Pementasan Pesona Awan Hitam Oleh Pinantun Pandu


Oleh: Gihayu Lugyantara

Pada awal tahun 2018 dunia teater Purwokerto dibuka dengan pementasan oleh Teater MaRGiN. Teater yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed ini menampilkan sebuah naskah garapan sendiri yang berjudul Pesona Awan Hitam. Sang sutradara sekaligus penulis naskah, Pandu, seorang mahasiswa semester 5 jurusan D3 Kesekretariatan, berhasil menyajikan pentas pada malam itu dengan cukup apik.

Cerita dibuka dengan kisah sebuah keluarga sederhana. Sang ayah bernama Sarwo yang sangat ingin naik jabatan di pabrik tempatnya bekerja. Konflik mulai muncul ketika sang ibu yang bernama Inggit tidak setuju dengan siasat suaminya yang akan memberikan anak semata wayangnya yaitu Rasmi kepada tuan Mogens seorang bangsawan pemilik pabrik sebagai syarat supaya Sarwo bisa naik jabatan. Rasmi dan Ibunya berusaha untuk berontak dan menolak keputusan Sarwo sebagai seorang ayah. Tetapi semua sia-sia karena Sarwo tidak mau mengurungkan niatnya sampai pada hari akhirnya tuan Mogens datang dan membawa Rasmi untuk dijadikan sebagai gundik barunya.

Menonton pementasan ini membawa penonton menyusuri lorong waktu kembali ke Indonesia pada masa Kolonial. Paduan kostum aktor, seting panggung yang berlatar rumah pribumi sederhana, dan penyandingannya dengan kemegahan rumah milik bangsawan belanda dengan lukisan-lukisan yang menempel pada setiap sisi dinding rumah tuan Mogens, berhasil memunculkan nuansa khas masa tersebut

Cerita berlanjut dengan adegan kemesraan Rasmi dan tuan Mogens di suatu sudut rumah megahnya. Keduanya sedang bercerita tentang masa-masa yang telah dilalui. Setelah lama tinggal bersama ahirnya Rasmi bisa menerima nasibnya sebagai gundik Belanda sembari memupuk ambisi untuk menjadi seorang perempuan bangsawan. Adegan tersebut terpotong ketika pelayan tuan Mogens yang bernama Jarot masuk dan memberitahu bahwa orang tuanya datang untuk bertemu.

Banyak penonton, termasuk saya, `meduga bahwa Rasmi akan bersukacita dengan kedatangan orang tuanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tak disangka-sangka iatak sudi menerima kedatangan orang tuanya. Nampaknya ia memedam kebencian kepada orang tuanya khususnya kepada Sarwo. Dengan perintah darinya Jarot mengusir Sarwo. Sebelum pergi ia mencoba menagih janji tuan Mogens atas kenaikan jabatan yang belum didapatkannya. Nampaknya ia telah dibohongi oleh tuan Mogens dan termakan oleh ambisi jabatannya.

Rasmi yang dahulu hanya perempuan kampung kini memiliki panggilan Nyai Rasmi. Sebuah panggilan umum yang diberikan kepada perempuan pribumi yang menjadi gundik bangsawan Belanda pada saat itu. Pada adegan selanjutnya, tanpa ada jembatan penghubung cerita yang jelas, tiba-tiba diceritakan tuan Mogens telah meninggal dan anak Rasmi telah mejadi perempuan yang cantik bernama Anne. Ia menjalin hubungan asmara dengan Yuri, seorang pemuda pribumi yang pernah ditemuinya di sebuah pesta. Saat Anne dan Yuri tengah berbicara di teras rumah tiba-tiba Rasmi datang menemui Yuri untuk berkenalan. Hubungan Anne dan Yuri didukung oleh Rasmi karena ia tidak ingin anaknya bernasib sama dengan dirinya.

Puncak konflik terjadi saat usaha rumah bordil milik Rasmi diketahui oleh Anne. Ia diberitahu oleh Yuri yang secara tidak sengaja melihat Rasmi tengah berada di tempat tersebut. Ia marah besar kepada ibunya dan sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukannya karena tega menjual perempuan pribumi yang tak bersalah hanya demi menjadi pemuas nafsu orang-orang Belanda. Karena tak ingin Anne pergi, ia akhirnya memberi tahu alasannya bahwa semua dilakukan agar Anne tidak diambil oleh orang-orang Belanda. Semua dilakukannya demi melindungi anak yang sangat ia sayangi. Setelah mendepat penjelasan itu, akhirnya Anne dapat memaafkan ibunya dan cerita ditutup dengan direstuinya hubungannya dan Yuri.

Secara keseluruhan pementasan ini sangat kental dengan nuansa dominasi patriarki. Sepanjang pementasan diperlihatkan bagimana ketidakberdayaan perempuan di hadapan laki-laki yang memandang perempuan hanya sebagai sebuah objek semata. Naskah “Pesona Awan Hitam” sendiri terinspirasi dari kisah Nyai Saritem seorang gundik yang dahulu membantu orang Belanda pada masa kolonial untuk mencarikan calon Gundik. Hingga sekarang namanya diabadikan sebagai tempat prostitusi di kota Bandung.

Previous Telembuk: Dangdut dan kisah cinta yang keparat
Next Adanya Live Dalam Life