Sudah lama sepertinya saya tidak menyaksikan pementasan Teater Timbang. Teater kampus Hukum Unsoed ini dalam waktu yang lama tidak menampilkan pementasan, entah apa sebabnya. Tapi pada tanggal 18 desember lalu Teater Timbang kembali melakukan pementasan dan meresureksi kembali eksistensinya. Hal tersebut terbukti dengan antusiasme mahasiswa hukum dan pegiat teater kampus yang datang, memadati tempat pementasan, dan menghabiskan kerinduan akan pementasan Teater Timbang.

Pementasan “Aku dan Buih” yang diadaptasi dari buku Risa Saraswati dengan judul “Maddah” oleh Alex Beret Arak menceritakan kisah kehidupan getir seorang penari yang memutuskan berhenti kuliah untuk lebih memilih menari di sanggar. Diceritakan, segala kegetiran berawal dari kedatangan seorang pelatih tari baru yang membuat kehidupan si gadis penari ini berubah drastis. Farid adalah nama pelatih tari yang telah beristri namun tetap menarik bagi si gadis penari. Kejadian menjadi runyam ketika dengan fakta demikian tidak lantas membuat gelora asmara gadis penari padam, melainkan justru membuat si gadis penari ini tunduk dan merelakan dirinya untuk menjadi yang kedua bagi Farid.

zaki2
zaki1

Cukup lama kedua insan tersebut menjalin kasih terlarang. Meski mereka berdua merahasiakan hubungan tersebut dari rekan-rekan mereka di sanggar, namun karena sebuah kesalahan, Wulan, sahabat perempuan itu mulai curiga dengan hubungan keduanya. Akhirnya, hubungan mereka terbongkar dan Wulan melaporkan hubungan itu kepada orang tua si perempuan. Karena mempertahankan hubungan dengan Farid yang berstatus sebagai suami orang, maka perempuan itu di usir dari rumahnya. Awalnya sang ibu sempat menahannya untuk tidak pergi. Namun pada akhirnya dia  tak mampu untuk mencegah anak perempuannya pergi dan memilih untuk tinggal di sebuah kamar kos bersama Farid. Farid dan penari ini akhirnya resmi menikah setelah, sebelumnya, si perempuan hamil. Si perempuan penari mengidamkan kebahagiaan dari Farid, tapi apa daya. Kebahagiaan yang ia idamkan sirna setelah Farid sering pergi dalam waktu yang lama tanpa kabar dan selalu pulang dalam keadaan marah.

Tak cukup sampai disitu, penderitaan si penari ini bertambah dengan larangan Farid yang membuatnya berhenti menari, setelah sebelumnya Farid memutuskan untuk keluar dari sanggar menari tempatnya pertama kali bertemu dengan si penari. Pelarangan ini dilakukan dengan anggapan agar pengorbanan Farid impas, namun dengan cobaan yang datang bertubi pada perempuan penari tersebut, Farid masih saja menganggap perempuan itu sebagai pembawa sial yang menghancurkan karirnya. Puncak penderitaan perempuan penari tersebut datang seiring dengan masa kandungannya yang semakin besar. Farid memukul tangan perempuan penari dengan helm, yang berakibat pada tak bisa digerakannya tangan perempuan itu, dan pada akhirnya istri pertama Farid datang lalu mencaci perempuan penari di muka umum. Para tetangga mencemooh perempuan penari, meski hanya melalui tatapan, Farid kembali kepada istri pertamanya. Perempuan penari sendiri dalam keadaan yang tentu saja sulit untuk dikalimatkan dalam ucapan.

Dalam kesedihannya, suatu hari tiba-tiba datang sebuah paket berisi baju bayi ke rumah kontrakan perempuan penari. Ia langsung berasumsi bahwa paket tersebut adalah  kiriman dari ibunya karena terlihat dari selera pemilihan model dan warna pakaian bayi di dalamnya. Saat itu pula ia menyesali dengan jalan yang telah dipilihnya. Ia mennyelami kembali kerinduan pada orang tuanya, pada Wulan, sahabat dari taman kanak-kanak hingga menari di sanggar, yang dulu pernah dia benci karena melaporkan hubungannya dengan Farid. Pementasan akhirnya ditutup dengan siluet yang menggambarkan seorang anak yang sedang membaca surat dari ibunya, tentu saja anak itu adalah anak dari perempuan penari. Adegan siluet yang ini cukup menggabarkan asumsi saya, ditambah lagi dimana saat sang anak membaca surat, juga terdapat siluet seorang perempuan yang menari dan mebayangi anak tersebut, anak yang kemudian dibawa oleh kakek dan neneknya. Kakek dan nenek yang pernah mengusir ibunya.

Dari sekitar 40 menit pementasan ini, yang menjadi menarik bagi saya adalah interaksi penonton dalam menyaksikan lakon yang menurut saya cukup gertir ini. Secara teknis terdapat kekurangan yang memakan waktu, karena penggunaan tiga panggung yang menandakan perubahan setting hanya melibatkan seorang pemain saja, sehingga membuat waktu terbuang dalam perjalanan dari satu panggung ke panggung lainnya. Tim kreatif pementasan ini sebenarnya telah menyiapkan inisiatif yang baik dalam mengurangi kekosongan waktu ketika terjadi perpindanhan setting, yaitu dengan menyiapkan tim musik guna mengiringi perjalanan si pemain. Namun yang terjadi malah penonton turut serta menyanyi bersama tim nusik tersebut, sehingga, menurut saya, suasana penonton mengurangi kegetiran yang dibawakan dalam lakon pementasan malam itu.

Diluar itu semua, Teater Timbang membuktikan bahwa mereka masih ada dan akan tetap ada. Mereka membuktikan keberadaannya melalui pementasan “Aku dan Buih”. Teater Timbang telah bangkit dari masa-masa “ketiadaan” dan kembali mendapatkan eksistensinya. Selamat!

(Mochammad Zakky N S, Pamengku Teater Si Anak FISIP Unsoed)