Album Reviews

“VULGAR” – Joe Million X Senartogok

Kutub telah terpolar, wacana sudah tersebar. Begitu kiranya riak dalam skena hip hop di Indonesia kali ini. Polarisasi tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi dalam kultur Hip-Hop sebagai salah satu bentuk cross culture yang telah lama berkembang di Indonesia. Sebagai petunjuk, tulisan ini akan menyimpan pertanyaan: “Entah Senartogok yang menemukan Joe Million atau Joe yang menemukan Senartogok”. Terjawab atau tidak, bagi saya mereka sudah harus ditakdirkan untuk bertemu. Percayalah, atas nama bapa dan putra yang disemai melalui rahim ibunya, Joe Million mendapat rahim yang kuat dan tepat hingga pada hari lahirnya. Konon, Joe digadang sebagai penerus dari Ucok aka Morgue Vanguard. Tapi dalam pandangan saya itu sangat salah. Dia lebih futuristic dan lebih otentik dari siapapun bahkan apapun. Apalagi

Read More »

“Back In Time” – Last Goal! Party

“Maafkan saya”, adalah kalimat yang saya gunakan untuk mengawali ulasan saya kali ini. Permintaan maaf saya tujukan pada Last Goal! Party(LGP), band yang akan saya ulas albumnya kali ini, berkaitan dengan rasa skeptis dan pesimis saya kepada mereka karena seringnya manggung di pameran baju terbesar di Indonesia. Jujur saja, saya hampir memukul rata yang manggung di sana hanyalah band copycat dari Warped Tour. Seringnya LGP mengcover Bring Me The Horizon dalam setlist mereka dan kecantikan plus keimutan muka inosen vokalisnya, Mustika Kamal, membuat saya mengesampingkan kualitas keseluruhan LGP. Namun, pada akhirnya saya tergugah saat menonton LGP tiga video clip sekaligus yang akan masuk dalam full album perdana LGP yang bertitel “Back In Time”. Hal itu berujung pada sebuah status sedikit panjang

Read More »

“Crimson Eyes” – Sigmun

I Stoner/Doom barangkali adalah salah satu jenis genre musik yang sangat taat menjalin simpul dengan horror. Apapun itu, cerita, film, maupun imaji. Kita pasti telah akrab dengan bagaimana Electric Wizard mengagungkan praktik witchcraft hari-hari belakangan ini, kegilaan okult, dan pemujaan setan secara terang-terangan. Kita juga paham bagaimana Matt Pike adalah seorang disciple of Cthulhu paling taat, pemuja mad architect Abdul Alhazred, dan khatam mengkaji Necronomicon. Jangan sampai terlewatkan, bagaimana doom asal Jepang, Church of Misery, menghadirkan pembunuh-pembunuh berantai dalam kitab biadab mereka yang berjudul “Master Of Brutality”. Sigmun mungkin bisa digolongkan sebagai pengusung Stoner/Doom pada era “Cerebro”. Namun kasusnya menjadi lain lepas mereka merilis full album pertama bertitel “Crimson Eyes” bulan ini. Apa yang saya dapatkan pasca mengamati konten album tersebut adalah sebuah vivid imagery mengenai absurditas, kegilaan, dan pembangkitan entitas transcendental yang mampu

Read More »

“The New Beginning” – Diary Of Alexandria

Tren music seperti Post-Hardcore a la MTV, Metalcore, serta Deathcore sebenarnya sudah sempat mampir di Purwokero sekitar 2007-2009 silam. Seiring perkembangan jaman, tren tersebut kembali hadir di Purwokerto dalam bentuk yang sudah lebih terredefinisi menyesuaikan zaman. Salah satu yang terlihat paling signifikan dari gelombang kedua tren tersebut adalah style music Post-Hardcore yang disusupi bebunyian elektronik seperti bebunyian synth, Electronic Dance Music, serta Deathcore yang mengandalkan groove-groove intens dan clean vocal a la Emo-Mtv. Pendengarnya pun semakin meluas dengan menjamah anak yang masih berstatus murid SMP bahkan SD. Fenomena gelombang kedua tren tersebut seperti menyeruak begitu saja, tiba-tiba, dan secara instan berkembang pesat di Purwokerto. Berkembangnya gelombang tren musik tersebut berbanding lurus dengan berkembangnya skena yang membuat saya berdecak kagum. Sebagai

Read More »

“Oblivion” – Doyz

1, 2, 3, Lets go. Siapkan headset ditelinga dan bersiap untuk melongo. Album kedua dari Doyz Da Noiz yang berjudul “Oblivion” akan membawa anda berwacana. Setelah 13 tahun lalu meluncurkan album berjudul “Perspektif”, maka album kedua ini adalah jawaban atas kelupaannya untuk berkarya. Mungkin itu adalah salah satu alasan Doyz mengambil judul “Oblivion”, disamping banyaknya pembahasan tentang “kelupaan” para hip hop kids tentang hip hop itu sendiri dalam album ini. Di album ini Doyz mempercayakan penggarapan beat kepada Jozzi Gesiradja, sedangkan sisanya Doyz memberikan mandat pada beatmakers yang ia pilih sendiri; Gantazz, J-Beat, Morgue Vanguard dan Jay Beathustler. Oblivion terdiri dari 9 lagu dan 1 instrumen, dengan beberapa lagu yang berisikan kolaborasi dengan Ras Mohammad, Morgue Vanguard (eks-Homicide), dan teman setianya Eric

Read More »

“Dosa, Kota, dan Kenangan” – Silampukau

  Selama ini, selama menulis review album sebuah band di portal ini, saya kerap mengigau, separuh sadar, dan memburu terlalu banyak locus yang saya paksakan untuk masuk dalam tulisan saya. Kadang saya tidak sepenuhnya jujur bahwa saya tidak mampu untuk membahasakan album sebuah band. Atas alasan itulah, saya kemudian secara serampangan memburu dan membahas locus-locus yang sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang esensial dalam album sebuah band yang saya tulis. Syahdan, suatu hari, seorang teman memberikan CD album Silampukau yang berjudul “Dosa, Kota, dan Kenangan” kepada saya. Jujur saja, ketika diberi CD itu, saya sama sekali belum mengenal apalagi secara khusus mengulik siapa itu Silampukau. Namun, judul album mereka benar-benar menohok saya. Singkatnya ketika mendapati judul tersebut, saya yakin bahwa kelak saya akan

Read More »

“Homeward Path” – Vallendusk

  Tidak dapat dipungkiri, Vallendusk adalah salah satu unit black metal paling mumpuni di Indonesia saat ini. Di tangan mereka, komposisi serta penulisan lirik black metal mengalami sebuah peningkatan dan pembaruan mengikuti perkembangan global. Saya akan berangkat membicarakan Vallendusk, terutama album baru mereka, “Homeward Path” dari titik keberangkatan pertama bahwa black metal adalah sebuah disiplin ilmu. Mengapa demikian? Karena black metal, ketika berkolaborasi dengan sebuah disiplin ilmu, mampu memberikan pandangan alternatif terhadap sebuah objek. Ambilah contoh kita membicarakan sebuah objek geografis, gunung. Objek tersebut dapat dinilai melalui kolaborasi disiplin ilmu geografi dan “ilmu black metal”. Dengan kolaborasi dua disiplin ilmu tersebut, sebelum membicarakan gunung, kita akan berhenti sejenak pada pertanyaan pemasti objek berupa, misalnya, “gunungnya Gunung Kavvi atau Gunung Appalachia?” Tak berhenti sampai

Read More »

Lies!, Hands Upon Salvation, Deconsecrate (3 Way Split)

  Apa yang lebih tua dibandingkan pertentangan antara Islam Katolik dan Islam Protestan, ehm..maksud saya Sunni dan Syiah, selain budaya split dalam kultur DIY Hardcore? Saya rasa tidak ada. Kalaupun ada yang lebih tua dari kedua hal yang saya pertentangkan di atas sudah pasti jawabannya adalah obsesi Agnes Monika untuk go international. Kalimat pembuka di atas mungkin kurang tepat untuk membuka review mengenai tiga pemeluk taat dalam sebuah genre yang dinamai H8000 Harcore. Tapi tak masalah, toh nantinya dalam review ini saya akan membahas 3 way split ini sebagai gejala sosiokultural pembentukan sejarah dalam sebuah sistem, sebagai media untuk, istilahnya, comprehensive listening bagi anak-anak yang sekarang sedang gandrung-gandrungnya mengenakan atribut Hardcore, dan sebagai media nostalgia sebuah cara yang sudah sangat tua dalam menyebarluaskan

Read More »

“Unit 109” – HoneybeaT

  Sejak mendengarkan “Oyasha”, yang merupakan album kedua dari HoneybeaT, saya tak dapat melepaskan perhatian dari band ini. Saya yang tumbuh besar dengan musik J-Pop, awalnya pesimis dengan skena musik J-Pop Dimana, skena musik J-pop terlihat stagnan, tidak berkembang dan hanya terbagi pada beberapa komunitas kecil. Bagi saya, HoneybeaTlah yang menyelamatkan skena musik J-pop tanah air. HoneybeaT berhasil menyeruak di skena musik independen beberapa langkah lebih maju dibanding band- band rekanannya. Mereka berhasil untuk tidak tertular penyakit yang menjangkit pada band j-pop yang lain, yaitu hanya bermain di gelaran  musik yang melulu Jepang. Berbagai festival musik mereka jajaki serta nampaknya jadwal manggung merekapun tak pernah kosong. Berbicara mundur mengenai album kedua mereka, “Oyasha”, bagi saya album tersebut sangat bagus dari

Read More »

“The Heat Of The World” – Conscience Revolt

  Consciene Revolt merupakan band dari Majenang, sebuah daerah di pinggiran Kabupaten Cilacap. Majenang merupakan daerah perlintasan jalur selatan menuju kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Daerah seperti ini biasanya menjadi tempat akulturasi berbagai kultur kota besar yang berada di sekitarnya. Tapi bagi saya, yang terbesit dalam pikiran setiap mendapati istilah “daerah pinggiran”, dalam konteks kota dengan sebuah skena musik bawah tanah, pasti adalah banyaknya band di daerah tersebut yang terinfluence band bule semacam Cradle of Filth, Nightwish, dan maestro dari dalam negeri seperti Revenge The Fate serta Burgerkill. Perkenalan saya dengan Conscience Revolt pertama kali terjadi saat teman saya, AA, memasukkan mereka sebagai salah satu band dalam line up Headbanger 2012. Dan saya berkata jujur bahwa apa yang saya jadikan sebagai pembuka

Read More »

“VULGAR” – Joe Million X Senartogok

Kutub telah terpolar, wacana sudah tersebar. Begitu kiranya riak dalam skena hip hop di Indonesia kali ini. Polarisasi tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi dalam kultur Hip-Hop sebagai salah satu bentuk cross culture yang telah lama berkembang di Indonesia. Sebagai petunjuk, tulisan ini akan menyimpan pertanyaan: “Entah Senartogok yang

Read More »

“Back In Time” – Last Goal! Party

“Maafkan saya”, adalah kalimat yang saya gunakan untuk mengawali ulasan saya kali ini. Permintaan maaf saya tujukan pada Last Goal! Party(LGP), band yang akan saya ulas albumnya kali ini, berkaitan dengan rasa skeptis dan pesimis saya kepada mereka karena seringnya manggung di pameran baju terbesar di Indonesia. Jujur saja, saya hampir

Read More »

“Crimson Eyes” – Sigmun

I Stoner/Doom barangkali adalah salah satu jenis genre musik yang sangat taat menjalin simpul dengan horror. Apapun itu, cerita, film, maupun imaji. Kita pasti telah akrab dengan bagaimana Electric Wizard mengagungkan praktik witchcraft hari-hari belakangan ini, kegilaan okult, dan pemujaan setan secara terang-terangan. Kita juga paham bagaimana Matt Pike adalah seorang disciple of Cthulhu paling

Read More »

“The New Beginning” – Diary Of Alexandria

Tren music seperti Post-Hardcore a la MTV, Metalcore, serta Deathcore sebenarnya sudah sempat mampir di Purwokero sekitar 2007-2009 silam. Seiring perkembangan jaman, tren tersebut kembali hadir di Purwokerto dalam bentuk yang sudah lebih terredefinisi menyesuaikan zaman. Salah satu yang terlihat paling signifikan dari gelombang kedua tren tersebut adalah style music

Read More »

“Oblivion” – Doyz

1, 2, 3, Lets go. Siapkan headset ditelinga dan bersiap untuk melongo. Album kedua dari Doyz Da Noiz yang berjudul “Oblivion” akan membawa anda berwacana. Setelah 13 tahun lalu meluncurkan album berjudul “Perspektif”, maka album kedua ini adalah jawaban atas kelupaannya untuk berkarya. Mungkin itu adalah salah satu alasan Doyz

Read More »

“Dosa, Kota, dan Kenangan” – Silampukau

  Selama ini, selama menulis review album sebuah band di portal ini, saya kerap mengigau, separuh sadar, dan memburu terlalu banyak locus yang saya paksakan untuk masuk dalam tulisan saya. Kadang saya tidak sepenuhnya jujur bahwa saya tidak mampu untuk membahasakan album sebuah band. Atas alasan itulah, saya kemudian secara serampangan memburu

Read More »

“Homeward Path” – Vallendusk

  Tidak dapat dipungkiri, Vallendusk adalah salah satu unit black metal paling mumpuni di Indonesia saat ini. Di tangan mereka, komposisi serta penulisan lirik black metal mengalami sebuah peningkatan dan pembaruan mengikuti perkembangan global. Saya akan berangkat membicarakan Vallendusk, terutama album baru mereka, “Homeward Path” dari titik keberangkatan pertama bahwa

Read More »

Lies!, Hands Upon Salvation, Deconsecrate (3 Way Split)

  Apa yang lebih tua dibandingkan pertentangan antara Islam Katolik dan Islam Protestan, ehm..maksud saya Sunni dan Syiah, selain budaya split dalam kultur DIY Hardcore? Saya rasa tidak ada. Kalaupun ada yang lebih tua dari kedua hal yang saya pertentangkan di atas sudah pasti jawabannya adalah obsesi Agnes Monika untuk

Read More »

“Unit 109” – HoneybeaT

  Sejak mendengarkan “Oyasha”, yang merupakan album kedua dari HoneybeaT, saya tak dapat melepaskan perhatian dari band ini. Saya yang tumbuh besar dengan musik J-Pop, awalnya pesimis dengan skena musik J-Pop Dimana, skena musik J-pop terlihat stagnan, tidak berkembang dan hanya terbagi pada beberapa komunitas kecil. Bagi saya, HoneybeaTlah yang

Read More »

“The Heat Of The World” – Conscience Revolt

  Consciene Revolt merupakan band dari Majenang, sebuah daerah di pinggiran Kabupaten Cilacap. Majenang merupakan daerah perlintasan jalur selatan menuju kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Daerah seperti ini biasanya menjadi tempat akulturasi berbagai kultur kota besar yang berada di sekitarnya. Tapi bagi saya, yang terbesit dalam pikiran setiap mendapati

Read More »