Martini yang Inkompeten, Kita yang Lebih Inkompeten


Bagi orang yang terbiasa dengan keseharian mengamati lalu lalang jalan Purwokerto, ia mungkin tidak asing dengan sesosok perempuan berdandan menor, berbaju dengan paduan warna yang mencolok, dan selembar map. Tak hanya berjalan mengarungi ribuan kilometer jalan protokol di Purwokerto, Ia juga berjalan melintasi zaman dan waktu.

Katanya namanya Martini. Belum tentu juga. Tidak ada yang pernah mencari tahu siapa sebenarnya dia. Minimal dari identitas resminya. Yang banyak beredar hanya mistifikasi tentangnya: seorang imortal, seorang gila, atau seorang-seorang lain yang timbul dari asumsi-asumsi ngawur.

Suatu hari entah karena ingin meruntuhkan mistifikasi-mistifikasi tersebut atau karena hal lain, saya memutuskan untuk menyempatkan diri, mencari, dan mengunjungi tempatnya tinggal bersama rekan saya Rizky Hardianscore. Sebelumnya kami tidak tahu pasti di mana ia tinggal. Dengan hanya bermodalkan foto yang diperoleh dari media sosial dan sedikit informasi bahwa ia tinggal di sekitaran Sungai Banjaran kami memberanikan diri mencarinya. Tak lama berkeliling di sekitaran Sungai Banjaran, foto Martini ternyata mudah dikenali warga yang kami tanyai. Mereka lalu menunjuk ancer-ancer tempatnya tinggal.

Pada checkpoint terakhir berupa pos ronda di ujung jalan, kami menanyai seorang ibu-ibu yang tengah menyapu fajarpeloonya, ehmm, teras rumahnya. Ibu itu tanpa basa-basi berjalan cepat seolah menuntun kami menuju rumah Martini. Ternyata ia berada di rumah. Terlihat ia tengah menunggui seorang tukang yang sedang merenovasi rumahnya. Kami pun disambut hangat dengan senyum lebar di wajah ceria khasnya.

Ketika saya berusaha membuka obrolan dengannya, sebenarnya tidak banyak bekal pertanyaan yang dibawa. Saya hanya ingin berbasa-basi dengannya sambil mencari tahu siapa dia sebenarnya dan bagaimana keadaannya. Akhirnya obrolan kami hanya mentok di kegiatan sehari-harinya. Karena minim bekal pertanyaan, sebetulnya kunjungan kami ke Martini sendiri tidak begitu membawa banyak tujuan. Hanya sebatas basa-basi mengenai kegiatan sehari-hari. Mengingat salah satu tujuan utama saya mendatanginya adalah memastikan kondisinya, tentu akan sangat tidak etis rasanya menanyakan pertanyaan vulgar “kamu waras gak, sih?!” secara langsung kepadanya. Kami mengalihkan pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut kepada warga sekitar.

10 menit berlalu, kamipun berpamitan. Tidak lama memang kami berbincang dengannya. Tetapi kami rasa, informasi yang kami butuhkan sudah lengkap. Usai berpamitan dengannya, kami menyempatkan diri berbincang sejenak dengan tetangga rumahnya. Tentu saja menanyakan pertanyaan inti dari perjalanan hari itu: “Sebetulnya bagaimana kondisi mentalnya?” Menurut penuturan tetangganya, ia memang bisa dikatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa. Tetapi para tetangganya tidak begitu mengetahui penyebab awalnya mengapa ia menjadi seperti itu. Semua tentu memiliki penyebab kecuali ia adalah Tuhan.

*

“Tanya langsung sama bapaknya aja, ya? Itu rumahnya di belakang sini, mari saya antarkan.” Tiba-tiba celetukan itu terdengar.

Tanpa pikir panjang kami mengiyakan tawaran tersebut. Rumah Bapak Martini ternyata ada di belakang rumah Martini sendiri. Hanya beda jalan setapak. Setibanya kami di sana, rumahnya terlihat kosong. Kami ketuk pintu rumahnya, tetapi tidak kunjung menunjukkan adanya orang di dalam. Beberapa menit menunggu, kami sudah hampir putus asa. Terlebih dengan kemampuan srawung saya dan rekan saya yang berada di bawah garis rata-rata manusia sebagai mahluk sosial. Karena menyadari hal itu kami sempat memutuskan untuk pulang. Sebelum niat menjadi kenyataan, tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesosok pria lanjut usia menuruni anak tangga yang menghubungkan jalan setapak ini menuju jalan raya di atasnya.

“Bu, apakah itu orangnya?” .

“Oh, iya! Itu Mbah Marta.”

Mbah Marta adalah nama panggilan Martawiradji. Pria berumur 93 tahun ini adalah bapak dari Martini. Ia langsung membukakan pintu dan menyuruh kami masuk rumahnya. Tanpa basa-basi, ia yang nampaknya telah mencoba menyimpulkan maksud kedatangan kami langsung menanyakan perihal anaknya. Ia khawatir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi menyangkut anaknya. Kami menjelaskan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, karena maksud kedatangan kami hanya ingin mengetahui cerita Martini dengan sebenar-benarnya. Kebetulan sekali Mbah Marta adalah seorang yang ramah. Ia bersedia menceritakan semua.

Bak gayung bersambut, tanpa ditanyai secara detail, Mbah Marta menceritakan semua kejadian yang dialami oleh anaknya hingga akhirnya menjadi seperti saat ini. Martini mengalami trauma mendalam 25 tahun lalu. Kejadian itu diawali dengan pernikahannya dengan seorang lelaki. Mereka dikaruniai 4 orang anak. Suaminya yang berprofesi sebagai pengusaha kredit barang, mencoba peruntungannya dengan berpindah ke kota Medan. Ia memboyong Martini, keempat anaknya, serta salah satu adik Martini.

Upaya mereka dalam mengubah kehidupan menemui berbagai macam kendala. Martini dan keluarga ternyata belum siap. Persaingan ketat, intimidasi, dan diskriminasi kerap dialamatkan pada mereka. Mbah Marta menuturkan jika keluarga mereka di sana bahkan sempat diguna-guna. Pada suatu ketika, adik Martini yang turut ikut ke Medan meninggal menjadi korban persaingan usaha.

Martini muda nampaknya tidak kuat dengan keadaan tersebut. Ia merasa tertekan dan terguncang. Seperti ada tsunami memorak porandakan hati dan pikirannya. Kondisi fisiknya pun mengikuti keadaan mentalnya. Tubuhnya menjadi amat kurus, lusuh, bahkan di beberapa bagian tubuhnya menghitam. Mbah Marta yang mendengar kabar tersebut menyuruh mereka semua pulang kembali ke Purwokerto sambil berharap keadaan membaik kembali seperti semula lagi.

Martini dan keluarganya pulang dari Medan. Mereka berjanji tidak akan kembali lagi ke tempat yang membawa trauma itu. Sayangnya kepulangan fisiknya tidak bisa mebuat keadaan mentalnya turut pulang. Sejak saat itu ia tidak kembali lagi pulang seperti sedia kala. Perangainya sudah berbeda.

Suami Martini yang berprofesi sebagai pengusaha kredit barang memulai kembali usahanya di Purwokerto. Dengan modal seadanya, ia berusaha menghidupi empat anaknya serta Martini yang malang.

Beberapa tahun berselang, usaha yang mereka tekuni menemui jalan buntu. Semua habis, tak ada sisa, tak ada modal lagi untuk memulai sesuatu yang baru. Bangkrut. Suami Martini akhirnya menyerah pada keadaan. Ia kabur dari rumah membawa serta keempat anaknya, meninggalkan Purwokerto, dan meninggalkan Martini yang malang di rumahnya. Peristiwa ini terjadi 25 tahun lalu. Sejak saat itulah Martini disegel dengan mistifikasi-mistifikasi yang dibentuk dan dipoles berulang-ulang oleh asumsi-asumsi orang di sekitarnya.

Mbah Marta mengkonfirmasi mistifikasi-mistifikasi yang dipelihara secara turun temurun hingga serupa mitos di kota ini bahwa Martini mengalami gangguan jiwa itu tepat adanya. Pria kelahiran Bojongsari itu mengajak kami menuju ke sebuah lemari di ujung ruangan tempat kami bercerita. Ketika lemari itu dibuka, ia meraih beberapa foto masa lalu keluarganya. Ia menunjukan kepada kami sosok Martini muda. Ia masih gemuk dan segar. Mbah Marta berkata lirih jika satu-satunya kerabat dekat yang masih tersisa di sini hanyalah Martini dan begitupun sebaliknya. Ia menambahkan bahwa ia memaklumi kondisi Martini saat ini. Mau bagamanapun ia adalah anaknya sendiri.

*

Sebenarnya saya tidak begitu peduli-peduli amat dengan mistifikasi Martini. Kalau kemudian saya berhasil meruntuhkannya dan menemukan fakta, tujuan praktisnya apa buat hidup saya? Tentu saja tidak ada. Tapi satu hal yang mendorong penelusuran ini adalah karena sebuah bank sentral terkemuka di Purwokerto baru saja mengeluarkan sebuah iklan berbentuk video pendek yang mempromosikan proyek baru mereka. Saya tidak akan menjelaskan proyek apa itu, bisa dilihat sendiri pada laman mereka.

Institusi tersebut menggunakan sosok yang mengalami guncangan jiwa hingga bisa dikatan tidak waras dan kesehariannya meminta uang dengan dalih sumbangan sebagai ikon promosinya. Jika kita memposisikan diri bukan sebagai orang Purwokerto dan tidak tahu latar belakangnya, video tersebut akan menjadi suatu terobosan. “Sebuah institusi besar melakukan promosi proyek terbarunya dengan cara di luar kebiasaan”. “Shitposting untuk promosi institusi resmi”. Mungkin itu bisa saja menghiasi headline koran-koran lokal akibat terobosan itu. Tapi jika kita membicarakan target promosi, tentu hal itu akan menjadi pendorong untuk terjadinya misleading. Saya cuma ingin membicarkan hal itu saja. Tujuan saya di atas, membicarakan sisi kemanusiaan Martini, bukan menjadi tujuan utama tulisan ini. Pantas-tidak pantas, elok-tidak elok, tepat-tidak tepat sudah bukan lagi menjadi hal yang absolut. Semua sekarang telah menjadi hal relatif tergantung siapa yang membicarakannya dan apa motif ekonomisnya.

*

Tidak ada satupun aturan di semesta ini yang melarang orang untuk melawak di ranah apapun. Presiden boleh melawak bahwa ia akan membuat kluster orang-orang pintar, Wakil presiden boleh melawak bahwa doa mampu mencegah virus ganas, Sebuah Kabupaten juga bisa melawak melalui logo ulang tahunnya yang kelewat buruk, atau lawakan-lawakan lain yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki wewenang. Sekali lagi mereka boleh melawak. Apapun status sosial mereka. Yang menjadi permasalahan dari sebuah lawakan adalah di mana hal itu disampaikan. Lawakan yang disampaikan tidak pada tempatnya, justru akan membuat lawakan itu makin lucu karena mengekspos satu hal lain: inkompetensi siapapun yang menyampaikannya. Jadi masalah lawakan tidak perlu diperdebatkan.

Sebuah skena boleh saja menghadirkan lawakan menjadikan orang gila sebagai personifikasi mereka. Hal itu mengekspos fakta bahwa skena itu diisi oleh orang-orang yang hampir gila karena tak mampu mengubah keadaan sedikitpun. Juga, sebuah cabang bank sentral boleh saja melawak dengan menjadikan orang tidak waras sebagai personifikasi layanan terbaru mereka. Mungkin mereka sedang menyediakan layanan baru sekaligus siap untuk meremukkannya sesegera mungkin dengan cara menunjukkan kompetensi mereka untuk mendorong konsumennya percaya pada orang yang membawa kecenderungan misleading. Sekali lagi, toh, semua orang berhak melawak. Siapapun dan di manapun.

*

2021 Saya masih tinggal di kota ini. Kota yang sebagian besar warganya mengaku nyaman tinggal di sini. Dengan bangga mereka mengenalkan kota ini ke rekanan luar kota mereka sebagai kota yang ramah, aman, tentram, dan damai untuk ditinggali. Lalu kapan kira-kira mereka akan memerkenalkan kota ini sebagai kota yang menyimpan jutaan keresahan dan kesedihan bagi setiap manusia yang tinggal di dalamnya karena berbagai hal? Salah satunya: inkompetensi. (GNP)

Previous Rightingwrong Merilis Video Musik "Tragedi Fantasi"
Next Munim Gabungkan Musik trap Dengan Guitar Instrumental Melalui EP "It Was a Film"