Bagaimana jika selama ini kitalah pusaranya?
Apa jadinya jika kitalah tempat setiap duka tercipta?
Temarram, unit darkwave/post-punk dari Jakarta yang terdiri dari Regga Prakarso (gitar), Sherina Redjo (vokal dan synth), Tanthowi (bass) merangkum perandaian di atas ke dalam sebuah single berjudul ‘Pusara‘ yang telah rilis 4 Juli 2025, sebagai pembuka perjalanan menuju debut album penuh Temarram yang akan datang.
‘Pusara‘ adalah pengakuan yang jujur dan sunyi—bahwa serinkali, kita sendiri yang menjadi tempat harapan dan penyesalan dikuburkan. Bukan karena keadaan di luar terlalu gelap, tapi karena ada bagian dalam diri yang pelan-pelan kita biarkan hancur tanpa sadar. Lagu ini lahir dari kesadaran bahwa kelelahan, kecewa, dan kehilangan bisa jadi bukan hal yang datang dari luar, tapi sesuatu yang kita rawat sendiri terlalu lama.
Temarram mencoba menggali lebih dalam ruang-ruang batin yang jarang disentuh—tentang bagaimana luka tidak selalu berbentuk peristiwa besar, tapi bisa muncul dari pilihan kecil yang diulang terus-menerus, hingga akhirnya mengubah arah hidup. ‘Pusara‘ memotret momen ketika seseorang menyadari bahwa ia telah berjalan jauh, tapi tanpa benar-benar membawa dirinya ke mana-mana. Di situ, rasa hampa tumbuh dan menetap.Pertanyaan yang jadi dasar lagu ini sederhana, tapi mengganggu: bagaimana kalau justru kita sendiri yang menjadi sumber dari semua yang tidak selesai itu? Dan lewat musik, Temarram tidak memberi jawaban, hanya ruang untuk mengakui bahwa itu mungkin saja benar.
Kau adalah Pusara yang mengubur cahaya // Kau adalah pusara tempat petaka bermuara.
Berkolaborasi bersama Pandu Fuzztoni (Morfem, Zzuf, Farrt!) sebagai produser, Temarram menghadirkan musik yang mewakili perasaan tersebut dan menyerap kita kepada sebuah ruang hampa berisi penyesalan dan kepasrahan.
Pada sisi karya sampul, Temarram bekerjasama dengan Suvi Karjalainen, seorang seniman asal Finlandia yang merepresentasikan ‘Pusara‘ lewat lukisan ruangan suram, hampa, dan terbengkalai.





