Righting Wrong – Utopia: Tentang Keselarasan dan Keteraturan Dunia yang Semu


Artist: Righting Wrong | Album: Utopia | Genre: Hardcore | Label: Samstrong Records | Tahun: 2020

 

Quartet hardcore asal Pekalongan ini akhirnya menetaskan album keduanya setelah 5 tahun terdiam sejak album pertamanya yang bertajuk “Muda Berbahaya” pada tahun 2014 lalu. Kali ini album bertajuk “Utopis” dengan geram resmi dirilis pada awal Maret 2020 berisi 7 track penuh dengan anggukan dan amarah. Merilis Album di tengah pandemi ini menjadi tantangan tersendiri tentang bagaimana karya ini akan berkembang dan tersebar.

Dengan formasi Rezha (Vokal), Saddam (Bass), Umam(Gitar), dan Kemmal (Drum) mereka membungkus album ini dengan cukup segan. Cukup terdengar berbeda dari album pertama terlebih dengan asupan dominasi downstroke pada riff gitar ala heavy metal yang cukup presisi. Sound yang tebal dan nuansa riffing heavy metal ini cukup membuat materi di album kedua terasa lebih berat dan berisi dibanding album pertama.

Tetap menjaga karakter, band ini membalut cover album dengan unsur wayang dan batik yang simetris. Kali ini menggunakan lebih banyak ornamen dibanding album “Muda Berbahaya” yang hanya membawa ilusrasi burung garuda dan penggunaan font dengan unsur aksara jawa. Album “Utopis” ini mereka lebih banyak bermain ornamen detail serta simetris di setiap sisi cover dan kemasan album. Satu hal yang cukup mengganggu saya ketika ingin mendengarkan lagu sambil sekali dua membaca lirik, adalah daftar lirik yang disediakan entah disengaja atau tidak dibuat secara acak dan tidak berurutan sehingga saya harus menebak-nebak mana judul dan lirik untuk track yang diputar dalam CD.

Hal lain yang cukup membuat sedikit mengganjal adalah penyisipan bunyian gamelan pada track terakhir dalam album. Apakah ada alasan tertentu dalam penempatan suara gamelan yang hanya diletakkan di akhir track yang menjadikan cukup “njomplang” dari track-track lainnya, atau hal tersebut dijadikan pembuka untuk sesuatu yang baru yang akan dikeluarkan setelahnya? Produksi dan perilisan album ini dikurasi kembali oleh Samstrong Record seperti pada album sebelumnya. Selain itu, hasil produksi dan progresi chord dan transisi yang disisipkan oleh ketukan drum khas hardcore seperti “Hatebreed” yang terdapat dalam setiap track dalam album tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya.

Konten tema lirikal dalam album ini masih seputar protes dan pemberontakan, namun sedikit menyinggung hal-hal transenden di beberapa track seperti “Tragedi Fantasi” dan “Utopis”. Apalagi bumbu narasi dalam track “Utopis” yang diorasikan oleh Bodhi IA membuat nuansa magis semakin kental. Narasi tidak lebih dari 100 kata ini diucapkan dengan ritme yang cukup cepat menimbulkan rasa seperti mendengar mantra. Dari sudut pandang pendengar saya rasa album Utopis ini secara tema dan konten lirikalnya fokus terhadap pertanyaan kepercayaan dan tatanan yang diidamkan kebanyakan orang saat ini. Pun ucapan terimakasih mereka dalam cover album dalam hal ini cukup lengkap dengan menuliskan terimakasih kepada tuhan semesta alam beserta jajaran malaikat, para nabi dan rosul-Nya.

Lalu menyambung dengan gagasan lirikal yang dibawa, Artwork dengan serba sama sisi nya mungkin menjadi sebuah simbolis bagi segala keteraturan dan keselarasan yang diimpi-impikan. Namun apabila diperhatikan lebih detail tidak semua sudut dalam artwork ini dibuat simetris. Contohnya yang tidak terlalu terlihat mata adalah ilustrasi cover depan yang menurut saya seperti gambaran tokoh wayang duduk bersila yang apabila dilihat sekilas sangat simetris. Lalu setelah diperhatikan lagi ada satu detail yang dibuat berbeda yaitu bentuk genggaman tangan yang sama-sama memegang ilustrasi daun yang sama.

Album yang dirilis dengan durasi 17 menit ini meski singkat terdengar padat karena tanpa basa-basi langsung dihajar dengan ketukan cepat dan teriakan lantang. Hampir saya menyebut kumpulan lagu ini sebagai EP, namun setelah melihat press rilis dan keterangan rilisan di sosial media, mereka mendeklarasikan bahwa “Utopis” ini disepakati sebagai sebuah album penuh.

Meski di bawah naungan label rekaman sekelas Samstrong record, merilis sebuah album di tengah pandemi seperti ini tentu mempunyai dampak terhadap geliat dan keberlanjutan karya, terlebih dalam hal promosinya. Tidak ada panggung atau agenda tour sebagai seremonial gelegar rilisnya album cukup membuat perayaan rilisnya sebuah album kurang lengkap. Tidak dipungkiri momentum dan budaya tour selepas merilis album menjadi tradisi yang cukup berarti. Terlebih bagi band seperti Righting Wrong yang sudah berusia 14 tahun dan sempat berdiam cukup lama setelah hingar bingar album pertamanya. Pada akhirnya yang sekarang menjadi fokus adalah bagaimana karya ini tidak sia-sia didistribusikan.

Sampai saat ulasan ini saya tulis pada akhir Mei 2020, jumlah penayangan dan pemutaran di media streaming spotify mereka belum mencapai angka 1000 pemutaran. Dua bulan pertama setelah rilisnya album menjadi masa paling krusial sebagai medium promo dan segala bentuk propaganda distribusinya. Jujur saja saya belum pernah menyaksikan secara langsung band ini dan menantikan untuk melihatnya secara langsung membakar stage.

Meskipun konten lirikal dan tema yang dibawakan bukan hal baru untuk dibahas, namun konsistensi mereka membawa dan mempopulerkan seni batik dengan cara mereka patut diapreiasi. Karena bentuk visual dari cover album ini juga yang membuat saya penasaran dan membuat ulasan ini. Batik sebagai identitas dan kebanggaan Pekalongan tempat mereka berasal berhasil dikemas menarik dalam wahana album fisik dengan konten musik keras.

Saat ini memang sudah banyak inovasi penerapan hasil kebudayaan lokal dalam produk yang modern agar bisa diterima oleh anak muda, namun menerapkan batik dan wayang sebagai bagian dari musik keras adalah sudut pandang yang baru. Kita bisa melihat salah satu contohnya yang sukses diaplikasikan raksasa Bandung “Jasad” dalam album Rebirth of Jatisundanya, bagaimana seorang Man yang memang terkenal sebagai sorang pegiat budaya Sunda mengangkat dan mentransmisikan ornamen kulturnya dalam album. Lalu apakah arah yang akan dituju oleh Righting Wrong juga serupa. Secara konten dan konteks Righting Wrong berhasil mengaplikasikan bentuk wayang dan batik sebagai trademark mereka, namun bagaimana industri dan metode distribusi karya ini berlangsung akan menilai bagaimana keberlangsungan album ini, terlebih ditengah masa sulit seperti ini. (FF)

Previous LOOK UP : Menikmati pameran seni rupa dengan gaya baru.
This is the most recent story.