Pembaca, apakabar? Semoga kalian disana baik-baik saja dan masih dapat membaca tulisan ini sembari berandai-andai hari ini akan melakukan apa saja tanpa harus dihantui ketakutan kalau tanah yang kalian tempati sekarang, saat membaca tulisan ini, berada dalam bahaya karena siap dicaplok oleh The Deadly Quartet, Aparat pemerintah yang meminjam tangan Polisi untuk menyelesaikan konflik Negara-Warganya di ring pertama, Tentara kurang kerjaan yang masih mengedepankan terminologi karet “Menjaga stabilitas nasional”, dan yang paling mengerikan adalah preman yang berdandan dengan seragam paramiliter yang tidak dapat dituntut dengan cara apapun karena mereka adalah siluman dalam arti sesungguhnya. Pembaca, keadaan mengerikan ini sedang terjadi pada para saudara kita di Rembang. Untuk melengkapi pengetahuan pembaca mengenai peristiwa tersebut, ada baiknya pembaca mencari tahu bukan dari koran atau media cetak nasional sebab informasi mengenai peristiwa tersebut sangat minim pada media cetak nasional. Pembaca dapat menggunakan twiter sebagai media alternatif untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di Rembang.

Pembaca, ini adalah kali pertama kami yang berada di heartcorner collective merilis tulisan semacam ini melalui media heartcorner.net, dan kami yakin mungkin banyak dari pembaca yang membaca tulisan ini akan bertanya mengenai kenetralan kami dalam membuat tulisan. Selama ini, menurut yang kami rasakan, terdapat segmentasi banal, sangat banal bahkan, yang meyebutkan bahwa seni, dalam hal ini kami sempitkan konteksnya sebagai musik, haruslah berada dalam koridor murni dimana ia tidak membawa muatan apapun dan harus selalu bersifat apolitis. Untuk pernyataan semacam itu maka kami dengan sangat maklum memahami logika berpikir si pembuat jargon “seni haruslah apolitis” sekaligus harus segera memberikan counter guna menyelamatkan generasi dibawah kita agar tidak tertular akibat dari tuntutan jargon “seni haruslah apolitis”, sebab kalau tidak, kita dan generasi dibawah kita akan tertular sebuah penyakit yang diidamkan oleh “penguasa-penguasa alam bawah sadar” yaitu menjadi pasif. Pembaca, counter yang kami tawarkan untuk jargon tersebut bersifat sederhana dan mudah untuk dicerna, sebab yang kami ketahui politik itu merupakan tindakan untuk menekankan kuasa kita dalam sebuah interaksi yang menghasilkan orang yang menjadi lawan kita berinteraksi terpersuasi atau menjadi percaya dengan apa yang kita utarakan. [1] Nah, dari counter tersebut apakah pembaca masih yakin bahwa seni, dalam pembahasan yang kita bicarakan dari tadi khususnya musik, itu bersifat apolitis? atau malah dalam keadaan dipaksa apolitis? Pembaca sendiri yang dapat menjawabnya, tapi kami punya jawaban sendiri, musik bukanlah seni yang bersifat apolitis, dan kami tidak bersifat apolitis, sebab kami dalam usaha untuk mempersuasi pembaca sehingga pembaca mengikuti alur berpikir kami yang dituangkan dalam tulisan ini.

Pembaca, guna mengakomodasi sifat non apolitis kami, kami berniat mengadakan sebuah studio gigs kecil-kecilan di X-on Studio, Jalan Brigjend Encung[2], Karangjambu (Sebelah Obamb Cafe) yang juga merupakan rangkaian solidaritas untuk warga Rembang. Studio gigs ini tidak dapat dipisahkan dengan aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh kawan-kawan kami siang ini pukul 13.00, bagi pembaca yang tertarik untuk datang pada studio gigs buatan kami silakan datang mulai pukul 19.00, kami akan menampilkan band-band yang selama ini berafiliasi dengan heartcorner collective. Esensi dari studio gigs kali ini mungkin lebih pada penggalangan dana massa, atau bahasa trendynya crowdfunding, yang seluruh hasilnya akan kami salurkan guna membantu saudara-saudara kita di Rembang, mungkin ini merupakan sebuah alasan pemaaf bagi kami yang mengadakan studio gigs dan crowdfunding karena “iman” kami masih lemah sehingga kami memutuskan untuk tidak turun langsung ke Rembang dan tetap tinggal di kota kami sambil menggalang dana dan memberikan pemahan seluas-luasnya pada warga awam mengenai apa yang terjadi di Rembang. Oh iya, Pembaca, karena ini berkaitan dengan uang, pembaca dapat mencatat nomor contact person penggagas studio gigs ini: Wiman Rizkidarajat (08122794432) guna mempertahankan akuntabilitas serta transparansi dari uang yang pembaca sumbangkan nanti saat studio gigs berlangsung, kami berjanji akan setransparan mungkin dalam menyalurkan dana yang kami peroleh melalui crowdfunding ini.

Sekian kiranya rilis mengenai apa yang akan kami lakukan nanti malam, Pembaca, mari berusaha menjadi aktif melalui kanal-kanal alternatif yang tersedia di kota ini, sebab ingat kalau bukan kita yang sedari sekarang melawan dan bergerak, maka kita seumur hidup kita akan meratapi nasib kita sambil mengingat apa yang dilantunkan Manic Street Preachers dalam nomor “If you tolerate this”[3]. Kami menanti partisipasi pembaca nanti malam dan sedalam-dalamnya kami meminta maaf apabila tindakan yang kami lakukan nanti malam dianggap masih dalam taraf koleltif yang ber”iman” rendah. Mari bantu saudara kita, mari melantunkan lagu bersama, mari melawan, kita harus menentukan sikap non apolitis. Salam.

[1] Pengertian politik sebagai alat persuasi dalam interaksi penulis kembangkan dari kerangka pengertian politik menurut Aristotle.

[2] Jalan Brigjend Encung ini cuma sekadar nama jalan, Pembaca, bukan kompleks militer. Kami masih punya akal sehat kok, mana mungkin kami berani berupaya menggebuk “macan” dikandangnya.

[3] Pembaca dapat membaca lirik lagu dari Manic Street Preacher yang berjudul “If You tolerate this” guna mendapatkan logika berpikir yang menempatkan pembaca dalam keadaan dimana apabila pembaca sedari sekarang sudah memberikan toleransi yang longgar terhadap para fasis dan selamat akibat toleransi tersebut mungkin generasi dibawah kita, yang mungkin tidak mentolerir perbuatan fasis tersebut, akan menjadi korban dari tindakan-tindakan fasisme yang dipraktekan negara melalui cara-cara yang terang-terangan maupun secara terselubung melalui mekanisme invisible hands.