Oleh : Mirza Fahmi

as·ymp·tote
(noun)
a line that continually approaches a given curve but does not meet it at any finite distance.

Setelah 8 tahun dan 2 EP kemudian, grup ambient-electronica Mataharibisu siap merilis album pertamanya, sebuah concept album berjudul Elie Sadina, pada awal 2017 nanti. Sebagai teaser, pada bulan ini mereka merilis single perdana: “Asymptotes”.

Tapi sebelum kita lanjutkan, ada baiknya saya mulai dari awal.

Seseorang pernah bilang bahwa di dunia ini ada tiga tempat dimana orang belajar hal-hal penting dalam hidup. Pertama adalah di rumah. Kedua, di sekolah. Ketiga, dan yang terpenting, adalah di tengah perjalanan antara sekolah dan rumah. Ranah abu-abu ini sayangnya senantiasa jadi sasaran kecurigaan sekolah dan orang tua. Padahal justru disini terjadi banyak peristiwa yang niscaya menentukan kita: tawuran di terminal, bolos di warnet, hingga patah hati di warung jamu. Atau kalau kita mujur, bertemu dengan kawan yang sehaluan lantas bersepakat untuk membuat musik sebisa mungkin.

Saya lebih mengenal mereka sebagai Aga (Aga Rasyidi Sukandar) dan Yuda (Yudistira Abjani). Keduanya selama SMA bermain dalam unit hardcore Altruistic yang cukup tenar di skena mini Pamulang. Namun seperti halnya dialami ratusan band SMA lain, petualangan ini pun akhirnya mesti berbenturan dengan waktu kelulusan. Altruistic mati suri. Personelnya terpencar, menyisakan Aga dan Yuda. Belakangan, keduanya bersepakat untuk melanjutkan eksperimen electro-pop Aga di masa kasmaran putih-abu. Mereka menamai diri Mataharibisu.

Jika kita tarik ke belakang, Mataharibisu adalah bagian dari generasi yang berhasil menemukan cara praktis untuk menggarap musik dan merilisnya sendiri tanpa perlu beranjak sedikitpun dari kamar tidur mereka. Generasi inilah yang pada suatu hari memilih untuk membeli Fruityloops atau Ableton ketimbang Championship Manager di gerai perangkat lunak langganan. Awalnya boleh jadi iseng-iseng, tapi jika sudah dimulai, sebuah ‘proyek’ bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Kalau ternyata seminggu sudah bosan, ya tinggal uninstall. Simpel.

Terlepas dari kualitas hasilnya, selalu ada hal baru yang muncul dari celah ini. Mataharibisu bukan yang pertama, dan jelas bukan yang terakhir. Mungkin karena ada sesuatu yang menggugah disana. Ada pesona keamatiran yang tanpa sinisme: bermodalkan Pentium 3, soundcard patungan, dan kegundahan remaja, tanpa disadari mereka hanyut dalam semesta ciptaan sendiri.

Mataharibisu segera menggubah lagu sendiri. Satu, dua, kemudian tiga. Tak lama, mereka merilis EP. Tentu saja di tahun-tahun awal itu, mereka tak lantas jadi canggih dalam semalam. Ada satu cerita yang sampai sekarang masih jadi bahan olok-olok: pada panggung awal Mataharibisu, para personelnya lupa mengisi baterai laptop yang dibawa. Walhasil, baru saja intro lagu pertama dimainkan, selang beberapa detik kemudian terdengar membahana tembang
shutdown tersohor dari Windows XP.

Setelah ‘insiden’ baterai itu, saya membayangkan sampai hari ini mereka tak pernah luput untuk menyiapkan colokan listrik sebelum manggung. Sambil cengengesan pastinya.

Kesibukan pun menelan 8 tahun terakhir. Meski sempat vakum, Mataharibisu masih menolak untuk meninggalkan ‘kamar’ mereka. Album Elie Sadina yang tengah mereka garap pun turut menandakan fase baru bagi Mataharibisu yang sebelumnya hanya merilis karya melalui jejaring netlabel. Elie Sadina akan dicetak fisik sekaligus menyertakan sejumlah cerita pendek sebagai pendamping lagu-lagu dalam album. Album ini juga resmi menjadi album perdana yang menyertakan vokalis barunya, Bhatara Bharan.

Bila kita kesulitan untuk menakar makna 8 tahun untuk sebuah band, maka Asymptotes dapat menyediakan jalan keluar. Single ini seperti laporan dari eksplorasi panjang Mataharibisu terhadap nuansa dan atmosfer. Musnah sudah jejak bebunyian Fruityloops dari awal karier mereka, atau fill-in piano yang diulang-ulang sampai akhir lagu. Asymptotes adalah nomor yang bergantung pada progresi dan transisi mood. Meski demikian, ia jauh dari kesan wallpaper music seperti yang lazimnya dituduhkan kepada rumpun musik ambient. Bahkan bisa dibilang, justru ketika mereka berupaya mengambil jarak dari sensibilitas masa lalu lah Mataharibisu menjadi paling accessible. Dengan sabar lagu ini menyediakan latar, kemudian perlahan-lahan menjalin lapisan demi lapisan ritme dan melodi sebelum akhirnya dapat menghembuskan nafas terakhirnya. “We swimming through the sea” ungkap vokal yang tertimbun drone, synth, dan reruntuhan lain: “Leading nowhere”.

Dari kutipan di awal kita bisa membayangkan bahwa Asymptotes adalah cerita tentang jarak yang keras kepala. Dalam video liriknya, gambar yang berulang kali tampil adalah rel kereta. Sebuah imaji klasik tentang harapan dan pertemuan yang tak kunjung kesampaian: selalu beriringan namun tak juga berlintasan. Rel yang tak ada putusnya itu bisa mewakili rindu sepasang kekasih, atau bisa juga mengacu pada kegelisahan yang lebih universal. Serupa
kegelisahan para komuter yang sedari pagi buta sudah harus melihatnya dari jendela kereta. Mereka yang berdesakan namun saling berpaling muka. Demikian rutinitas mengakrabkan kitadengan isolasi. Perlahan kita paham bahwa sesuatu hanya dapat dikatakan berdampingan apabila diamati dari jarak tertentu. Tapi bagi sang kereta, yang ada di hadapannya hanya ruangkosong untuk diisi sendirian. “Leading nowhere”…

Namun Mataharibisu punya tempat yang hendak dituju. Karena itu mereka tak punya waktu untuk mengingat-ingat kesepakatan macam apa yang membawa mereka sampai kesini. Berikutnya adalah merilis album, kembali naik panggung, kemudian melanjutkan eksperimen, lagi dan lagi. Dalam proyek seperti ini, setiap karya bukanlah titik, melainkan tanda tanya. Titik awal menuju karya lain, tanda tanya lain. Sampai mana kita mau berjalan? Apa yang kita cari? Kenapa nama band ini Mataharibisu? Begitu terus tak berkesudahan.

Meski demikian, pada akhirnya saya harap mereka tak akan begitu ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Sejauh ini saya optimis. Karena mereka paham betul bahwa setelah 8 tahun, walaupun harus berbagi waktu dengan aktivitas dan tanggung jawab lain yang semakin menumpuk, kamar itu akan tetap menunggu di pojok rumah. Musik yang dialunkan mengundang kawan lama dan baru untuk mampir. Dalam semesta itu, sekejap saja, kegelisahan raib. Sekali ini, yang ada di hadapan bukanlah kesendirian.

Listen to “Asymptotes” by Mataharibisu: 
Download on iTunes : https://itunes.apple.com/id/album/asymptotes-single/id1167711900

Social Media & Website:
Official Website : http://www.mataharibisu.com
Facebook : https://www.facebook.com/mataharibisu/
Twitter : https://www.twitter.com/mataharibisu/
Instagram : https://www.instagram.com/mataharibisu/
Soundcloud : https://www.soundcloud.com/mataharibisu/