Record Store Day adalah perayaan internasional untuk para pecinta rilisan fisik, dimana pada hari itu para penjual dan kolektor rilisan fisik berkumpul menjadi dalam satu tempat, entah itu hanya melakukan jual beli, trading, atau hanya saling berbagi cerita mengenai rilisan fisik. Hari tersebut bisa dibilang “sakral” untuk para pecinta rilisan fisik dan bisa juga disebut “surga” dimana mereka membelanjakan uang mereka hanya sekadar untuk melengkapi koleksi mereka. Baik rilisan baru maupu rilisan lama yang sudah terbilang langka. Euforia Record Store Day juga menular ke Indonesia sejak 3 tahun terakhir ini. Beberapa kota serempak untuk merayakan Record Store Day, tak terkecuali Purwokerto.

RSDPWT2015-3 RSDPWT2015-2

Untuk tahun ini, Record Store Day di Purwokerto bisa dibilang berbeda dari 2 tahun sebelumnya, karena pada tahun ini Record Store Day di Purwokerto akhirnya berhasil melengkapi dirinya dengan lapak record. Lapak ini diisi dengan cara menjaring beberapa reseller rilisan fisik agar bersedia membuka lapak di acara Record Store Daytahun ini. Hal ini menjadi kesuksesan tersendiri untuk Heartcorner Collective, karena pada 2 tahun sebelumnya hanya melakukan perayaan dengan Record Exibition dan gig kecil-kecilan. Selain lapak record , Record Store Day chapter Purwokerto juga membuat sebuah dokumenter mengenai hidup matinya toko rilisan fisik di Purwokerto.

Proses serta persiapan panjang dilakukan Heartcorner Collective demi terlaksananya Record Store Day tahun 2015. Banyak rencana yang dipersiapkan demi kesuksesan Record Store Day tahun ini di Purwokerto. Mulai dari acara Road to Record Store Day 2015 sampai proses panjang pembuatan dokumenter yang cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran. Untuk acara Road to Record Store Day Chapter Purwokerto 2015, Heartcorner Collective bekerjasama dengan radio Paduka FM Purwokerto, dengan membuat acara baru yang diberi nama “Paduka Mesin Waktu”. Acara yang mengudara di hari Jum’at kurang lebih pukul 21.30 – 24.00 ini. Acara tersebut berisi materi berupa sejarah rilisan fisik, persiapan untuk perayaan Record Store Day 2015, dan edukasi mengenai pentingnya rilisan fisik sekarang, karena seperti kita lihat dalam kenyataan bahwa di Indonesia pendokumentasian rilisan fisik sangat jauh dari kata baik.

Guna mendukung nuansa rilisan fisik, dalam acara “Paduka Mesin Waktu”, Heartcorner Collective memutar lagu-lagu melalui media tape dan piringan pitam. Selain sebagai nostalgia pada masa lalu, para cru Heartcorner Collective juga secara aktif memberikan informasi mengenai lagu yang diputar tersebut, entah itu penyanyi atau sejarah album tersebut.

Selain melalui radio, Heartcorner Collective juga menginginkan adanya edukasi melalui dokumenter pada pengunjung yang hadir di Record Store Day chapter Purwokerto 2015. Tema yang dipilih oleh Heartcorner Collective adalah tentang realitas yang dihadapi oleh toko penjual rilisan fisik di Purwokerto. Untuk mendukung tema tersebut, dipilihlah judul“Rise and Fall Record Store”. Dokumenter ini bercerita tentang realitas serta keprihatinan pada hampir seluruh toko rilisan fisik di Purwokerto harus gulung tikar karena imbas dari kemajuan teknologi dengan banyaknya lagu yang bisa diperoleh dengan mudah dengan hanya mendownload saja. Dahulu hampir di seluruh sudut kota Purwokerto mudah dijumpai toko kaset, namun sekarang hanya tersisa satu toko Kaset yaitu toko Nusantara. Untuk pengambilan gambar dan hal-hal teknis dalm film ini, Heartcorner Collective dibantu oleh salah satu seniman visual, yang secara visual gak enak dilihat, yang sudah tidak asing lagi di Purwokerto yaitu Kukuh Sukmana HS.

Banyak hal tak terduga terjadi dalam proses pembuatan film ini. Dari rencana awal Heartcorner Collective hanya berencana mewawancarai Pemilik Toko Nusantara yaitu Om Trisno, Kemal dari Heartcorner Records, Azis dari DeMajor Purwokerto, dan beberapa kolektor fisik. Tetapi ditengah proses pembuatan ini, para cru berhasil bertemu dengan Mas Roni yang dahulu pernah punya Toko Kaset Orion dan Yocki Banditos yang dulu sempat memiliki record label bernama Ciu Record. Seteelah sebelumny asempat kehilangan ide karena gagal menemukan Owner Toko Kaet Delta, para cru akhirnya mendapat suntikan motivasi ketika bertemu dengan Mas Roni dan mendengar cerita betapa dinamisnya penjualan rilisan fisik di Purwokerto melalui cerita Om Trisno. Salah satu cerita menarik dari Om Trisno adalah mengenai keberadaan toko piringan hitam di bilangan Kebondalem dahulu. Bisa dibayangkan betapa menariknya Purwokerto tempo dulu.

Setelah selesai menggarap Dokumenter sebagai pelengkap Record Store Day Chapter Purwokerto 2015, akhirnya tepat di hari Sabtu tanggal 18 April 2015 pukul 19.00 di halaman depan kantor Satelit Post acara puncak dimulai, ada 11 stand meramaikan Record Store Day Chapter Purwokerto 2015 seperti Heartcorner Records, Atiq Music Store, Toko Nusantara, DeMajors Purwokerto, Roni Orion, Wawan Dalban, Totman, Juli, Black Dots Store, Tade, dan Plummy Merch. Cuaca gerimis tak membuat para pecinta rilisan fisik mengurungkan niatnya untuk meramaikan acara Record Store Day Chapter Purwokerto 2015. Satu persatu pengunjung berdatangan baik untuk mbelanjakan uang mereka. Ada juga yang hanya datang untuk sekadar melihat-lihat ataupun hanya berkumpul bersama teman-teman. Hampir semua lapak ramai oleh pengunjung. Saya melihat lapak Mas Juli, Black Dots Store, Heartcorner Records, dan DeMajors menjadi stand yang paling diburu, dan mereka hampir kewalahan melayani para penggila rilisan fisik.

Acara ini juga diisi oleh penampilan DJ Hendrikus, yang sepanjang acara Record Store Day Chapter Purwokerto 2015 ini tidak berhenti bermain dengan DJ set serta turntablenya. Pukul 20.00 didaulat sebagai waktu untuk pemutaran dokumenter yang telah dipersiapkan oleh Heartcorner Collective. Ketika pemutaran, fokus pengunjung langsung tertuju pada screen dadakan yang disediakan oleh cru Heartcorner Collective. Semula pemutaran dokumenter ini berjalan lancar, namun ditengah-tengah film, karena terbiasa keple, terjadi kesalahan teknis yang mengakibatkan film ini berhenti sejenak. Namun dengan cepat dan tanggap Anin Cipling mampu mengatasinya.

Banyak tawa, banyak cerita datang dari pengunjung setelah menonton dokumenter ini, karena memang banyak hal yang bisa diambil dari film ini. Tepat pukul 23.00 Panitia dari Heartcorner Collective dan para pelapak sepakat untuk mengakhiri acara Record Store Day Chapter Purwokerto 2015 tahun ini. Banyak wajah bahagia terpancar dari wajah para cru, terutama Wiman, yang memang menjadi otak pada gelaran Record Store Day Chapter Purwokerto 2015. Beberapa lapak juga bisa bernafas lega, setelah mendapati kenyataan bahwa ternyata respon masyarakat Purwokerto terhadap rilisan fisik masih tinggi. Hal ini terbukti dari beberapa pelapak yang sukses menjual puluhan rilisan fisik mereka pada gelaran kali ini.

Melihat banyaknya animo pengunjung, ternyata Record Store Day Chapter Purwokerto 2015 sangat berbeda. Dapat saya katakan demikian karena ternyata masih banyak juga pemburu rilisan fisik di tengah menjamurnya pemburu batu aqique. Beberapa kawan juga sempat menyeletuk untuk membuat sentra rilisan fisik guna menyaingi makin banyaknya sentra batu aqique di sembarang tempat dan pasti ramai pengunjung. Recoed Store Day Chapter Purwokert 2015 memberikan keyakinan baru bahwa rilisan fisique suatu saat nanti bakal bisa menyamai ternyata masih banyak juga pemburu rilisan fisik di tengah menjamurnya pemburu batu aqique. Beberapa kawan juga sempat menyeletuk untuk membuat sentra rilisan fisik guna menyaingi makin banyaknya sentra batu aqique di sembarang tempat dan pasti ramai pengunjung. Recoed Store Day Chapter Purwokert 2015 memberikan keyakinan baru bahwa rilisan fisique suatu saat nanti bakal bisa menyamai hypenya rilisan batu aqique. Yang jelas pendapat itu ngawur.

Semoga tahun depan acara Record Store Day di Purwokerto bisa lebih meriah dan kesadaran masyarakat terutama di Purwokerto untuk menjaga pentingnya rilisan fisik dan dokumentasi tetap terjaga. Sehingga apresisasi pada musisi yang berkarya melalui rilisan album bisa tetap hidup di kota kecil ini. Jaya terus rilisan fisik! (AFA)