Artist: Scaller (Simply Called Reverse)  |  Album: 1991 EP  |  Genre: Alternative Rock  |  Distribution: Demajors |  Tahun: 2013
 

Senang rasanya bisa kembali menikmati sajian alternative rock dengan sentuhan retrospektif, kali ini yang begitu menggugah antusiasme saya adalah Sebuah EP (extended play)[i] bertajuk 1991 yang merupakan rilisan perdana dari Scaller duo alternative rock asal Jakarta. Pemilihan judul mini album mereka sepertinya bukan merupakan kebetulan belaka atau terkesan memang sengaja diplot menjadi sebuah easter eggs[ii] bagi para penikmatnya. Kesan yang seolah ingin mereka tonjolkan yaitu era 90an atau lebih tepatnya tahun 1991 yang merupakan tahun yang penting bagi influence serta karakterisasi musik mereka, sebagaimana yang coba diaplikasikan dalam materi isi EP mereka. Sedikit menelisik kebelakang, 1991 merupakan tahun dimana banyak bermunculan rilisan masterpiece yang menjadi tonggak awal berkembangnya alternative rock di industri musik secara global. Sejak saat itu musik rock tidak akan pernah terdengar sama lagi, mungkin karena inilah mengapa sering disebut sebagai revolusi musik[iii]. Terlepas dari warna 90an yang diusung oleh Scaller, dari segi musikalitas apa yang dihasilkan oleh Reneey Karamoy (gitar, vokal) serta Stella Gareth (vokal, synth) perihal komposisi dan aransemen tetap menggunakan sentuhan sound yang modern atau kekinian. Sebuah kombinasi yang cerdas karena secara relevansi memang mereka tumbuh dan berkembang di era masa sekarang tentu akan lekat dengan peralatan yang menghasilkan sound modern, namun semangat serta energi 90an yang mereka berikan sebagai warna musik tetap kentara tanpa harus berusaha mengkulik sound lama/retro lebih mendalam.

Kesan pertama saat mendengar EP ini saya sempat sedikit mendapat keraguan perihal apakah Scaller itu merupakan band lokal atau malahan band “bule”. Terlepas karena keseluruhan lagu dalam EP ini yang memang semuanya menggunakan lirik bahasa Inggris, sangat jarang ditemukan band lokal dengan orientasi sound seperti ini. Tampaknya mereka begitu serius dalam mencari referensi yang pas bagi komposisi musik mereka. Terlebih didukung oleh pelafalan yang baik dalam melagukan komposisi lirik, Stella Gareth dalam hal ini memang menunjukan kelasnya. Bagi para penikmat setia Alanis Morissette pasti akan sulit melepaskan karakter vokal Stella yang begitu agresif serta cenderung emotif  dari bayang-bayang Alanis era “Jagged Little Pill”. Scaller dibuka dengan track berjudul “Live And Do”, mereka mengawalinya dengan cukup santai, intro yang sederhana segera diikuti vokal yang cukup menyita perhatian, terlebih ketika masuk reff dengan ketukan drum masih tetap stagnan tapi kali ini dengan sedikit sentuhan synth dan iringan gitar meraung diikuti vokal meneriakan “We are, We are Stronger than the rocks that limit us. Live and Do better next time” memberikan mood yang enak dengan sedikit spirit encouragement. Menyusul berikutnya “Dreamer” sedikit beraroma ballad dengan rhytm & melody section catchy dengan vokal mengalun lembut, namun tidak berlangsung lama ketika beranjak memasuki reff, sound gitar yang mereka menjadi lebih bising seakan menunjukan jatidirinya kembali sebagai alternative rock, kemudian diikuti masuknya vokal kedua oleh Reney, meskipun agak sedikit timpang mengingat pitch dan power yang sangat jelas berbeda ketika mereka berduet tapi hal tersebut tidak mengurangi keutuhan pesan melankolis yang ingin disampaikan dalam lagu ini. Menjadi favorit saya di nomor selanjutnya adalah “Stay On The Track” sound grungy dan vokal agresif dari Reney, belum lagi bassline catchy serta ketukan drum yang variatif dengan tempo cepat bersemangat. Agak cooling down di bagian interlude dengan selingan permainan synth, sebelum kemudian kembali menghentak dengan kebisingan khas grunge lalu diakhiri dengan elegan. Kredit positif diberikan pada pemilihan sound gitar yang terdengar gagah sepanjang lagu. Stella kembali mengambil alih vokal utama di track berikutnya “M.I.B (Mind Is Battlefield)” tidak tanggung-tanggung kali ini Ia menunjukan performa terbaiknya, tampil dengan karakter vokal yang sangat seksi namun tanpa harus terdengar cemen, malahan terdengar lebih gahar dan agresif dengan lantunan vokal yang sedikit berteriak dan cenderung liar di bagian reff, dengan diiringi oleh musik yang cepat dan rapat serta dukungan dari string section pada bagian akhir yang jelas menambah kemegahan atau lebih tepatnya kemegahan yang liar. Layaknya sebuah dessert sebagai hidangan penutup yang bisanya bertekstur lembut serta memiliki cita rasa manis, Scaller menjadikan “Time’s Full Of You” sebagai penutup yang cukup singkat dari rangkaian EP 1991. Petikan gitar akustik mengalun mengiringi vokal yang begitu lembut seksi melagukan lirik romantis terasa menyejukan dan membuat suasana menjadi gloomy.

Kematangan adalah hal yang saya rasakan melekat pada Scaller setelah mendengar keseluruhan EP 1991 ini. Dalam rekam jejak perdananya ini Scaller tidak perlu diragukan lagi secara musikalitas berbekal referensi musik yang luas hingga melampaui batas jaman, pola pembentukan karakter yang cenderung segmented tanpa harus takut kehilangan pasar, idealisme yang tidak melulu harus berasal dari akar. Bukan hal yang sulit rasanya bagi Scaller untuk terus berkembang dan melampaui batas kreativitas, batas negara, ataupun batasan-batasan yang mereka buat sendiri. Seperti halnya sesuatu yang baik itu sangat layak untuk dilanjutkan maka EP 1991 seharusnya dapat menjadi batu loncatan bagi Scaller, sebuah loncatan besar, sebesar yang dibutuhkan untuk mengulang kembali kondisi seperti tahun 1991, dimana akan ada lagi sebuah periode yang mampu mengubah tatanan musik di masa mendatang.

[i] rekaman musik yang berisi lebih banyak musik daripada satu, tetapi biasanya terlalu pendek untuk memenuhi syarat sebagai album studio penuh atau LP

[ii] lelucon yang disengaja, pesan tersembunyi, atau fitur dalam pekerjaan seperti program komputer, video game, film, buku, atau teka-teki silang

[iii] Pada periode awal 90an lebih tepatnya pada tahun 1991 menjadi landmark bagi berkembang pesatnya scene musik alternative rock, banyak pendapat yang mengatakan hal tersebut dipicu oleh rilisnya tiga album kanonik yaitu Soundgarden dengan Badmotorfinger, Pearl Jam dengan Ten, dan terutama Nirvana dengan Nevermind. Ketiga album yang merubah arah musik rock dan banyak budaya anak muda pada umumnya, lalu kemudian mulai bermunculan band-band seperti Smashing Pumpkins, Blind Melon, Goo Goo Dolls, dll. Begitu halnya di tanah seberang muncul gelombang Britpop/britrock oleh The Stone Roses, Inspiral Carpet, Oasis, Blur, Suede, Radiohead ,dll. info lebih lengkap check http://www.billboard.com/articles/columns/pop-shop/6273792/1991-best-musical-year-1990s ; http://www.popmatters.com/post/136563-1991-a-landmark-year-for-rock-albums/ ; http://en.wikipedia.org/wiki/1991_in_music