Ini cerita tour tentang band saya yang bernama Warlok, yang beranggotakan saya sendiri pada vokal, Bangkit pada bass, Chandra pada gitar, dan Kemal pada drum. Filosofi mengenai nama band kami sederhana saja, Warlok adalah akronim dari “Warga Lokal” yang merupakan sebuah cetusan dari Kemal. Nama Warlok dipilih karena kami semua kebetulan merupakan warga lokal dari kota yang sama, Kota Satria Purwokerto. Nama tersebut sekaligus menjadi sebuah harapan ketika kami berada di tempat lain, kami dapat berbaur sehingga akan tetap merasa sebagai warga lokal di tempat tersebut seperti peribahasa ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’.

Setelah 3 bulan terbentuk, kami membuat, merekam materi, dan membungkus 6 buah lagu menjadi EP yang bertajuk “Wanirugi” yang dalam bahasa Indonesia artinya berani rugi. Bagi kami, jika kami berharap akan kemajuan pada diri, maka kami harus berani merugi khususnya secara finansial. Berbekal “Wanirugi” kami memutuskan untuk melakukan promosi EP tersebut dengan melakukan perjalanan tour ke arah barat pulau Jawa. Ada 4 titik yang kami singgahi untuk sesi pertama, yaitu Tangerang, Depok, Bandung, dan Tegal.

Perjalanan Dimulai pada tanggal 20 Mei 2015 malam menuju  kota Tangerang. Awal perjalanan ke luar kota itu sempat membuat saya sangat bete karena macet, panas, dan kebelet pipis yang tidak bisa ditahan. Harap maklum, selama di Purwokerto macet merupakan hal yang akan jarang dijumpai, terlebih macet yang memakan waktu berjam-jam. Setelah disiksa macet, akhirnya rombongan kami  bertemu Mas Omat pada sore hari sekitar pukul 15.00. Perlu diketahui, Mas Omat ini adalah salah satu pegiat musik cutting edge di Tangerang. Kami transit di rumah Mas Omat sebelum menuju ke lokasi pertunjukan. Setelah cukup beristirahat, selepas waktu maghrib kami memutuskan berangkat ke venue lebih awal demi menghindari delay yang disebabkan oleh macetnya kota Tangerang. Setelah 20 menit perjalanan, kami pun tiba di Ffour studio yang menjadi lokasi pertunjukan untuk titik pertama.

Ternyata malam itu tidak hanya Warlok saja yang sedang melakukan tourAda pula Break Us Down dari Surakarta yang turut meramaikan gig yang bertajuk “Senang-Senang part 4”. Kawan-kawan Break Us Down ini sebetulnya tidak terlalu asing bagi kami, terlebih lagi dengan Mas Anggit Waste, karena sebelumnya kami pernah satu gig bareng di Sukoharjo pada sebuah gig unik yang diadakan di depan gedung DPRD Sukoharjo saat car free day.

Kembali ke “Senang-Senang part 4”, tour sesi pertama kami juga diisi band-band lokal sekitaran Tangerang seperti Troid, Kilometer, Sonata, Nightmare Story, Under Presshit, The Bringas, A.L.E, dan MRXBEAN. Pada gig tersebut kami dijadwalkan tampil paling akhir dengan gemerlap lampu disko studio. Ada sebuah hal yang membuat saya malu sekaligus bangga saat Warlok tampil, karena, tiba-tiba, entah siapa mengambil gambar saya tepat di depan muka dengan kamera. Kejadian tersebut membuat saya salah tingkah dan malu, tapi bangga, karena bahkan teman-teman Tangerang pun mengakui kecantikan saya. Buktinya, sampai-sampai ada yang memotret saya dari jarak sedekat itu. Setelah acara tersebut selesai kami sempat makan terlebih dahulu untuk menjaga berat badan saya dan kemudian pulang kembali ke rumah Mas Omat untuk beristirahat.

Esok harinya, tanggal 21 Mei 2015 kami melanjutkan perjalan menuju Depok sekitar pukul 09.00. Mas Omat berbaik hati mengantar kami ke tujuan selanjutnya. Tadinya saya pikir lokasinya tidak terlalu jauh karena Mas Omat mengendarai sepeda motor mengiringi mobil kami menuju tempat selanjutnya. Namun, ternyata hampir sekitar 2 jam lebih kami baru tiba di lokasi karena adanya sedikit miskomunikasi mengenai lokasi yang dituju. Kami akhirnya bertemu dengan teman-teman dari Frontline Foundation & GTC 09 dan kami langsung diantar ke villa yang disulap menjadi venue acara pada sore harinya.

Sore harinya, acara bertajuk The Crew Fest ini dimulai pada pukul 17.30. Pada acara ini Warlok juga tidak sendirian melakukan tour. Kami berjumpa lagi dengan Break Us Down, kemudian ada See It Through (Jogjakarta), serta Untrapped dan Dandelion (Solo). Acara tersebut juga bertepatan dengan launching mini album sebuah band hardcore asal Depok yang bernama Side Off. Selain pendatang dari luar kota, acara ini juga diramaikan oleh Still Burn, In Difference, Wizard Afraid, False Away, Brainsyouth, CBA, Real Project, Limerence, Straight Answer, The Killing Machine, dan Our Spirit.

Acara berlangsung dengan lancar meski pada persiapannya mengalami beberapa hambatan, kata teman-teman panitia. Kami naik panggung sekitar pukul 19.30 dan memulai lagu pertama dengan cukup baik, menurut saya sebagai seorang player. Di pertengahan penampilan kami, terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan gitar milik Chandra mati dan akhirnya membuat kami harus mengulang lagu yang kami bawakan dari awal. Jujur saja, saat penampilan saya di Depok tempo nyanyi saya berantakan. Akibatnya, saya mendapat hadiah berupa pelototan dari Yayang Kemal. Secara keseluruhan, acara tersebut membuat hati saya puas karena saya bertemu dengan banyak band bagus dan teman-teman yang berkontribusi besar pada acara malam itu. Malam itu, saya juga melakukan meet up dengan teman saya dari Purwokerto, Dewi Ka’ah yang centil yang merupakan salah satu selebritis ternama asal Purwokerto yang merantau di ibukota. Setelah acara rampung, beberapa dari kami berbincang dengan teman-teman yang ada di venue, namun saya tidak. Saya memilih tidur karena lelah dan tidak enak badan, saya cukup takut kalau-kalau saya hamil.

Sekitar tengah malam, Saya dibangunkan. Ternyata semua teman-teman band dan pelaksana dikumpulkan di aula untuk makan malam bersama-sama. Dengan diberi alas daun pisang, kami makan nasi uduk dan krupuk bersama-sama. Bagi saya, itu merupakan sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan sekali karena suasana makan terasa hangat dan dekat tanpa sekat. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pamit dan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Tak lupa tradisi foto bersama pun dilakukan.

Perjalanan tanggal 22 Mei 2015 saya tertidur pulas saat perjalanan ke kota yang disebut sebagai Paris van Java ini, tapi saya tiba-tiba terbangun akibat udara yang mendadak menjadi dingin. Perjalanan malam itu pun terasa cepat sekali.

Kami transit dikosan Fariz, teman akrab dari driver handal kami, Adnan Bunkerboob yang badannya seperti satpam Moro. Setelah puas beristirahat, kami memutuskan mencari makan siang dan Fariz merekomendasikan sebuah tempat makan yang cocok untuk dompet kami yang sudah terlanjur rugi, warteg! Benar, harganya memang miring tapi lantas tidak membuat saya kenyang. Akhirnya saya meminta Fariz mengantarkan ke penjual makanan ringan, khususnya seblak yang recomendeath untuk memenuhi perut gendut saya yang makin hari makin menggendut.

Akhirnya hanya saya yang membeli seblak karena teman-teman sudah kekenyangan. Pulang dari tempat makan, kami siap-siap berangkat ke venue sekitar sehabis Ashar. Perjalanan memakan waktu kurang lebih setengah jam. Lokasi yang dituju adalah Kana Audio Room, sebuah studio musik dimana acara tour kami digelar. Berada satu panggung dengan band-band yang menarik seperti Glare, Marrah, Truth, Percuma, dan Public Mistrust membuat kami bersemangat. Setelah tuntas manggung, kami diajak Jems dan Latif, yang menjadi organizer untuk tour kami di Bandung, menuju tempat transit untuk menaruh barang-barang kami terlebih dahulu. Setelah itu kami diajak menuju warung nasi goreng langganan Jems. Ternyata porsinya banyak sekali, menurut teman-teman, menurut saya sih gak bikin kenyang, dan harganya murah meriah. Tuntas makan malam, kami diajak Thomas untuk jalan-jalan ke skate park dibawah jembatan layang. Malam itu terlihat banyak sekali anak-anak yang masih nongkrong dan bermain papan luncur hingga tengah malam. Merasa tubuh mulai lelah, kami memutuskan untuk kembali ke tempat transit dan pamit untuk melanjutkan perjalanan ke kota terakhir untuk sesi Wanirugi tour pertama, Tegal.

Pagi sekitar pukul 10.00, saya mulai merasakan panas matahari. Berbeda dengan saat menuju Bandung saya bangun karena hawa dingin, kali ini saya bangun karena kepanasan. Adnan memutuskan transit di stasiun pengisian bahan bakar alias pom bensin di sekitar wilayah Subang untuk tidur karena sudah terlalu ngantuk. Kurang lebih 2 jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Tegal dan Setelah melakukan kontak batin dengan Simek For the record, kami diarahkan untuk menuju rumah mas Iqbal yang dijadikan sebagai tempat transit. Sekitar pukul 15.00, sampai juga kami di tempat transit. Disini kami membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu kami memutuskan untuk tidur sampai petang tiba. Setelah puas tidur pulas, Kemal mulai menyuruh kami untuk bersiap-siap menuju acara teman-teman 15 KM North Crew yang bertajuk “Senyum-Senyum #5”. Disana kami bertemu dengan band-band yang notabene adalah rekan dekat kami juga. Band yang saya maksud adalah Gerombolan X Berat dan High Bosson yang datang dari Purwokerto untuk turut meramaikan Wanirugi tour. Tak hanya kami dan dua kawan kami, beberapa band Tegal seperti Go On, Bengal, Take My Hand, Trying To Rise, dan Varicella punya andil dalam memanaskan suasana studio malam itu.

Di Tegal kami berempat mendapatkan klimaks Wanirugi tour. Dengan suasana yang akrab dan keriaan moshpit serta stage diving dalam studio membuat kami bermain lepas tanpa grogi sedikit pun. Sangat puas rasanya! Setelah menuntaskan penampilan terakhir, kami diajak makan malam di pinggir jalan, tadinya saya sempat memberikan usul: “bagaimana kalau makan malamnya di tengah jalan saja?!” Sayang usul saya ditolak teman-teman. Nasi campur dan teh poci khas Tegal menjadi sajian terakhir yang masuk ke perut gendut saya yang selalu keroncongan sebelum kembali menuju Purwokerto.

Tour ‘Wanirugi’ merupakan sebuah monumen bagi kami, bagaimana proses membangun kemandirian terangkum dalam perjalanan kecil pada empat kota yang kami jadikan tujuan untuk sesi pertama, yakni Tangerang, Depok, Bandung, dan Tegal. Meski banyak catatan dan hal yang perlu diperbaiki, sesi kedua akan lebih kami persiapkan agar menjadi perjalanan yang lebih baik. Mohon dukungan dan doa dari kawan semua dan pembaca laman ini, agar nantinya kami terus hidup dan berkarya lebih produktif lagi. Sampai jumpa di ‘Wanirugi’ tour chapter kedua! (EN)