Memperingati Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, Bhineka Ceria mengadakan pemutaran Film Senyap di Auditorium Fisip Unsoed pada tanggal 10 Desember kemarin. Seperti yang kita ketahui, Senyap adalah film kedua yang digarap oleh sutradara Joshua Oppenheimer yang berkaitan dengan masa holocaust di Indonesia. Masa di mana terjadi pembantaian orang-orang yang dianggap komunis dan memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia.

Dahulu film pertama Joshua, Jagal, juga sempat diputar di Fisip Unsoed dan menghasilkan ekses luar biasa berupa penggerebegan pemutaran oleh Pemuda Pancasila. Awalnya saya sempat ragu dengan pengistilahan kedatangan Pemuda Pancasila pada saat pemutaran sebagai sebuah penggerebegan, sebab sebagai orang yang selalu berpikir positif, saya harus melihat segala sesuatu dari sisi baiknya.

Oleh karena itu, saat saya mendengar berita tersebut, saya langsung mengambil kesimpulan sepihak, alih-alih berpikiran negatif, berupa kemungkinan terbitnya kebijakan pusat Pemuda Pancasila untuk taubatan nasuha yang diawali dengan menonoton film tersebut. Sekarang, sejak rezim totalis militer udah gak tren dan digeser tren fasis keagamaan, Pemuda Pancasila harus cerdik untuk mau sedikit mengubah pahamnya dari paramiliter tulen menjadi paramiliter keagamaan melalui taubatan nasuha dengan menonton film yang menginventaris hobi mereka di masa lalu.

Selanjutnya, kaitannya dengan Pemuda Pancasila masuk kampus, menurut saya bisa jadi hal tersebut merupakan inisiatif Pemuda Pancasila guna meningkatkan kadar intelenjensi mereka berkaitan dengan semakin maraknya persaingan organisasi paramiliter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Intinya, saya menyimpulkan tindakan Pemuda Pancasila masuk ke kampus Fisip Unsoed pada saat itu tidak lebih dari proses pembauran, penguatan organisasi, dan pengambilan simpati alias jemput bola agar nantinya tidak ada mahasiswa yang masuk dalam paramiliter saingan mereka yang bermarkas di Petamburan tapi bersikeras ngaku dari Arab. Ah, sayangnya, dengan pemikiran saya yang semendetail itu kok malah jadinya menghasilkan kesimpulan yang ngawur ya? Karena ternyata Pemuda Pancasila tetaplah Pemuda Pancasila yang ya pembaca tahu sendirilah.

*

Selain pemutaran film, Bhineka Ceria selaku pelaksana perayaan Hari Hak Asasi Manusia juga menyelenggarakan diskusi dengan berbagai narasumber antara lain Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si dari Fakultas Sosiologi Unsoed, Roy Murtadho dari Direktur Pusat Kajian & Demokrasi Pesantren Tebu Ireng, dan Mbah Slamet dari Sekretaris Bersama 65. Setelah dibuka dengan pembukaan dari elemen mahasiswa yang terlibat dalam pemutaran film sekaligus perayaan Hari Hak Asasi Manusia, sajian utama yaitu Film Senyap diputar.

Senyap, barangkali bagi pembaca yang telah sering menyaksikan film yang model beginian, bukanlah sebuah film yang menyajikan kebaruan dalam konsep penyintas vs pembunuh yang sekarang malah bisa ongkang-ongkang kaki karena rezimnya menang. Bukan, memang bukan itu poin sesungguhnya yang hendak Joshua sampaikan dalam Senyap. Senyap adalah sebuah alternatif bagi kita untuk melihat ketegaran serta usaha seorang adik yang dengan rapi menutup lubang dalam perasaannya ketika ia bertatap muka dengan pembunuh kakaknya yang mengantarkannya masuk dalam kisah pembunuhan melalui kepahlawanan palsu dan glorifikasi yang mengoyak kembali lubang dalam dirinya. Senyap mendorong kita untuk kembali merevisi definisi antara yang bermoral dan yang tidak bermoral pada masa menggerikan di Indonesia tahun 1965 dan setelahnya.

Adik tersebut adalah Adi Rukun, seorang penjaja kacamata yang hidup di sekitar Sungai Ular, tempat legendaris pembantaian orang komunis di Sumatera Utara. Adi memiliki seorang ibu dan seorang ayah yang telah lanjut usia, Rohani dan Rukun. Perasaan kita mulai diaduk ketika Rohani menceritakan bahwa anak pertamanya, kakak Adi, Ramli, adalah seorang yang dituduh sebagai komunis dan dieksekusi dengan cara yang tidak masuk akal. Konon, Ramli meninggal karena dibacok bahunya dan kemudian disabet perutnya hingga ususnya terburai. Di antara pembantai Ramli, Rohani bilang, adalah tetangga mereka sendiri. Rohani kemudian menahan serapahnya selama menahun dalam diam dan memutuskan untuk tidak bertegur sapa dengan tetangga-tetangganya. Rukun mengalami akibat yang lebih buruk lagi. Selepas Ramli dibunuh, Rukun yang usianya kini telah melebihi satu abad dan tak lagi mampu berjalan, mendapati gigi-giginya rontok satu persatu seturut dengan rontoknya ingatan tentang Ramli sebagai anaknya.

*

Adi mendapatkan informasi mengenai pembunuh-pembunuh kakaknya melalui Joshua. Ada momen yang tak tergambarkan dalam kalimat di saat Adi tertegun menonton rekaman yang disodorkan oleh Joshua. Bagaimana mungkin seorang manusia dengan bangga menceritakan pembunuhan yang dilakukannya dengan mendetail dan terus mengoceh mengenai kepahlawanan maupun bela negara? Ocehan tersebut datang bersamaan dengan lenggak-lenggok si pembunuh dalam memperagakan caranya membunuh dan dipaksa menjadi nikmat bagi pendengarnya.

Selepas mendapat informasi dari Joshua, Adi memulai pencariannya. Inong adalah orang pertama dalam film ini yang didatanginya. Dalam film ini, Inong disampaikan dalam dua bentuk di mana ia masih bergigi, seperti dalam rekaman Joshua pada tahun 2003, dan yang telah tidak bergigi seperti yang Adi temui langsung. Inong adalah orang yang liat dalam berbicara. Mendapati dirinya tengah digiring untuk mengaku bersalah oleh anggota keluarga orang yang ia bunuh ketika Adi “menanyakan sesuatu yang terlalu dalam”, Inong mandeg dan tidak mau menjawab pertanyaan “terlalu dalam” milik Adi. Ia bilang ia tidak sedang berbicara politik. Ia kemudian diam, lidahnya menggeliat dalam mulutnya yang sudah tak bergigi.

Inong menghadirkan sesuatu yang kontradiktif. Ia tidak berpikir apakah Adi merasa terganggu ketika diceritakan padanya kiat Inong agar tidak gila dengan meminum darah korban pasca membunuh mereka? Ia tidak berpikir bahwa Adi adalah adik dari seorang yang kemaluannya dikoyak oleh Inong. Adi tak pernah memprotes Inong yang berbicara terlalu dalam untuk menggarami luka lamanya. Ia memilih untuk melipat tuntutan permintaan maaf dari Inong dengan rapi dan memasukannya kedalam saku hatinya, sebaliknya ia berjanji akan mencarikan kacamata yang tepat bagi Inong.

Adi melanjutkan pencariannya menuju beberapa pembantai yang kini menjadi petinggi dalam pemerintahan daerah. Ada seorang anggota dewan yang berbusa-busa berbicara mengenai kepahlawanannya yang seketika kelu ketika Adi berkata bahwa kakaknya adalah korban. Si anggota dewan ini justru malah mengetengahkan logika berpikir yang terbalik dengan menyuruh Adi dan kelompoknya untuk berubah kalau tidak ingin hal tersebut terjadi lagi seperti tahun-tahun kelam itu. Logika yang terdengar ngawur? Tentu saja.

Pembantai yang satunya lagi, yang menjadi petinggi Pemuda Pancasila, tak jauh beda. Melambungkan nostalgia kepahlawanannya sampai pengaruh kepahlawanannya hingga ia bisa mencapai kemakmuran saat ini, namun tertekuk lidahnya ketika mendapati bahwa orang yang berada dihadapannya, yang ia ajak bernostalgia, adalah orang yang sedang mengusik dan meredefinisi apa arti pahlawan sesungguhnya.

Saya pribadi sangat tercekat pada adegan selanjutnya dimana Adi mendatangi Pamannya, adik Rohani, yang ternyata juga terlibat dalam proses pembantaian besar-besaran pada masa itu. Paman Adi tetap berkelit bahwa ia hanya disuruh menjaga tahanan tanpa tahu keponakannya, Ramli, merupakan salah satu dari beratus tahanan yang menanti buat dieksekusi. Seperti biasa, Adi kembali melipat tuntutannya dan memasukan kembali dalam saku hatinya. Ucapan maaf, sekadar maaf, yang diharapkan tak pernah muncul dari mulut para pembantai itu.

*

Kesimpulannya, dalam Senyap, sama seperti film pertama Joshua, Jagal, kita tidak mendapati resolusi apapun dari usaha para penyintas untuk sekadar mendengar permintaan maaf langsung dari pelaku pembantaian. Apabila dalam Jagal kita masih bisa sedikit berpikiran baik melalui adegan Anwar Congo yang muntah-muntah usai naik kembali ke tempat pembantaiannya, yang bisa kita interpretasikan sebagai penyesalan Anwar atas apa yang dilakukannya pada masa lalu, dalam Senyap kita justru disuguhi akhir yang sangat menyiksa.

Adegan yang saya maksud adalah adegan di mana usai percakapan menguras tenaga antara Rohani dan Rukun mengenai Ramli, yang dijawab dengan kepikunan oleh Rukun, kita dibawa pada adegan dimana tiba-tiba Rukun berada di suatu kelambu yang tidak ia kenal. Sambil terseok-seok Rukun yang renta dan sudah tidak mampu berjalan mencari jalan keluar dari tempat itu. Dia terus berteriak “tolong, tolong, aku dimana ini, kalau ketahuan aku bisa dipukuli orang” yang disambut dengan gelak tawa para penonton pada saat pemutaran.

Saya menginterpretasikan adegan tersebut sebagai terasingnya pertanyaan dan pernyataan Adi mengenai permintaan maaf yang menemui ruang baru yang belum pernah dikenalnya, kepahlawanan yang disematkan pada orang yang salah. Tapi paling tidak, dengan seluruh kenyataan pahit yang didapatinya dalam mencari permintaan maaf, ia telah menyelamatkan anaknya yang bercerita kepadanya mengenai cerita gurunya perihal mitos andalan Orde Baru masalah gerombolan para komunis yang menyayat kemaluan dan mencungkil mata jenderal. Paling tidak Adi melakukan pencapaian kecil, meski pencapaian besarnya berakhir nihil.

*

Sebagai penutup tulisan ini, saya bertanya, mungkin saya alamatkan pertanyaan tersebut pada diri saya sendiri. Pertanyaan saya seperti ini: “ketika kita menuntut untuk sebuah permintaan maaf dalam kapasitas orang per orang saja sudah serumit ini masalah yang kita hadapi, bagaimana mungkin kita menuntut permintaan maaf negara yang berujung pada rekonsiliasi serta pengusutan hukum secara retrospektif?” Yang paling dalam dan menampar saya adalah pertanyaan yang kerap muncul: “setelah kita melakoni ritual ini, setiap tanggal 30 September dan 10 Desember kita berdiskusi dengan memunculkan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan yang paling bernas, lalu kita mau apa?” “Apakah kita hanya akan berhenti dan menjadikan diskusi bernas ini sekadar ritual bulanan untuk mengenang pelanggaran-pelanggaran tersebut?” “Apakah benar kita setidak mampu ini untuk mejadikan hasil diskusi-diskusi kita menjadi suatu kebijakan publik yang nantinya mempunyai konsekuensi hukum?”

Setiap tanggal tersebut pasti saya malu pada diri saya sendiri karena saya belum juga bisa menjawab pertanyaan yang sudah muncul dalam diri saya dua tahun belakangan ini. Maafkan saya apabila saya belum bisa berbuat konret, para penyintas. Semoga maaf saya mampu mewakili dan menghabisi dahaga kalian atas permintaan maaf negara. Maaf pula bahasan diskusi dan tulisan saya masih usang, saya tidak beranjak kemana-mana, masih di sini dan tidak melakukan apapun untuk berpartisipasi mendorong negara meminta maaf. Selamat hari raya Hak Asasi Manusia.

“And so the winds of history disperse the fog of mysticism.

The weeds of technology, those vast mechanical growths, release their stranglehold on culture.

We call to the blackest sun to wither away.

And I seek an end. If I could but see it.

And by the actions of my own hands, it is revealed.

This new epoch when mastery has turned to fellowship.

When those with a hatred for life have seen an end to their own.

These intellectuals who replaces facts with their mythologies.

These tiresome brutes who violently sustain might makes right pedagogy”

(Thou-Another World Is Inevitable)