Artist: Silampukau | Album: Dosa, Kota, & Kenangan | Genre: Folk | Label: Moso’iki Records | Tahun: 2015
 

Selama ini, selama menulis review album sebuah band di portal ini, saya kerap mengigau, separuh sadar, dan memburu terlalu banyak locus yang saya paksakan untuk masuk dalam tulisan saya. Kadang saya tidak sepenuhnya jujur bahwa saya tidak mampu untuk membahasakan album sebuah band. Atas alasan itulah, saya kemudian secara serampangan memburu dan membahas locus-locus yang sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang esensial dalam album sebuah band yang saya tulis.

Syahdan, suatu hari, seorang teman memberikan CD album Silampukau yang berjudul “Dosa, Kota, dan Kenangan” kepada saya. Jujur saja, ketika diberi CD itu, saya sama sekali belum mengenal apalagi secara khusus mengulik siapa itu Silampukau. Namun, judul album mereka benar-benar menohok saya. Singkatnya ketika mendapati judul tersebut, saya yakin bahwa kelak saya akan sukses mengeliminir pembahasan locus-locus yang kerap muncul dan memaksa saya untuk menyertakan mereka untuk ditulis ketika mereview album milik Silampukau ini.

Hari ini adalah kelak yang saya andaikan dahulu. Hari ini saya memberanikan diri menulis mengenai album yang saya prediksikan bakal mampu mengeliminir pembahasan locus-locus serampangan yang kerap hadir dalam review terdahulu saya. Hari ini saya hanya akan membahas dua locus saja guna mengantar pembaca menuju inti tulisan ini, review album “Dosa, Kota, dan Kenangan”. Saya berjanji.

Locus pertama akan saya arahkan pada terminologi musik folk itu sendiri. Oh, hampir lupa, sebelumnya saya mengamini apabila Silampukau ini dikategorikan sebagai pengusung folk hakiki, melampaui terminologi folk oleh media yang pol-polnya berujung pada musik puitis dengan iringan “genjrengan gitar bolong” saja. Silampukau secara sukses menyampaikan nama lengkap folk yaitu folklore dalam liriknya. Mengenai apa? Mengenai apa yang mereka tanam, pelihara, dan kemudian mereka panen di tempat mereka hidup, “Dosa, Kota, dan Kenangan” di Surabaya.

Locus kedua akan saya arahkan pada cara mereka menyampaikan folklore mengenai Surabaya. Melalui apa? Lirik tentunya. Bagi kolektif sederhana, secara harfiah dalam jumlah personil dan kelengkapan instrumen musik yang mendukung mereka, Silampukau harus memiliki sesuatu yang menarik perhatian, lirik. Dan mereka menyampaikannya melalui seusatu yang benar-benar melebihi ekspektasi siapapun, atau paling tidak saya.

Belakangan ini jujur saja saya mulai merasa terganggu dengan beberapa band yang merepetkan lirik mengedepankan kegemilangan diksi tanpa memikirkan tujuan akhir dari lirik tersebut untuk sampai ke telinga pendenggar. Silampukau, sekali lagi saya harus memujinya, dengan bernas mengakali hal tersebut dengan menyampaikan folklore mengenai Surabaya dengan bahasa yang begitu lugas. Tanpa perlu memaksa alis saya mengernyit, membuat kuping saya kaget menerima diksi sok adiluhung nirmakna, dan memijat otak saya sampai mumet karena akhirnya saya tidak bisa mencapai maksud dari sebuah lirik. Tidak, Silampukau tidak menyiksa saya.

Dua locus yang saya jelaskan di atas saya harapkan akan menjadi “lampu senter” menuju inti dari review ini, yaitu sinergi keduanya, folklore dan lirik ramah telinga awam, dalam premis besar berjudul “Dosa, Kota, dan Kenangan”.

Saya tidak akan membahas satu persatu nomor dalam “Dosa, Kota, dan Kenangan”, karena itu akan sangat melelahkan untuk dibaca. Saya hanya akan memililih untuk membicarakan beberapa nomor yang menurut saya menopang dengan kuat 3 variabel “Dosa”, Kota”, dan “Kenangan” dalam premis besar “Dosa, Kota, dan Kenangan” itu sendiri.

“Dosa” disampaikan Silampukau dalam nomor “Si Pelanggan” dan “Doa1”. Jenis dosa yang disampaikan dalam nomor ini berada dalam tataran yang berbeda.

Dalam “Si Pelanggan” dosa yang disampaikan Silampukau adalah memuliakan dosa tertua yang lahir bersama manusia, libido. Mereka tengah berbicara dosa, bukan berbicara masalah kesucian. Maka, alih-alih mengemas libido yang mungkin melahirkan cinta beneran, yang bersemi sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara, Dolly, Silampukau memilih lirik bernada satir yang saya simpulkan menempatkan Dolly sebagai penyelamat manusia-manusia yang terjebak dalam“renggang-renggang janji matrimoni”. Bukankah itu sebuah dosa?

Dosa dalam “Doa1” mungkin tak mewakili cakupan seluas dosa para mencari perekat “renggang-renggang janji matrimoni”. Dosa kali ini mewakili cita-cita yang berkaitan dengan sebuah pribadi. Cuma masalah ini juga gawat, sebab yang diingkari adalah konsistensi diri. Bayangkan apabila pembaca berniat menjadi musisi indie tapi malah terjebak menjadi penjaga distro. Belum lagi ketika jiwa indie sudah kadung melekat, tapi masih menyimpan doa berupa “semoga terkenal, terpandang, dan banyak uang” bukankah itu masuk dosa besar juga dalam kaidah indie?

Variabel kedua, “Kota”, disampaikan oleh Silampukau lewat beberapa nomor seperti “Bianglala”, “Lagu Rantau (Sambat Omah), dan “Malam Jatuh di Surabaya”. Sekali lagi, meskipun menggunakan bahasa yang lugas, Silampukau tetap dapat menghadirkan metafora kota dalam dua wajah.

“Bianglala” menyampaikan wajah kota Surabaya yang sederhana dan ramah bagi penghuninya. Dimana hiburan murah tersedia untuk siapa saja. Bagi saya, “Bianglala” menampilkan wajah sebuah kota yang dahulu pernah memaksa dirinya menjadi statis dan tidak berkembang. Sebuah kota yang memaksa setia untuk menjadi tempat hidup warganya yang menyukai kesederhanaan, bukan kota yang selalu dipaksa untuk merias diri.

“Bola Raya” dan “Lagu Rantau (Sambat Omah)” menampilkan wajah Surabaya yang lainnya. Yang merampas rumput hijau dan menggantikannya dengan aspal, atau yang “menghisapku habis, tubuh makin tipis, dompetku kembang kempis”. “Lagu Rantau (Sambat Omah)” menambahkan kegetiran yang sangat ketika Silampukau menambahkan, entah pertanyaan atau pernyataan, mengenai rumah melalui “Rindu menciptakan kampung halaman tanpa alasan”. Keterasingan dalam kota ternyata bisa sampai membawa penghuninya mengalami penyakit delusi yang akut.

Lalu variabel yang terakhir, “Kenangan”, disampaikan oleh Silampukan melalui “Malam Jatuh di Surabaya” dan “Puan Kelana”.

Kenangan dalam dua nomor tersebut dibagi dalam objek yang abstrak dan objek yang spesifik, secara kolektif dan secara perorangan, sama seperti ketika mereka menceritakan Dosa. “Malam Jatuh di Surabaya” menampilkan kenangan bagaimana suasana Surabaya ketika akan mengubah wajahnya dari terang menjadi petang. Dari riuh menjadi gaduh, bahkan Tuhan kalah dengan riuh jalanan Surabaya. Panggilan Tuhan melalui maghrib tak juga terdengar oleh para penghuninya. Ia tetap kalah dengan gaduh orkes jahanam mesin dan umpatan.

“Puan Kelana” secara satir menceritakan bagaimana getirnya perpisahan. Mengenai jarak yang sebenarnya dapat dinafikan sebab “dunia memiliki luka yang sama” dan “Toh, anggur sama memabukannya, entah Merlot atau Cap Orang Tua”. Kenangan disampaikan Silampukau dengan menyamakan Surabaya dan Paris. Karena sesungguhnya semua berawal dari kota yang sama, Surabaya, kota yang dalam lirik Silampukau menjadi menyimpan begitu banyak makna.

Sebagai kesimpulan review ini, saya menyimpulkan bahwa “Dosa, Kota, dan Kenangan” disampaikan dengan kekuatan plus suplemen dalam menceritakan tiga variabel yang hendak dibahasnya. Dalam pengalaman mendengarkan sebuah album, saya belum pernah mendapati album yang seterkonsep ini, dalam artian sebuah album yang mampu menjelaskan premis besarnya dalam judul yang kemudian dijelaskan secara mendetail melalui urutan nomor per nomornya yang sangat konsisten.

Bahkan hanya dalam selarik “Mentari tinggal terik tanpa janji, Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli; dan kita tersisih di dunia yang ngeri, dan tak terpahami ini” dalam “Balada Harian” saja, Silampukau sudah mampu meletakan “Dosa, Kota, dan Kenangan” dalam runutan makna, dalam keterkaitan, dan dalam hubungan antar variabel. Maka, apabila pembaca berminat membantu saya, tolong jawab pertanyaan ini: “kritik macam apa yang bisa dialamatkan pada album sekonsisten dan sejujur ini?” Apabila pembaca merasa jawaban untuk pertanyaan saya nihil, maka kita berada dalam satu jalur pikir yang sama. (WR)