2015 akan segera berakhir. Ada sesuatu yang mungkin menjadi terakhir kali dan begitu pula ada sesuatu yang menjadi pertama kali. Membuat list seperti ini, contohnya, adalah sesuatu yang pertama kali bagi kami. Tujuan kami membuat list ini bukan sama sekali untuk mengurutkan yang terbaik dari yang terbaik, melainkan ini merupakan usaha kami untuk mendokumentasikan kegiatan yang kami dalami belakangan ini, mengumpulkan rilisan fisik band lokal, baik yang terangkat oleh media betulan maupun oleh media abal-abal, semacam kami.

Nah, karena 2015 segera berakhir, ada baiknya kami segera menampilkan tulisan ini buat para pembaca. Barangkali selepas membaca tulisan ini, pembaca akan menggali lebih jauh band yang kami tulis namanya dalam list ini. Barangkali juga, pembaca, dalam hati maupun secara terang-terangan akan menciptakan ruang diskusi mengenai adanya alternatif-alternatif band, kelompok, musisi, atau siapapun yang lebih layak masuk dalam urutan terbaik di 2015 ini. Baiklah, mari kita mulai hitungan mundur list ini.

9. Willy Wonka – Womankind (Heartcorner Records)

Band ini, bagi kami, adalah sebuah penanda harapan. Di kota tempat kami tinggal, biasanya orang lebih memilih musik keras, musik berusaha untuk masuk tivi, dan bahkan ada pilihan terpahit, musik tanpa mempedulikan pendokumentasian karya. Willy Wonka mendobrak semua anggapan tersebut. Mereka memainkan lo-fi, yang mengingatkan kami pada DIIV atau Beach Fossils, dan berani mendokumentasikan karya mereka.

8. Exhumation – Opus Death (Dunkelheit Produktionen)

Apalagi yang mesti diberitakan mengenai Death Horde yang satu ini? Datang dari sudut-sudut terkelam di bagian tengah antara utara dan selatan Jogjakarta, mereka menyajikan sebuah magnum opus mengenai nyatanya kematian. Kejayaan mereka dalam menyajikan opus tersebut mampu mendorong hadirnya sebuah tren baru, di mana orang menjadi mengagungkan sentuhan-sentuhan retrospektif dalam Death Metal.

7. Intenna – Helter Skelter (Barongsai Records)

Apa yang harus kami utarakan terlebih dahulu, mengenai kefasihan Malang dalam menterjemahkan sebuah genre, dua rilisan Barongsai Records yang masuk list ini, atau bagaimana Intenna dengan bernas menyampaikan shoegaze dalam sentuhan mereka yang menyegarkan pemahaman shoegaze  tanah air? Ada baiknya, pembaca menamatkan terlebih dahulu pengalaman mendengarkan album yang luar biasa bagus ini.

6. Vallendusk – Homeward Path (Northern Silence Productions)

Album ini adalah usaha keras Vallendusk untuk menghancurkan berhala yang telah terbentuk melalui album mereka sebelumnya, “Black Clouds Gathering”. Vallendusk mendorong titik maksimal mereka untuk mencapai sebuah tataran yang baru, yang mampu menghancurkan berhala terdahulu yang mereka bangun sekaligus membangun berhala baru pencapaian mereka dalam bentuk yang tak kalah mengerikan.

5. Beeswax – Growing Up Late (Barongsai Records)

Ah, sekali lagi, Barongsai Records! Dalam album ini Beeswax mampu menghadirkan dua buah hal esensial: bagaimana menjadi berapi-api dan bagaimana menjadi berani. Bayangkan, betapa sulitnya menghasilkan 10 nomor dalam kualitas hampir sama baiknya dalam sebuah album debut. Dan mereka dengan berani melakukan itu.

4. Doyz – Oblivion (Grimloc/Baturaja Records)

Mari tak usah membicarakan resureksi Hip-Hop di tanah air. Ketika mendengarkan album ini, ada baiknya kita berbicara sekaligus bertanya pada diri kita sendiri mengenai berapa banyak musisi yang meratapi kesalahannya di masa lalu sekaligus menjanjikan untuk membangunkan apa yang dipahatnya di masa lalu. Ingat, Blakumuh masih ada!

3. Silampukau – Dosa, Kota, dan Kenangan (Moso’Iki Records)

Kredit besar dari album ini adalah meyakinkan para pendengar, sekaligus bakal calon musisi, bahwa lirik bertema curhat yang disampaikan dengan diksi yang baik, dan musik yang sederhana akan lebih bisa nyantol di telinga dibanding lirik mbulet penuh diksi puitis tapi nirmakna dan nirpengalaman si pembuat lirik.

2. Lefty Fish – You, Fish! (Hitam Kelam Records)

Ada baiknya ketika mendengarkan EP band yang satu ini, buat para metalheads khususnya, kita mencoba amnesia temporer. Tak baik rasanya membandingkan terus menerus Band ini dengan Cranial Incisored, sekali lagi, mau tidak mau kita kerap melakukannya. Lefty Fish melakukan apa yang pernah dibayangkan oleh salah satu personel mereka mengenai bagaimana membawa saxophone dalam komposisi carut-marut a la John Zorn/Melt Banana di Indonesia. Dan mereka sukses melakukannya. Sekali lagi, sulit sekali rasanya untuk tidak melakukan hal yang saya anjurkan di atas: “membandingkan mereka dengan Cranial Incisored”.

1. Sigmun – Crimson Eyes (Orange Cliff Records)

J. Bennet dari Ides Of Gemini dalam dokumenter musik padang pasir “Such Hawks Such Hounds” memberikan sematan pada “Dopesmoker” milik Sleep dengan “Sometimes the riffs is just so fucking good, you just wanna hear it over, over, and over again“. Kamipun menemukan hal tersebut dalam debut album milik Sigmun. Maka, pantas rasanya menobatkan mereka sebagai yang terbaik di tahun 2015 ini.

Demikian rilisan-rilisan yang kami beli rilisan fisiknya dan benar-benar membuat kami benar-benar terkagum-kagum. Masalah hadiah apa yang bisa didapat akibat masuk dalam list ini, mungkin bisa ditanyakan pada bagian administrasi di ruangan sebelah. Semoga 2016 segera mengawali dirinya dengan rilisan-rilisan yang baik yang tetap membuat kami terdorong untuk terus menggali dan mengumpulkan rilisan fisik. Tetap berkarya. Panjang umur rilisan fisik!