai karena lagu ini cukup sentimentil bagi saya. Penampilan terus berlanjut, kali ini dari album “Concrete and Gold” yaitu ‘La Dee Daa’ yang dipilih untuk menjaga suhu Carnaval Ancol tetap panas malam ini. Disela penampilan, tidak lupa terdapat momen bagi Dave Grohl memperkenalkan satu persatu personel yang mungkin beberapa dari kita sedikit sepakat, kalau terkadang para personel ini lebih terasa seperti additional player yang mengiringi Dave Grohl bermain, ketimbang terlihat sebagai personel dari Foo Fighters itu sendiri. Hal ini disebabkan mungkin karena persona dari mantan drummer Nirvana ini terlalu kuat, atau memang karena sejak awal ini merupakan proyek solo Dave Grohl selepas kepergian sahabat sekaligus rekan satu bandnya yaitu Kurt Kobain. Perkenalan personel berjalan cukup seru, diiringi candaan dari Pat Smear dan unjuk skill dari Chris Shiflett. Sementara Nate Mendel dan Rami Jaffee memilih untuk tidak bereaksi lebih saat perkenalan. Satu yang paling menarik jelas saat perkenalan pengisi drum untuk tour dan aktifitas band setelah ini, karena kita semua tahu pasca dipecatnya Josh Freese pada Mei 2025 kemarin, belum ada yang benar-benar bisa memastikan siapa pengganti Josh untuk posisi drum. Adalah Ilan Rubin, nama lama yang akhirnya diperkenalkan sebagai drummer untuk mengisi posisi tersebut. Sebagaimana kita tahu, Ilan merupakan drummer berbakat yang pernah aktif juga di beberapa band seperti NIN, Paramore, serta Angels and Airwaves.

Satu demi satu lagu andalan terus dimainkan. ‘Walk’ yang selanjutnya dipilih untuk mereka habisi, ternyata disajikan dengan sedikit aransemen yang berbeda, dimana justru hal itu membuat nuansa lagu ini menjadi lebih berkobar. Adalah Ilan Rubin, yang benar-benar memberikan energi luar biasa pada penampilan Foo Fighters malam ini. Meskipun energi Taylor Hawkins tak akan pernah terganti, tapi hadirnya mas-mas yang memiliki teknik mukul hi-hat-nya dengan gaya unik ini membawa nuansa yang lebih atraktif dalam penampilan Foo Fighters di Jakarta. Setelah ‘Walk’ dilibas habis, diawali dengan kebiasaan mengguyur kepala ala Dave Grohl, kini saatnya ‘Learn to Fly’ yang disajikan untuk kami semua. Suasana semakin intim, ketika lagu bersejarah seperti ‘Big Me’ juga dimainkan dalam rangkaian set yang sebagaimana dijanjikan oleh promotor di awal, bahwa konser kali ini akan spesial dengan set list lagu hits dari album pertama hingga akhir.

Foo Fighters being Foo Fighters. Lagu demi lagu yang dibawakan seakan enggan disampaikan apa adanya sesuai format dari album-album mereka. Biarpun simple, tetapi hampir semua lagu disajikan dengan berbagai isian dan aransemen tambahan. Entah itu melodi pada gitar, fill ganas dari Ilan, atau bahkan permainan effect dari Rami, membuat penampilan mereka malam itu menjadi lebih kompleks. Tak jarang juga Dave melempar candaan dan gestur-gestur aneh pada sela lagu untuk sekedar menyemangati pinggang kami semua yang malam itu nampaknya sudah mulai kelelahan setelah lagu ke-15. Sampailah pada lagu ‘Best of You’ yang dibawakan sebelum akhirnya seluruh personel pergi meninggalkan panggung untuk beristirahat, meninggalkan para penonton yang terus berteriak ‘we want more’ meskipun mereka sebenarnya tahu pertunjukan ini belum benar-benar selesai

Satu persatu personel Foo Fighters kembali mengambil alat mereka dan bersiap kembali memaksa kami ber-cardio malam ini. Adalah ‘Alone+Easy Target’ yang riffnya dikocok pertama kali untuk membuka encore, seraya Dave mengucapkan terima kasih kepada khalayak yang hadir, dan terus berlanjut hingga ‘Monkey Wrench’ disajikan beriring teriakan penonton dan gerakan yang sedikit lebih liar dari sebelum encore tadi. Seakan memberikan penghabisan kepada sisa-sisa nafas yang dimiliki. Tensi yang tetap terjaga ini, akhirnya sampailah pada ujungnya, ditandai dengan sudah dimainkannya intro dari lagu andalan mereka yakni ‘Everlong’ dari album “The Colour and the Shape“, menandakan aliran pertunjukan ini sudah sampai pada hilirnya, mengakhiri malam singkat dengan penantian panjang yang entah kapan akan terulang kembali.

Koda pada ‘Everlong‘ sudah terlewati, sorak sorai dan tepuk tangan penonton bergemuruh dari semua sudut, pertanda ini sudah benar-benar selesai. Seluruh personel meninggalkan alat mereka untuk berkumpul diujung panggung dan mengucap terima kasih kepada penonton yang hadir. Mereka menyampaikan kekagumannya pada energi yang penonton hadirkan untuk mereka, bahkan setelah hampir tiga puluh tahun mereka tidak pernah kesini. Tidak ada aksi lempar stick, set list, dan bahkan pick pada ujung acara ini. Foo Fighters langsung menghilang begitu saja setelahnya, dilanjut para crew yang terlihat langsung sigap untuk membereskan alat sisa permainan malam ini. Saya pun bergegas balik haluan dan fokus mencari bakul minum karena telak saya sudah meronta-ronta.

Ya! Begitulah acara ini berakhir. Dengan durasi total lebih dari dua jam, Ravel Entertainment kembali menyuguhkan acara yang istimewa untuk kami karena mendatangkan salah satu band legendaris yang sudah tiga dekade tidak pernah datang ke Indonesia. Meskipun tidak ada yang sempurna, tapi malam ini tetap menjadi malam penuh berkah yang mungkin hanya terjadi satu kali selama saya hidup. Dewasa ini, penampil internasional datang dan bermain di Indonesia sudah menjadi hal yang umum. Tetapi melihat aksi Dave Grohl, mungkin tidak akan terjadi dua kali! Sekian perjalanan singkat ibadah malam Jumat yang cukup mabrur ini. Semoga kedepan perhelatan skala internasional semacam ini bisa terus berkembang serta terjaga konsistensinya, dan bahkan bisa menyentuh garis batas yang lebih luas lagi ke daerah-daerah selain ibukota.

Bismillah Heartcorner bisa, yuk! Undang Converge mentas di Hetero Space. (NKD)