Thirteen – Aksi


Artist: Thirteen | Album: Aksi | Genre: Metal/Elektronik | Label: SJM – Libraries Music| Tahun: 2018

Menanggung beban yang lebih berat dari kesuksesan segala sesuatu yang terdahulu adalah nyata adanya. Seperti sekuel terhadap “film” pertama, Between The Buried and Me pasca album Colors, Barasuara setelah kesuksesan Taifun dan yang lainnya. Semua yang terlibat dalam pembuatan karya terdahulu yang lebih bagus pasti akan memutar otak bagaimana bertanggung jawab pada karya selanjutnya.

Banyak langkah yang dapat diambil. Contohnya seperti Bring Me The Horizon di tiap eksplorasi albumnya yang berusaha semakin mainstream tetapi “berusaha” untuk tidak menghilangkan benang merahnya. Perkembangan mereka dapat dilacak dari album “Count Your Blessing” sampai “AMO” yang baru diluncurkan kemarin. Meskipun “dibilang” semakin sellout dan jomplang tetapi kesuksesan mereka bisa dilihat dari banyaknya hujatan. Toh, penggemarnya tidak pergi kemana-mana dan makin bertambah.

Dari segi musilakitas, AMO pun terbilang sangat berani untuk band (yang dulunya) metal yang konsernya di Wembley Stadium dan Royal Albert Hall tiketnya laris manis. Tetapi hasilnya pada promo “AMO” di segmen Jimmy Fallon, sing a long terus terdengar di lagu baru yang dibawakan. Jadi, bisa dibilang beban berat selepas “Sempiternal” berhasil mereka bayar tuntas. Cara tersebut memberikan ekses buruk semacam semakin terkenal menjadi sebuah band tetapi merosot secara kualitas. Lebih buruknya, mereka akan ditinggalkan oleh massa dan pendengar sejati mereka.

Saya meyakini apa yang terjadi dengan Bring Me The Horizon juga terjadi pada band metal elektronik terbesar di Indonesia, Thirteen. Mau bereksplorasi seperti apapun, Thirteen Army (sebutan untuk penggemar mereka) tidak akan kemana-mana. PR mereka adalah membersihkan hujatan-hujatan terhadap musikalitasnya karena beberapa hal terdahulu.

PR tersebut berhasil dituntaskan pada tahun 2014 dengan diluncurkannya album mini “Undead”. Album tersebut bentuk harafiah dari ungkapan What doesn’t kill you, makes you stronger bagi mereka. Banyaknya hambatan dan rasa pesimis yang mengarah pada prediksi bubarnya band tersebut oleh beberapa kalangan beberapa tahun semenjak rilisnya “Epidemic”. Tiga tahun penuh asumsi negatif yang terbentuk karena perginya member kunci, hiatus serta lainnya langsung ditampar pada lagu pembuka “We Are The Mountain” yang liriknya berbunyi :

This is just another beginning, god will make a silver lining, put your heads up and take a lead, who the stays is all we need, we just care of what we did, we don’t care who you are, but you know who we are
go ahead make the rain fall, and the riot you can call, but we got something to prove, and we got nothing to lose
we are the mountain, so bring up all the pain, we’re always standing still, we were still and we will spill
its just in our vein, that we are back again, we re always standing still, we were still and we will spill
go ahead make the rain fall rain fall and the riot you can call.”

Lagu tersebut dengan angkuh membuktikan bahwa mereka masih yang terbesar dan terbaik di kelasnya. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta bahwa band yang sejenis dengan mereka bertumbangan tak bersisa.
Dengan kesuksesan album tersebut semakin tinggi pula ekspektasi pendengar baik dari Thirteen Army sendiri maupun khalayak yang lebih luas. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya review yang positif dari “Undead” oleh banyak kalangan. Bahkan teman saya yang cukup snob langsung berkata “…cocote.” Saat mendengarkan mini album tersebut.

Meski tidak sepernuhnya benar, terkadang ekspetasi tersebutlah yang membuat sebuah band harus memutar otak bagaimana memenuhinya. Karena sejatinya sebuah band memang terus dituntut untuk terus berkreatifitas dan memutar otak. Terserah dengan jalan yang mereka ambil mau bagimana. Karena sejauh ini banyak orang yang mengasumsikan bahwa sebuah band harus semakin ndakik-ndakik dari segi musikalitas untuk tiap karya selanjutnya. Padahal, pada kenyataanya ada band yang begitu-begitu saja musiknya namun tetap dinanti seperti As I Lay Dying dan The Black Dahlia Murder.

Dari dua hal di atas antara semakin ndakik-ndakik atau tetap pada “jalurnya”, Thirteen nampaknya masih ingin bereksplorasi menuju ranah-ranah yang belum mereka jangkau sebelumnya setelah sebelumnya mempertahankan gaya bermusik “Undead” pada single “kosong” pada 2015 lalu.
Aksi adalah judul yang dipilih untuk album penuh ketiga yang diluncurkan sejak akhir tahun lalu dan mulai tersedia di platform digital sejak Maret ini. Dengan durasi total selama 26 menit, jika diruntut sejak album pertamanya ini adalah album penuh tersingkat mereka.

Album yang berisi 8 track ini memberikan perbedaan yang cukup signifikan dibanding “Undead”. Jika pada “Undead” menekan bebunyian elektronik yang menjadi khasnya, Kali ini bebunyian elektronik kembali maju kedepan dengan menjamah bebunyian yang tak mereka sentuh atau tinggalkan sebelumnya.

Hal itu terlihat dari dengan ditunjuknya Adi Saptadi dari Easy Tiger sebagai produser dan music director album terbarunya. Selain itu, pemilihan bunyi synth dan keys era kejayaan film sci-fi/cyberpunk 80an seperti Tron dan Blade Runner adalah kunci eksplorasi album ini yang melepas pakem yang membuat mereka sukses comeback pada 2014.

Poin lainnya adalah bagaimana mereka menabrakan sound gitar yang modern dengan bunyi elektronik jadul. Laksana film sci-fi/cyberpunk yang menggabungkan mekanis dengan biologi yang bertentangan namun dapat berjalan bersamaan.
Namun, seperti film cyberpunk yang memang selalu ada konflik karena kedua hal tersebut. Dalam album dengan kover bergaya 80an ini, konflik tersebut tergambar dari pemilihan Adi Saptadi sendiri. Sebagai produser, pemilihan tune clean vocal dan eksekusi akhir cukup yang soft seperti Easy Tiger. Sehingga, kadang terbayang aura Easy Tiger dalam lagunya.
Akan tetapi, jika mengesampingkan hal tersebut, 8 lagu yang tersaji cukup sukses membayar atas penantian 4 tahun Thirteen Army. Oiya, ada hal menarik pada track “selamanya”. Lagu “paling Easy Tiger” tersebut menyelipkan “jakarta story” dan “labil”. Mengingatkan saya pada track penutup album “Pamyu Pamyu Revolution” milik Kyari Pamyu-Pamyu yaitu “chan chaka chan chan” yang di akhir lagu menyelipkan single terdahulu “ponponpon”, “candy-candy” dan “tsukematsukeru.Seketika perasaan nostalgia akan Thirteen terdahulu langsung timbul sebelum lagu selanjutnya menutup album ini.

Menanggung beban berat pasca “Undead”, adalah sesuatu yang berhasil dituntaskan oleh band asal Jakarta ini. “Aksi” adalah sebuah torehan menarik yang walaupun masih belum terlalu matang, sudah dapat memberikan jaminan bahwa Thirteen Army tidak akan kemana-mana dan seharusnya makin bertambah setelah didistribusikan secara luas lewat platform digital.Tentu sayang bukan jika hal semenarik ini hanya dinikmati oleh orang elit dan yang mampu saja seperti plot Hi-Tech, Low Life dalam sebuah film cyberpunk?.(RW)

Previous TIDERAYS: SUSURI LORONG GELAP KEHIDUPAN LEWAT “AT THE ELEVENTH HOUR”
Next Cerita Suka Duka Mahasiswa Lewat “Siurversa” oleh 5678things