I

Masa lalu kadang hadir dalam iringan alunan lagu. Bagi kita yang tumbuh besar di era awal tahun 2000an di saat gelombang musik cutting edge, yang dipopulerkan dengan cara yang cutting edge pula, mulai terangkat ke permukaan nama-nama seperti The Upstairs, Goodnight Electric, White Shoes and The Couples Company, dan Efek Rumah Kaca pasti merupakan nama-nama yang menciptakan musik pengiring masa lalu kita dahulu.

Masa lalu lelap dalam deret hitungan waktu. Kadang kita ingin membangunkannya kembali, melalui musik pengiring masa lalu kita, misalnya. Meskipun tidak pernah ada manusia yang membuktikan bahwa penjelajah waktu itu benar-benar ada dan saintifik, menghadirkan band-band pencipta lagu pengiring masa lalu kita dapat menghadirkan fragmen-fragmen dari masa lalu. Mungkin, manusia tidak hanya butuh piknik saja. Mereka juga butuh nostalgia. Nostalgia yang dilengkapi dengan fitur lengkap. Bukan sekadar ingatan dalam otak.

Atas dasar keinginan bernostalgia tersebutlah kemudian tercetus ide untuk mengulang masa-masa baik dahulu melalui sebuah rangkaian tour. Ruang Rupa kemudian mengorganisir beberapa band dari masa lalu untuk menghadirkan kembali kenangan baik dalam balutan keringat, asap rokok, dan teriakan di bibir panggung. Sesuatu yang sekarang sudah jarang terjadi sepertinya.

Purwokerto, yang sepertinya adem-adem saja kecuali ketika ada hingar bingar musik metal anak muda – ehhm bukan berarti juga kami tua- di luar dugaan mendapat kesempatan untuk menggelar tour dengan line up super panas yaitu Goodnight Electric, White Shoes and The Couples Company, dan Efek Rumah Kaca. Sebagai kota yang jarang disambangi band bagus, kami tidak sedang memberi sematan medioker pada kota tercinta ini, kesempatan langka tersebut tidak boleh dilewatkan dengan jawaban “ya nanti dulu, mas” atau “kupikir-pikir dulu, mas”. Untuk kesempatan seperti itu hanya ada satu jawaban “ya” dengan perhitungan-perhitungan mengenai ketidak mungkinan yang harus disimpan baik-baik dalam hati dan dipikirkan pemecahnnya selepas jawaban tersebut tercetus.

Untuk chapter Purwokerto, pihak yang pertama kali menginisiasi adalah Gufi dari Kongsi Jahat Syndicate. Ia membutuhkan panitia lokal yang dapat mengurus rencana tour ini. Maka, tidak salah dan tidak melenceng sama sekali ketika ia memilih Heartcorner Collective sebagai panitia lokal di Purwokerto. Terhitung setelah melakukan perjanjian dengan Gufi, maka kami resmi menandatangani perjanjian dengan setan. Dengan segala resiko yang harus kami tanggung sendiri, entah itu di dunia atau di akhirat! Atau mungkin kami yang sedikit berlebihan pada paragraf ini.

Setelah 2 minggu persiapan yang dibilang matang juga tidak terlalu matang, dibilang mentah tapi kami berusaha mematangkannya, dan dibilang setengah matang tapi persiapan kami masih membutuhkan suhu beberapa derajat untuk membuatnya menjadi sebutan itu, kami akhirnya menyatakan bahwa persiapan kami menuju tahap akhir. Segala hal teknis telah disiapkan, dan segala hal non-teknis telah diupayakan terlihat rapi. Dan kami, sebagai panitia lokal, menyatakan pada khlayak bahwa kami siap mengadakan Ruang Rupa Radio of Rock Tour 2016 Chapter Purwoketo yang akan diadakan tanggal 15 Februari 2016.

II

Seperti kebanyakan catatan pada umumnya, pasti banyak hal tidak terduga yang menarik untuk dicatat. Untuk bagian ini, kami memutuskan untuk mengisinya dengan hal tak terduga yang cukup signifikan bagi Ruang Rupa Radio of Rock Tour 2016 Chapter Purwoketo yang diadakan tanggal 15 Februari 2016 kemarin.

Seperti kami tulis di atas, Purwokerto belakangan sedang sepi kecuali ketika konser band metal anak muda menyambangi kota ini. Maka, menghadirkan rangkaian tour ini adalah sebuah, terus terang saja, beban bagi kami. Dengan hanya mengandalkan sosial media dan beberapa rekanan media alternatif, kami mengabarkan bahwa acara telah siap dan tiket dapat dibeli melalui contact person yang kami andalkan, Wiman, Society Coffee House, dan House Of Smith Purwokerto.

Awalnya kami sangat ketar-ketir dengan bagaimana penjualan tiket ini nantinya, sebab banyak faktor non teknis yang menghadang. Faktor penghadang utama adalah pasar pendengar line up yang dihadirkan di tour ini, para mahasiswa di salah satu universitas negeri di kota ini, sedang dalam masa liburan. Kami pantas khawatir karena toh pada kenyataannya dalam hal apapun kekhawatiran harus ada beriring dengan harapan, yang kadang kita munculkan sendiri.

Untungnya untuk agenda kali ini seperti dalam banyak lakon Bolywood, harapan datang pada saat-saat akhir dan menyelamatkan kami semua. Di luar dugaan para tiket box sukses menjual 263 lembar tiket hanya dalam waktu 3 hari. Keadaan ini membuat kami sedikit lega, seperti layaknya perasaan penonton ketika Sanjay Duth datang menyelamatkan sandera perempuan di akhir film Bolywood yang diputar di TPI pertengahan tahun 1990an. Dalam keadaan yang, sekali lagi, sayangnya telat.

Kami masih perlu bertanya pada diri kami sendiri, apakah pada hari H di venue semua orang akan menukarkan bukti pembayarannya, dan belum lagi apakah akan ada orang yang datang lagi selain 263 orang ini?

Seberapapun pertanyaan itu menghantui, kami tetap berpegang pada: sama seperti kematian yang ada beriring dengan kehidupan, maka kekhawatiran harus ada beriring dengan harapan.

III

Senin akhirnya datang, setelah malamnya Gufi membawa rombongan iLine dan mendirikan tembok suara yang megah. Karena bagaimanapun Senin adalah kunci. Sebelum berkumpul di venue, Pascalis Hall, kami sempat melantunkan doa dengan meminjam line Ugoran Prasad dalam “7 Hari Menuju Semesta”: “Senin sedang cerah, ijinkanlah kurayu dirimu, lukai aku, belahlah dadaku,renggut hatiku, makan jantungku” dengan harapan segalanya berpihak pada kami mulai siang sampai malam nanti.

Setelah semua terlihat beres dan nama-nama yang dijadwalkan mengisi gig pada malam harinya melakukan checksound, kami mulai memilah satu persatu orang yang harus diletakan di pos masing-masing. Kemal dan Atiq mengurus keadaan di venue bersama para krue. Efan dan Istrinya, Rezja, Suyud Melodic, dan Aong dipersiapkan untuk mengurus pintu masuk dan keamanan. Sementara Wiman, Anin, dan Adnan mengurus Workshop mengenai Radio Online dan Blogging di Society Coffee House bersama Oomleo dan Felixdass. Kami harus berterima kasih kepada Annisa karena secara khusus dia menjadi korban kepanikan Wiman ketika ditanya oleh Tema mengenai siapa saja yang akan duduk di bagian ticketing.

Apa yang menjadi kekhawatiran kami ternyata segera tuntas dan hilang tak berbekas hanya dalam hitungan jam. Karena semua pemegang bukti pembayaran menukarkan lembar tersebut dengan tiket, kecuali ada beberapa orang brengsek yang menyimpan dua lembar kertas saja tidak becus. Dan lagi terhitung hampir 400 orang membeli tiket secara langsung di venue! Pemandangan ini membuat kami ingin memerintahkan kelenjar air mata untuk bekerja, sebelum sinyal yang terlebih dahulu diterima otak kami adalah teriakan Gufi yang memerintahkan  berkonsentrasi pada pos masing-masing. Apa boleh buat.

IV

Selepas misa imlek selesai, ini juga hal yang sama sekali kami duga akan terjadi karena sebelumnya tidak pernah ada kabar-kabur mengenai hal ini, suasana di venue semakin padat. Willy Wonka sebagai penampil lokal sekaligus pembuka gig membuat kami sedikit ketar-ketir karena datang terlambat. Toh, sekali lagi semuanya sepertinya berpihak pada kami malam itu. Dengan naiknya Willy Wonka ke atas panggung, maka resmi Ruang Rupa Radio of Rock Tour 2016 dibuka.

Meskipun terhitung memiliki jam terbang yang rendah, para personil Willy Wonka terhitung fasih menguasai panggung dan penonton. Beberapa nomor dari debut mereka, Womenkind, dimainkan dengan mulus sekaligus memanaskan para penonton yang sudah masuk ke venue.

Band berikutnya juga masih terhitung sebagai tamu dalam gelaran Ruang Rupa Radio of Rock Tour 2016 karena mereka hanya akan mengisi panggung di Purwokerto dan Solo. Mereka adalah Sangkakala, anak haram glam rock dari Yogyakarta. Masalah penguasan panggung dan muncratan indah obat mercon di atas panggung sudah jadi hal yang wajar bagi mereka. Frontliner mereka mulai Blangkon, Atjeh, dan Iqbal terlihat sangat berpengalaman dalam menghadapi situasi panggung apapun. Koor terlihat di bibir panggung saat nomor “Sangkakala” dan “KANSAS” dimainkan.

Saat duo MC Gilang Gombloh dan Adjis Doaibu naik ke panggung selepas Sangkakala, jujur saja perasaan kami agak berdegup. Bukan tanpa alasan kami mengalami perasaan tersebut karena selepas Sangkakala, band yang dijadwalkan naik panggung adalah Goodnight Electric. Sebuah kesempatan yang sepertinya tidak mungkin terulang dalam dua kali hidup untuk menyaksikan mereka bermain di Purwokerto. Nomor-nomor monumental dari “Love and Turbo Action” seperti “Rocketship Goes By” dan “The Supermarket I am In” benar-benar membius dalam balutan kelap-kelip warna yang diramu oleh Bosku Gufi.

Kadar nostalgia yang sudah kadung tinggi akibat penampilan Goodnight Electric berhasil ditingkatkan oleh penampil selanjutnya, White Shoes and The Couples Company (WSTACC) yang malam itu tampil dengan muka-muka agak kelelahan. Koor kembali menggaung saat nomor-nomor tenar milik WSATCC seperti “Senandung Maaf” dan “Windu dan Defrina” dibawakan. Satu hal yang disayangkan adalah WSTACC malam itu tidak bisa tampil dengan formasi lengkap akibat Aprimela, idola kami bersama dengan kadar kelucuan jauh di atas ambang normal, tidak dapat turut mengisi panggung karena sakit.

Efek rumah kaca sebagai penutup rangkaian malam itu memang memiliki daya magis dalam menyita perhatian penonton dan menciptakan koor. Pada saat penampilan mereka, koor bukan hanya tercipta di bibir panggung melainkan di seluruh sisi venue. Animo penonton dalam mengapresiasi Efek Rumah Kaca memang terbilang luar biasa, padahal belum lama ini mereka baru saja hadir di Purwokerto dalam sebuah acara yang disponsori oleh sebuah produk rokok.

Segenap krue sudah mulai ketar-ketir karena tiba-tiba saja ada oknum berstelan militer menanyakan kapan acara akan selesai dan rumah mewah di depan venue sudah menyalakan lampu sorot. Mungkin pemilik rumah hendak mengundang Henri Batman ke rumahnya sehingga ia perlu menyalakan lampu sorot. Namun, begitu “Desember” dimainkan diiringi koor membahana pecah sudah kekhawatiran kami, karena itu adalah encore yang memang telah direncanakan sebagai penutup penampilan Efek Rumah Kaca.

V

Setelah selesai semua rangkaian di venue, bukan berarti para crue bisa nglius begitu saja untuk pulang dan bercengkrama dengan kasur, karena rombongan Ruang Rupa Radio of Rock Tour masih membutuhkan asupan kuliner malam guna mengganjal perut mereka sampai di Solo. Maka, para krue masih memiliki kewajiban untuk menyuguh mereka dengan makanan yang ringan namun brutal sekaligus bergizi rendah.

Gorengan tengah malam Pasar Wage kami jadikan pilihan yang memenuhi kriteria makanan yang kami sebutkan di atas. Sesampainya di sana, pemilik gorengan tersebut terlihat shock karena jumlah tamu yang cukup banyak plus sedikit liar dalam cangkeman. Sesi mbadhog berlangsung dalam suasana yang hangat dan diisi dengan tukar chit-chat antara para crue dan rombongan.

Setelah mbadhog-mbadhog selesai terlihat pemandangan yang mengingatkan kami pada sore tadi, namun kali ini berkebalikan. Apabila tadi sore rombongan diantri untuk penampilannya, maka dini harinya mereka harus gantian mengantri saat akan membayar makanan apa saja yang telah mereka badhog. Alam semesta menunjukan bahwa keseimbangan masih ada.

Seluruh rangkaian acara telah selesai, chit-chat juga disudahi karena tidak ada lagi energi untuk cangkeman. Maka, ini saatnya kami dan rombongan Ruang Rupa Radio of Rock Tour mengucapkan perpisahan. Mereka akan menuju ke Solo, sedang kami akan kembali ke rumah masing-masing dan bersiap menghadapi omelan juragan di tempat kerja akibat tindakan kriminal kelas berat yang bahkan Mahkamah Kemanusiaan di Hague pun tak bisa menolerirnya: membolos kerja di hari Senin. Masalah pledoi apa yang akan kami ajukan untuk membela diri biarlah itu menjadi urusan kami masing-masing, tapi masalah kebahagiaan kami lepas suksesnya Ruang Rupa Radio of Rock Tour 2016 chapter Purwokerto mari kita nikmati bersama.

Semoga ke depan Purwokerto akan dijadikan destinasi bagi band-band bermutu dari manapun. Plus, kami masih bisa menunjukan bahwa animo di kota ini akan terjaga sampai kapanpun. Kalaupun “sampai kapanpun” itu tidak terdefinisi jelas dalam deret angka tahun, maka paling tidak “sampai kapanpun” akan kami definisikan sebagai “sampai kami di Heartcorner Collective dimangsa hal lain-lain dalam rumah tangga yang mengharuskan kami berhenti berkreativitas”.

Terima kasih untuk kesempatannya, Ruang Rupa. Terima kasih buat kerjasamanya, Bos Gufi, Mutho, dan Gomblis (Salam lotek kuah dari guru cabul), Terima kasih untuk animonya, para penonton, dan terima kasih buat repot-repotnya, para krue dadakan. Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya.