MIASMA TAHUN ASU 2024: CATATAN AKHIR TAHUN

Share

Beberapa jam yang lalu 2024 telah berakhir dalam kalkulasi kalender masehi. Tahun 2024 terlalu jauh untuk dikonversi sebagai sebuah periode menggembirakan, meskipun tidak bisa dinobatkan menjadi periode yang tragis. Namun, karena kebingungan itu 2024 menjadi sebuah periode yang sangat melelahkan.

Dalam berbagai ensiklopedia ilmu pengetahuan konon terdapat lebih dari dua puluh zona waktu di seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya tidak mungkin membuat selebrasi pergantian tahun dilakukan serempak. Dalam periode satu tahun, tahun apapun dan kapanpun, miliaran peristiwa beruntun terjadi setiap hari. Mulai dari kabar negara, kematian, bencana alam, geger politik, ricuh ekonomi, arketip dan disrupsi populis, serta adegan-adegan ranjang lainnya. Meskipun terdengar klise karena setiap periode punya repetisi serupa yang memaksa bergerak dalam metanarasi pengejar cakrawala, namun bukankah demikian tugas manusia: mengulang segala sesuatu yang pernah dilakukannya sepanjang hayat?

Saya akan memberikan contoh pengalaman pengulangan tersebut dalam beberapa bab di tulisan catatan akhir tahun sekaligus pembukaan tahun ini.

I. PENGULANGAN RASA KONTEKSTUAL

Tulisan ini saya beri judul meminjam “Miasma Tahun Asu”. Dalam ingatan kita bersama yang mungkin memiliki kesukaan untuk mengulang ketertarikan pada musik, judul tersebut merupakan lema yang dijadikan judul album kuartet bising “BAPAK.” Empat tahun lalu, pagebluk menjadi teror sentimen yang ironisnya efeknya terasa dominan sampai detik ini. Pada saat itu dimensi ruang dan orang terus menggulung sebagai korpus yang selalu layak untuk dibicarakan, bagaimanapun model dialektikanya.

Uniknya hari ini saya merasakan perasaan yang sama dengan apa yang terjadi dengan empat tahun lalu, meskipun tidak dengan perasaan sepenuhnya sama. Saat masa pagebluk orang dipaksa untuk menjadi melambat dalam tahapan yang sangat ekstrim. Setelahnya ketika Purwokerto mencoba untuk melangkah pada ritme standarnya, ia seperti belum mampu mengembalikan hal tersebut.

Ketika kota, manusia, kapital, dan apa sajalah yang menjadi penopang kehidupan kota di luar sana mulai bisa mengembalikan ritmenya, kota ini masih saja terlihat tertatih-tatih. Ia tersengal dalam nafas yang terdengar mengerikan. 4 tahun setelah semua diharuskan kembali normal, kota ini disemen diam pada tahun 2020.

II. PENGULANGAN RASA INFERIOR

Beberapa hari yang lalu saya sempat mencuit tulisan tanpa struktur di ‘X’ tentang kota ini, tentunya dengan interaksi yang paling mentok di sepuluh orang. Hari ini saya mempertanyakan ulang apa yang telah saya cuit.  Ada apa dengan wacana kemapanan? Ada apa dengan mobil mewah yang terlihat sering melintas? Ada apa dengan trotoar yang penuh dengan krat modifikasi? Ada dengan lelang agunan? Ada apa dengan uang yang diputar di klub malam? Ada apa dengan upah dan sound system empat puluh ribu watt? Ada apa dengan album musik, judi kesenian, dukun tronik, dan umpatan khas kabupaten? Apakah kota ini malas? Ataukah ia memang cenderung inferior?

Pertanyaan-pertanyaan di atas muncul secara personal dan sentimental. Ambivalensi dari tahun-tahun sebelumnya tidak berubah. Kesalah pahaman atas tafsir dalam beberapa kejadian sering dilakukan, namun rasanya tetap terasa ambigu. Dalam pengalaman personal, pengulangan-pengulangan kegagalan serupa penyakit menular bagi saya dan orang-orang di sekitar: berhasil menyelesaikan angsuran satu dan terjun pada angsuran lainnya, bisnis membaik dan bangkrut dalam kurun waktu berdekatan, melihat pencapaian serta kegagalan secara berganti. Berulang dan berimbas pada diri sendiri maupun orang-orang terdekat.

Kota ini semakin hari semakin mengikat nyaman namun semakin menakutkan dalam waktu yang bersamaan. Barangkali pemetaan spasialitas ini menuju pada kondisi solastalgia, atau kita yang memang belum layak untuk berspekulasi bahwa kota ini layak memahami bombardir narasi yang setiap hari tertangkap indera melalui berbagai perangkat propaganda.

Di beberapa bulan terakhir tahun ini saya melihat begitu banyak kegaduhan di Kota yang malas ini. Ada orang yang dengan berapi-api mencoba menjaga nama baik ‘Kota’ dari gempuran kebodohan penyelenggaraan pagelaran. Ada remaja yang dikeroyok massa karena gagal menafsirkan aktualisasi diri menjadi tindak kriminal. Dan selalu ada hutang yang menggulung serta upah yang telat ditunaikan. Uang, masih tegas berdiri sebagai sumber kebahagian dan duka, bagaimanapun konversi serta nilai tawarnya. Kebenaran ini terus diproduksi pada koridor wacana dominan sampai di ruang komunal terkecil. Kemapanan kemudian dijadikan satu-satunya kaca pembesar untuk memahami peradaban bagi kebanyakan orang.  

Beberapa jam sebelum menulis tulisan ini saya baru saja menyelesaikan seribu empat ratus enam puluh tujuh kata siaran pers tentang pembentukan asosiasi penyelenggaraan event musik di Purwokerto. Tulisan tersebut tidak lebih dari sekadar reportase apa yang terjadi saat konsorsium berlangsung: Perihal respon terhadap beberapa kasus penyelenggaraan event yang bobrok, terutama pergerakan “Mahasiswa” yang di permukaan terlihat berlomba mendatangkan artis besar ke dalam kota ini tanpa menafsirkan dialektika yang terjadi di kota ini.

Di dalamnya tidak akan ditemukan jawaban atas pertanyaan Apakah kota ini sudah layak dibombardir gemerlap wacana kota metropolitan? Apakah kota ini sudah sepantasnya dibela habis-habisan meski babak belur pada akhir tiap episodenya? Apakah kota ini telah matang sebagai ladang dari berbagai lapisan ideologinya? Tulisan itu juga tidak memberikan lanjutan dari apakah kemudian luapan-luapan ini sekadar isapan komoditas? Kemudian bagaimana nasib baik bekerja sama dengan kerja keras? Lantas bagaimana invasi kekayaan beralih dari jalan raya ke jembatan gantung? Juga bagaimana kekhawatiran pekerja lepas dapat berakhir?

Riak kecil berupa geger dan darurat panggung hiburan yang terjadi belakangan di kota ini entah kenapa sejalan dengan semakin mengecilnya ekosistem produksi musik di Purwokerto. Tidak banyak musisi lokal yang merilis album. Tidak banyak musisi ataupun pergerakan dari kampus yang signifikan muncul di permukaan. Sedangkan upaya konsumsi arus utama terus menggulung hingga membuat anak-anak muda benar-benar kekenyangan tanpa mampu memuntahkan asupan-asupan yang dijejalkan secara paksa itu.

Beberapa kali perbincangan dalam koridor kolektif hanya berhenti pada lema ”potensi”. “Kota ini memiliki banyak potensi dan talenta yang akan menjadi besar suatu hari nanti” adalah kalimat yang sering terdengar terucap dan diamini. Beberapa ”potensi” hampir sampai di suatu hari tersebut, beberapa tetap tinggal di hari yang sama, beberapa mencoba menembus lorong waktu bergerak melawan entropi mundur ke hari sebelumnya. Yang jelas kebanyakan tetap memilih untuk menjadi inferior.

III. EPILOG

Malam tahun baru seluruh sudut jalan raya ramai dengan klakson dan lampu kendaraan. Beberapa tempat menyiapkan terompet, kembang api, dan panggung hiburan. Sebagian besar pekerja dari vendor sound system, panggung, event organizer berharap hujan tidak memberatkan apa yang sedang menjadi ladang mata pencahariannya. Kota yang sedang dipaksa bergerak terlalu cepat ini ramai dalam semalam. Mungkin beberapa gelandangan juga merayakannya, mungkin beberapa ranjang akan dipenuhi air liur dan muntahan. Ada baiknya selebrasi tersebut diluapkan sepuasnya, setidaknya beberapa jam tanpa sadar untuk kembali menghadapi tantangan kewarasan yang menunggu menerkam pada hari-hari berikutnya.

Pembaca yang Budiman, tulisan ini tidak lebih dari ocehan tanpa kerangka yang padu. Hanya sekadar mencoba memenuhi kebutuhan penalaran seribu kata untuk kedua kalinya di sebuah hari secara bersamaan. Bukankah dialog tentang kota ini masih akan terus dibicarakan melalui kanal apapun, terutama bagi mereka yang masih menganggap kota ini adalah ruang krusial sebagai proses terbentuknya wacana? Sampai di kata ke delapan ratus tujuh, tulisan ini diketik dengan sadar di sebuah ruang sejuk pukul lima sore sembari mendengar album ”Hentikan Pernikahan Ini” yang dirilis oleh Harum Manis. Sebelum malam datang, jalanan penuh sesak, seremoni-seremoni kemudian dipersiapkan untuk melengkapi pergantian tahun. Bagi yang masih hidup sampai tahun depan, risiko akan terus bertumbuh sejalan dengan bertambahnya kilometer kendaraan yang kita naiki setiap hari. Besok lusa pagi akan seperti semula, beberapa orang terburu-buru di jalanan yang masih cukup ramah untuk berkendara dengan sedikit lebih kencang. Namun, kota ini sepertinya masih berada di tahun “Miasma Tahun Asu” dirilis.