Pembaca, apa kabar? Apakah kalian baik disana? Sudah barang tentu seperti yang sudah-sudah saya (kembali) mewakili teman-teman dalam komunal kreatif heartcorner.net berharap pembaca dalam keadaan yang baik disana. Pembaca, tahukah pembaca bahwa dibulan April ini ada sebuah hari spesial berupa hari dimana para penyambang toko rilisan fisik musik merayakan hari mereka? Ya, hari tersebut lazim dinamai sebagai Records Store Day, sebuah hari yang sakral bagi para penggemar dan pengumpul rilisan fisik musik karena pada hari tersebut biasanya para pelaku “Records Store” melakukan cuci gudang sekaligus memperlihatkan koleksi ajaib mereka disatu tempat bersama khusus pada hari itu. Bagi saya yang mengemari rilisan fisik musik sudah barang tentu hari tersebut menjadi hari yang sama menariknya ketika dulu waktu kecil orang tua saya  mengajak saya untuk mengunjungi toko es krim Brasil.[1]

Pembaca, sebelum menceritakan lebih jauh mengenai Records Store Day Purwokerto ada baiknya saya secara hermeneutik[2] menjelaskan mengenai apa itu Records Store Day. Disini saya tidak akan melakukan “pencarian wikipedia” mengenai apa itu arti Records Store Day secara global karena disini saya menulis untuk mewakili Records Store Day Purwokerto yang memiliki sesuatu yang berbeda. Baiklah, perbolehkan saya untuk mulai mengupas Records Store Day secara hermeneutik. Records Store Day secara hermeneutik memiliki susunan kata yang apabila diinterpretasi menjadi makna kalimat bermakna hari toko rilisan fisik (sepertinya ini sih sekadar alih bahasa saja ya? Nggak ada hermeneutikanya sama sekali),  sudah barang tentu makna kalimat tersebut akan membawa alam bawah sadar kita membayangkan mengenai banyaknya orang yang berjualan rilisan fisik disatu tempat yang terpusat, terdapat sirkulasi jual-beli pada hari tersebut, dan di Records Store Day terdapat perbandingan yang lurus antara minat akan rilisan fisik dan ketersediaan rilisan fisik pada hari itu. Itu yang seharusnya tertanam dalam alam bawah sadar kita melalui interpretasi kalimat Records Store Day, namun itu tidak terjadi disini, ditempat kita tinggal, Purwokerto. Seperti kita bersama ketahui, di Purwokerto sekarang hanya tersisa 2 Record Store yaitu Nusantara yang legendaris dan Orion yang nampak mampu berkompromi dengan selera anak muda melalui tersedianya beberapa CD dan Boxset band-band beraliran cadas disana. Dengan lengangnya kedua toko tersebut meskipun pada hari libur, sepertinya bayangan saya (dan mungkin pembaca) mengenai ramainya Records Store Day pasti runtuh. Saya (dan mungkin sebagian dari pembaca) pernah menjadi manusia yang beruntung karena masih melihat rilisan fisik yang berjejer rapi di Nusantara, tapi saya (dan mungkin sebagian dari pembaca) disisi lain pernah menjadi manusia yang menderita karena kita melihat runtuhnya toko rilisan fisik yang paling gaul pada masanya, Delta.[3] Roboh dan sepinya toko kaset dan CD membuat kami di heartcorner.net berpikir bahwa kami mampu menyediakan lahan alternatif pada hari yang istimewa tersebut, meskipun nyatanya tidak.

Pada 19 April 2013, saya dan kawan-kawan heartcorner.net merangkul De Majors Purwokerto serta Dalban Vinyls untuk mencoba mengadakan perayaan Records Store Day Purwokerto sekaligus mencoba membentuk sebuah ruang alternatif untuk berjualan rilisan fisik  di Lemari Kayu.[4] Pada perayaan Records Store Day Purwokerto yang pertama, saya dan teman-teman masih belum menyadari pentingnya konsep yang mampu memberikan edukasi serta spesifikasi pada khalayak luas, kami disitu malah cenderung melakukan eksibisi dengan mengesampingkan secara tidak sadar terdapatnya kata “store” dalam Records Store Day. Sore hingga malam itu kami hanya berbicara ngalor-ngidul gak jelas dan tidak menjual sekepingpun rilisan fisik, sampai-sampai ada orang yang bertanya tujuan kita waktu itu apa? Eksibisi atau mengakomodasi kata “store” dengan cara berjualan ? kami kaputt pada perayaan Records Store Day Purwokerto yang pertama.

Belajar dari kesalahan ketika saya dan kawan-kawan mengadakan Records Store Day Purwokerto pertama, kami bermaksud mengadakan perbaikan pada penyelenggaraan Records Store Day Purwokerto yang kedua ini. Dengan adanya kenyataan yang terpapar pada penjelasan diatas, kami dengan ini resmi melepas makna kata “store” pada Records Store Day Purwokerto, kami pada gelaran kedua ini bermaksud memberikan sesuatu yang berbeda meskipun mungkin  mengingkari arti secara global dari Records Store Day. Guna Mengakomodasi makna baru yang hendak kami sampaikan, kami memiliki konsep yang kami gagas sebagai berikut, pembaca:

  1. Kami berniat melakukan eksibisi yang berisi beberapa orang yang mewakili beberapa komunitas kreatif di Purwokerto. Eksibisi tersebut niatnya akan kami rekam dalam bentuk video dan diputarkan pada saat acara Records Store Day Purwokerto berlangsung di Blasta Casual Resto, Minggu 20 April 2014. Konten yang ingin kami sampaikan dalam video tersebut adalah cerita dari beberapa orang yang hingga saat ini masih menyimpan dan memainkan rilisan fisik, serta kami akan meminta mereka untuk menceritakan pentingnya rilisan-rilisan fisik yang mereka miliki kaitannya dengan bagaimana rilisan fisik tersebut mempengaruhi dan membentuk selera mereka terhadap genre yang sampai saat ini masih setia untuk mereka dengarkan.
  2. Kami berniat mengadakan gigs kecil-kecilan disela-sela perayaan Records Store Day Purwokerto yang menampilkan 4 band lintas genre dan lintas komunitas, dengan syarat band-band tersebut harus memainkan sebuah cover version dari band yang masih mereka miliki rilisan fisiknya serta menjadi inspirasi mereka dalam membentuk band dan memberikan pengaruh pada mereka mengenai pilihan genre yang kini mereka usung.

Pembaca, itulah kiranya konsep yang ingin kami usung dalam Records Store Day Purwokerto besok tanggal 20 April 2014 di Blasta Casual Resto. Saya sebagai penulis issue ini  dengan sangat berat hati melakukan penggeseran makna terhadap makna global dari Records Store Day. Apabila dituduh menyimpang, maka ijinkan saya melalui tulisan ini pula untuk meminta maaf, dan apabila dianggap menghilangkan esensi dari pengertian Records Store Day secara global maka ijinkan saya menganggap saya dan kawan-kawan saya cuma ingin ikut merayakan sekaligus meramaikan hari yang kami anggap sebagai sebuah hari yang istimewa.

Pembaca, sekian kiranya issue mengenai agenda kegiatan kami di heartcorner.net. Apabila pembaca setelah membaca tulisan ini ingin atau berminat untuk turut berpatisipasi merayakan Records Store Day Purwokerto silakan datang, kami selalu menerima dengan tangan terbuka. Mari merayakan hari yang istimewa bersama kami, salam.


[1] Brasil adalah es krim asli buatan Purwokerto, dahulu sebelum memiliki toko sendiri di Kebondalem, saya kerap diajak membeli es krim Brasil di P.D Chandra , sebuah toko roti yang terletak di rentetan rumah toko Kebondalem bagian timur utara oleh orang tua saya.
[2] Penafsiran makna kata dalam sebuah kalimat yang didasarkan pada teori interpretasi. adjective 1. interpretive or explanatory (English Oxford Learner Dictionary)
[3] Delta adalah toko kaset dan CD yang terletak di daerah Stasiun Timur, Purwokerto. Pada eranya Delta adalah Toko kaset yang paling digemari kawula muda di Purwokerto karena selain menyediakan rilisan yang sangat up to date, Delta juga menyediakan fitur pembuatan mixtape yang membuat kita bisa membuat kompilasi ilegal sesuai dengan keinginan kita.
[4] Lemari Kayu adalah sebuah distro yang menyediakan sepatu, pakaian, dan piringan hitam yang terletak di Utara SMP Negeri 8 Purwokerto.