SIARAN PERS – MUARASUARA


27-28 September 2019

Seni musik eksperimental di Indonesia berkembang secara progresif dalam lima tahun terakhir. Beberapa seniman seni musik eksperimental telah sering mempresentasikan karyanya di luar Indonesia. Selain itu, banyak komunitas yang terbentuk untuk bersama-sama mencari beragam kemungkinan dalam mengeksplorasi dan bermain dengan bunyi yang dihasilkan dari perangkat, moda produksi, maupun hal-hal lain yang memiliki peluang untuk menghasilkan bunyi dan melodi baik bunyi yang dapat didengar maupun bunyi yang bersifat gagasan dan konseptual. Selain beraksi dalam kerja-kerja memproduksi beragam estetika seni musik eksperimental yang memperkaya khasanah dan pengetahuan seni musik eksperimental, komunitas-komunitas ini juga telah bekerja membangun berbagai infrastruktur pengembangan seni musik eksperimental dengan mandiri, seperti, melakukan pendokumentasian dan pencatatan, membuat berbagai lokakarya (workshop), pendistribusian dalam berbagai medium baik analog maupun digital, berjejaring di tingkat nasional dan internasional. Salah satu cara pendistribusian karya-karya musik eksperimental yang telah mereka produksi adalah dengan menyelenggarakan berbagai pertunjukan berskala nasional dan internasional di berbagai kota di Indonesia yang dapat dijadikan barometer dalam mengukur perkembangan seni musik eksperimental di Indonesia. Pertunjukan-pertunjukan yang telah ada di Indonesia antara lain, Jogja Noise Bombing yang dihelat pertama kali pada 2012, Chaos Non Musica di Bali pada 2017, Nusasonic di Yogjakarta pada 2018. Di Jakarta sejak 2017 terdapat wadah yang secara reguler tiap bulan memberikan tempat untuk para pelaku musik eksperimental dalam program Alur Bunyi yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut Jakarta

 

Samarinda merupakan salah satu kota yang memiliki aktivitas eksplorasi seni musik eksperimental yang cukup progresif. Secara kolektif para pelakunya pernah menginisiasi Samarinda Noise Festival dengan menghadirkan seniman-seniman seni musik eksperimental dari dalam dan luar negeri. Kota ini juga melahirkan beberapa seniman seni musik eksperimental yang cukup dikenal di jaringan seni musik eksperimental lokal maupun global. Faturahman (dikenal sebagai Jeritan) yang kerap diundang pada pertunjukan seni musik eksperimental lokal seperti Jogja Noise Bombing dan Malang Sub Noise. SARANA, sekelompok perempuan yang telah tampil di berbagai pertunjukan seni musik eksperimental seperti di Singapura dan Jerman. Theo Nugraha yang karyanya kerap dipresentasikan di wilayah Asia dan Eropa.

 

Selain nama-nama yang telah disebutkan, banyak anak muda Samarinda yang menunjukan minatnya terhadap seni musik eksperimental. Hal ini dapat dilihat dari inisiasi yang mereka buat secara mandiri dalam mempresentasikan karya-karya seni musik eksperimental dengan menggelar berbagai pertunjukan di sela-sela kesibukan harian mereka sebagai pelajar bahkan pegawai swasta. Sebagai wilayah yang terpisah dari hingar bingar keramaian pulau Jawa, Samarinda yang secara geografis berada di tengah Indonesia menjadi peluang sebagai sumber distribusi pengetahuan kultural di Indonesia Tengah hingga Timur.

 

 

Festival Seni Bunyi dan Seni Performans – MUARASUARA

Menurut kamus besar bahasa indonesia kata ‘muara’ diartikan sebagai tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain; sungai yang dekat dengan laut. Pemilihan tajuk MUARASUARA berkaitan dengan keberadaan Sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda. Sungai Mahakam adalah sungai terbesar di Kalimantan Timur dan menjadi muara bagi aliran air yang ditampungnya. MUARASUARA dimaksudkan juga menjadi menjadi penampung identitas kultural masyarakat. Jika merujuk pada perkembangan seni musik eksperimental di Indonesia, kata ini bisa dijadikan sebagai pijakan dan menampung potensi berkembangnya seni musik eksperimental dari segala penjuru.

MUARASUARA merupakan wadah pertunjukan yang membingkai eksperimentasi dalam seni musik, baik dalam eksplorasi bebunyian maupun pada sifat pertunjukannya yang dapat menawarkan nilai-nilai wacana kultural baik di Indonesia maupun kawasan Asia bahkan global. Festival Seni Bunyi dan Pertunjukan 2019 – MUARASUARA menjadi salah satu cara dalam melihat potensi pengembangan seni musik eksperimental Samarinda khususnya serta menjadi laboratorium tempat berlangsungnya kerjasama dan dialog antar ragam budaya melalui seni musik eksperimental, dan juga sebagai medium pendistribusian pengetahuan dan juga pemetaan para pelaku seni musik eksperimental di kawasan Indonesia dan sekitarnya.

 

Program

Program Muarasuara meliputi pertunjukan seni bunyi dan seni performans dan diskusi. Seniman yang mempresentasikan karya mereka dalam pertunjukan adalah seniman-seniman yang diundang khusus dalam kerangka kuratorial seni bunyi dan seni performans. Selain dihadiri oleh seniman yang diundang secara khusus, program ini akan dihadiri oleh komunitas-komunitas dan seniman-seniman lokal Samarinda. Kedatangan komunitas dan seniman lokal ini diharapkan memicu diskusi tentang wacana seni bunyi karena setiap pertunjukan selalu diikuti oleh diskusi mengenai karya yang ditampilkan. Ini merupakan sebuah usaha untuk membuka jaringan kerja sama dan persebaran pengetahuan tentang kritisisme dalam seni bunyi dan seni performans bagi komunitas-komunitas seni di Indonesia.

 

Agenda

MUARASUARA akan diadakan di Taman Budaya Samarinda pada 27-28 September 2019, pukul 19.00 – selesai.

 

Seniman

MUARASUARA tahun ini mengundang seniman-seniman yang berasal dari beberapa negara di Asia. Mereka adalah

69 Performance Club (Indonesia)

69 Performance Club adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh Forum Lenteng untuk studi fenomena sosial kebudayaan melalui seni performans. Didirikan oleh Hafiz Rancajale dan Forum Lenteng. Kegiatan 69 Performance Club berupa workshop dan performans setiap bulan, diskusi, serta riset tentang perkembangan performans di Indonesia. Inisiatif ini terbuka untuk para pemerhati, peminat dan pelaku performans untuk terlibat secara aktif menjadi bagian dari programprogram 69 Perfomance Club. Karya-karya para anggotanya dapat dilihat di www.69performance.club.

Bani Haykal (Singapura)

Bani Haykal bereksperimen menggunakan teks dan musik. Sebagai seorang seniman. komposer dan musisi, Bani menggangap musik sebagai metaphor cybernetic dan projek-projeknya berputar pada mode interface dan interaksi dalam mekanisme feedback/feedforward. Ia termausk anggota dari b-quarter dan kelompok Soundpainting Erik Satay & The Kampong Arkestra. Manifestasi dari penelitiannya berujung pada berbagai macam karya, instalasi, puisi, dan pertunjukan. Selain berkerja sebagai koloborator dan solois, Bani berpartisipasi di banyak festival termasuk MeCa: Media Culture in Asia (Jepang), Media/Art Kitchen (Indonesia, Malaysia, Phillipina and Jepang), Liquid Architecture, dan Singapore International Festival of Arts (Singapura) dan lainnya.

Jeritan (Indonesia)

Jeritan adalah unit proyek experimental noise dari Faturrahman Alifadzri Arham (lahir 1992, Samarinda) yang didirikan pada tahun 2014. Berasal dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Jeritan memulai debut awalnya pada saat berkolaborasi bersama Theo Nugraha dengan menghasilkan 2 (dua) track yaitu, “Obituari” dan “di Kala Kalian Terlelap”. Jeritan memainkan improvisasi bebunyian melalui perangkat elektronik dan sample suara dengan berbagai unsur pengaruh music seperti harsh noise,music elektronik, metal, hardcore, grindcore, hip-hop, free jazz, ambient/drone, dan spoken word. Karyanya berkisar dari rilisan berupa album, split, dan kolaborasi,dalam karya-karyanya kebanyakan bertemakan tentang sosial, emosi, masalah mental, dan film horror yang hampr sebagian besar dirilis melalui label rekaman bentukannya sendiri yaitu Hirang Records, yang berdiri sejaktahun 2015. Jeritan kiat tampil pada perhelatan yang berskala Nasional maupun Internasional, seperti Senandung Rusak, Jogja Noise Bombing Fest 2018, Distorsi Lahir Batin #3, dan pada tahun 2019 telah menjalani tour ke Singapura, Malaysia, dan Batam. Saat ini, selain berkarya sebagai Jeritan, Faturrahman yang mempunyai minat terhadap fotografi, seni kolase, video game, film, dan anime. Juga sehari-harinya bekerja sebagai pegawai di salah satu instansi Pemerintahan.

Kok Siew Wai (Malaysia)

Kok Siew-Wai adalah seorang penyanyi improvisasi, seniman video dan penyelenggara berbagai peristiwa kesenian. Dia telah mempresentasikan karyanya pada program kuratorial video dan pertunjukan di Asia, Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Siew-Wai juga berpartispasi pada festival music, di antaranya, CTM Festival (Jerman), allEars Improvised Music Festival (Norwegia), Asian Meeting Festival (Jepang), Choppa Experimental dan Improvised Music Festival, Playfreely Festival (Singapura), RRRec Fest, Nusasonic (Indonesia). Karya videonya berupa teks dan pertunjukan improvisasi vokalnya “Language of Self” (2011/2014) menjadi koleksi He Xiangning Art Museum di Shenzhen, China. Dia adalah salah satu pendiri dan direktur Kuala Lumpur Experimental Film, Video & Music Festival (KLEX) sejak 2010.

Lintang Radittya (Indonesia)

Lintang Radittya adalah perakit instrument otodidak dan seniman bunyi yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Berlatar belakang Studi Komunikasi (Ilmu Sosial dan Politik) dan Seni Teater, sekarang ini ketertarikannya meliputi DIY elektronik analog, hubungan antara bunyi dan ruang, ketidakteraturan, futurisme jawa, dan pertemuan dari elektroakustik, noise, dan experimental musik.. Dia mengajar lokakarya, membuat pameran, pertunjukan langsung, memberi kuliah, dan membuat instrument dan instalasi unik sejak tahun 2007 dan suka berkeliling ke Asia, Eropa, dan Australia. Pada tahun 2011, dia mendirikan Kenali Rangkai Pakai, sebuah proyek yang berfokus kepada meneliti dan pengembangan budaya DIY synthesizer di Indonesia, dan di 2013 dia menginisiasi Sythesia-ID, proyek yang berusaha mendokumentasikan dan mencatat negera budaya synthesizer (termasuk membuat dan pengembangan). Di 2014, ia bergabung bio-art project Sewon Food Lab. Di tahun yang sama dia juga berpartisipasi di Instrument Builders project help by the National Gallery of Victoria, Australia. Di 2015, dia mempresentasikan “Javanese Modular” synth buatannya sendiri di dalam presentasi public. Konsep presentasinya ialah mencoba dan melawan opini publik dari D.I.Y synth hanya sebagai instrument noise yang digunakan mereka untuk membuat musik yang cocok untuk sebagian telinga. Proyek lainnya adalah Derau EP (2017), Sedekah Bumi Potrobayan (2018).

Naoto Yamagishi (Jepang)

Naoto Yamagishi adalah seorang pemain drum dan pemain perkusi, lahir di Saitama, Jepang. Naoto melakukan pencarian musik sebelum kata dan konsepnya secara resmi didefinisikan. Musik yang bebas dari batasan bentuk, menjelajah di antara tempat-tempat dengan gerakan yang mengalir dan suara yang berasal dari kehidupan sehari-hari – ritme, bunyi merdu dan ruang. Naoto mulai bermain drum sejak umur 13 tahun dan belajar di bawah didikan Takuya Abe di Jepang. Ia berkolaborasi dengan beberapa seniman tanpa memandang genre – musisi, penari, penyair, fotografer, pembuat kaligrafi, seniman perangkai bunga Ikebana dari jepang, dan seniman media dari Jepang dan luar negeri. Proyek utamanya termasuk ‘Shoju’ (松樹)’ dengan pembuat kaligrafi asal Jepang Setsuhi Shiraishi, dan seniman perangkai bunga Oshun Tsukagoshi dan pemain Biwa Rie Fujitaka, ‘En Route’ dengan pelukis Akiko Ueda, dan usva dengan Lauri Hyvärinen & Jone Takamäki (Finlandia) dan lainnya. Naoto telah melakukan tur di Jepang, Eropa, Australia, Kanada, Taiwan dan Indonesia. Ia juga tampil di festival seperti HORS PISTES TOKYO 2011 /HORS PISTES PARIS 2012, Varembert music festival 2011 (Caen, Prancis), (Regensburger, Jerman), Les art à Gahard 2013 (Gahard, Prancis), CLOCKSTOP FEST_NOCI 2015 (Noci, Italia), Himera festival 2015 (Turk, Finlandia), Jogja Noise Bombing 2019 (Jogjakarta, Indonesia).

RxV (Indonesia)

RxV adalah unit Proyek Eksperimental Noise asal Kota Samarinda, Kalimantan Timur yang diinisiasi oleh Muhammad Rovie Andy Pratama atau kerap disapa Ruvi yang lahir pada tahun 2017. Ia kerap menampilkan karyanya dengan permainan eksplorasi bunyi melalui bantuan perangkat elektronik pedal stompbox dengan karakteristik bunyi dan musik harsh noise, ambient/drone, dan spoken word.

Sarana (Indonesia)

Sarana adalah unit Dark Ambient/Experimental asal Samarinda, Kalimantan Timur. Sarana memulai kebisingannya sejak 14 Mei 2015 oleh Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri dan Sabrina Eka Felisiana. Dalam pertunjukkannya, Sarana mengekesplorasi berbagai macam Eleketronik seperti Volca FM,Volca Sample, Kaossilator dan Efek pedal serta alat non-elektronik seperti berbagai macam mainan juga rangkaian spoken word yang berpadu dalam satu kesatuan.

Jonas Engel (Denmark)

Jonas Engel aktif sebagai improviser dan komposer di skena musik Eropa. Karya dan proyeknya berkisar antara musik noise akustik (Solo, Our Hearts As Thieves), musik progresif electronik (Engel/Wildeisen/Høi) dan improjazz kreatif (OWN YOUR BONES, Just Another Foundry). Ia tinggal di Copenhagen dan Cologne, dekat dengan band-nya, aktif sebagai sideman dan coleader dalam bebrrapa proyek di skena musik lokal. Setelah tur Amerika Utara, Selatan, kebanyakan negara Eropa, China, Vietnam, Korea Selatan, ini akan menjadi kali pertamanya berkelana ke Indonesia, mempertemukan musiknya dengan pengaruh musik eksperimental dan skena musik noise di Indonesia.

 

Tentang Penyelenggara

Muarasuara adalah inisiatif beberapa seniman muda lintas displin asal Samarinda yang menjadikan praktik eskperimen hasil bunyi, pertunjukan, film, dan seni visual sebagai media pemebelajaran bersama tentang persoalan-persoalan sosio-kultural kontemporer. Inisiatif ini berusaha membangun jaringan kerjasama dengan berbagai kelompok/seniman yang punya ketertarikan yang sama dalam bingkai aktivisme kebudayaan.

Narahubung

Prashasti Wilujeng Putri (Media Relasi)

prashasti@forumlenteng.org / +6285718000593

Previous Under18 Tak Pernah Padam, Album Keempatnya 'Keep The Faith' Dirilis
Next PURWOKERTO METAL FEST : Asteroid killuminaty / Meski Nostalgia Tak Lagi Menjual, Kibasan Tangan Ala Frank Mullen Tetap Menjadi Ritual.