Artist : OK KARAOKE | Album : Sinusoid | Genre : Indie Rock  | Label : VITUS | Tahun : 2014
 

Menjadi sebuah keharusan bagi saya untuk selalu mengikuti perkembangan musik kota Lumpia, karena bagaimanapun musikalitas saya yang menjadi “gak jelas” seperti sekarang terjadi dan terpengaruh akibat dari ketika saya lama tinggal di Semarang buat menyelesaikan studi. Mungkin karena saya terlalu lama tinggal di sana menjadikan saya lebih paham perkembangan musik di sana ketimbang di kota saya lahir Purwokerto, toh hal tersebut tidak lantas membuat saya kemudian menomorduakan Purwokerto sekarang, karena singkatnya saya memeluk sebuah keyakinan berdasar pepatah “dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung”. Kali ini saya mencoba mengapresiasi band yang cukup langka di Indonesia, khususnya Semarang, OK Karaoke, band yang terbentuk di tahun 2005 ini beranggotakan Garna Raditya (Gitar), Bhaskoro (Gitar), Adiyat Jati Wicaksono (Bass), Risqonadhimi Haqu (Drum), dan Febrian Aditya Putra (Vokal). Untuk 2 nama pertama dalam band ini memang sudah tidak asing di telinga, karena mereka juga tergabung di band Grindcore kawakan kota Semarang AK47.

Setelah hampir 6 tahun selepas mereka merilis EP “Sail Off The Storm”, mereka akhirnya merilis sebuah album berjudul “Sinusoid”. Album ini memang sudah saya tunggu jauh hari. Ketika saya mendapatkan info kalau mereka akhirnya merilis album mereka, tanpa pikir panjang saya pun langsung membeli rilisan mereka.  Album “Sinusoid” ini berisikan 9 trek yang easy listening dengan lirik yang puitis mengenai cerita kehidupan yang ada disekitar kita.  Album ini juga memuat beberapa nomor seperti   “Call Me Time” dan “Casteless Man” sebelumnya sudah diperkenalkan terlebih dahulu kepada khalayak luas sebagai single, dan “Depated” yang menjadi salah satu nomor andalan dalam  kompilasi Atlas City Movement. Album “Sinusoid” menurut pemahaman saya dimaksudkan sebagai pembuktian yang ingin dicapai oleh OK Karaoke dimana mereka, setelah ditinggal vokalis terdahulu mereka, Galih ke Amsterdam, masih memiliki kehidupan lain yang disampaikan melalui Dito (Febriyan Aditiya Putra).  Hadirnya Dito, menurut pengamatan saya, memberikan sebuah perubahan signifikan terutama dalam arus musik yang dibawakan oleh OK Karaoke. Apabila dalam “Sail Off The Storm” mereka cenderung lebih mengejar nuansa brit pada umumnya, maka dalam “Sinusoid” mereka tampil berani dengan komposisi baru yang meruoakan hasil panjang dari proses yang mereka jalani selama enam tahun. Ok Karaoke, dalam bahasa sederhana saya, meletakan dirinya sebagai sebuah unit yang terlahir kembali, dalam kreativitas yang baru dan dalam nuansa yang lebih baru dalam balutan musik yang lebih maskulin. (Selain itu juga ada 6 trek baru “Late Comer Boy”, “Sinusoid”, “Sangre Azul”, “Kenangkan Angan”, “Lekas, Sembuh”, dan “Fetus”.)?

Mengawali perkenalan dengan bentuk barunya, OK Karoke meletakan “Late Comer Boy”, sebagai nomor pembuka. Bagi saya nomor tersebut saya gambarkan bagai sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu, menyimpan kerinduan yang dalam, dan akhirnya bisa berjumpa kembali. Nantinya, saya juga mengambil kesimpulan bahwa keseluruhan nomor per nomor dalam album ini sebagai sebuah kerinduan yang kemudian terobati melalui pertemuan kembali, OK Karaoke saya rasa sukses dalam melakukan “saying hello“nya kembali selepas 6 tahun vakum tanpa memnghasilkan album. itulah yang saya rasakan ketika memulai perjalanan dalam mendengarkan album ini sampai akhir. Makna kata “Sinusoid” pun menjadi pertanyaan saya, mengapa mereka mengambil kosakata tersebut sebagai judul album dan judul lagu, setahu saya makna “Sinusoid” sendiri itu saluran darah dalam tubuh, lagu “Sinusoid” sendiri ketika kita sudah sangat diletihkan oleh rutinitas sebagi pekerja dan selalu merasakan sebuah kebosanan dan letih ketika kita kembali ke rumah.

Untuk lagu “Castless Man” ini lirik ditulis oleh mantan vokalis mereka Galih, dan Dhimi. Lagu ini menceritakan seseorang yang disingkirkan dari masyarakat akibat sistem “Pengkastaan” yang lahir di masyarakat. Lagu yang ditulis Galih ketika tinggal di India, lebih tentang bagaimana  kehidupan di India selain yang kita ketahui di televisi layaknya seorang Sahrukh Khan, atau Amita Bachan dalam aksi heroic mereka dalam sebuah film. karena memang di sana ada golongan minoritas yang menolak sistem kasta di India, sehingga harus menerima akibat dikucilkan dari masyarakat, dan harus hidup dan berjuang sendiri menjadi mandiri. Di lagu “Sangre Azul” pun tidak jauh berbeda, “Sangre Azul” itu sendiri diambil dari Spanyol yang berarti kaum bangsawan (darah biru), dalam lagu ini disimbolkan dengan kata “Queen”. Lagi-lagi mereka menyerukan tentang batasan bagi kaum darah biru dan orang biasa.

“Lekas, Sembuh” menjadi do’a untuk orang-orang disekeliling kita yang sedang sakit, agar mereka selalu diberi kesembuhan karena “Sembuh itu pilihan, atas izin Tuhan”. “Fetus” didaulat sebagai penutup dalam album ini, enak ga enak ketika saya mendengarkan lagu ini, lagu yang cukup mempermainkan telinga dan perasaan saya,dengan sedikit sound yang cukup terdengar post-rock dan ketika lagu ini berakhir seketika menjadi nuansa ketakutan ketika lagu ini terdapat encore dengan suara “musik box” layaknya ending film horror “The Conjuring”.

Secara keseluruhan album “Sinusoid” ini sangat layak dengar, komposisi musik yang cukup easy listening dan lirik yang puitis, seolah membawa kita kembali ke nostalgia masa-masa yang harus kita kenang, bak lirik dalam lagu “kenangkan angan” yang terdapat dalam lagu ini “Masa laluku… menjadi kenangan indah hidupku” . dan terakhir saya selalu berpesan layaknya petuah dalam sebuah review album “belilah rilisan fisik sebuah band, sebagai bentuk apresiasi kita terhadap musik” (AFA).