Salam budaya. Apa yang pembaca sekalian banyangkan ketika datang ke pertunjukan teater kampus? Pastilah sebuah panggung sederhana hasil menyulap ruang aula kampus, setting dan pencahayaan sederhana yang jauh dari kesan standar. Betul sekali, inilah yang terjadi di pementasan teater receh Fakultas MIPA Unsoed, pentas ini hanya menggunakan ruang kelas, tanpa tambahan panggung, lighting hanya sekitar 8 lampu, dan music akustik yang hanya disalurkan lewat beberapa speaker aktif yang hanya cukup untuk membuat penonton pada barisan belakang mendengar suara musik yang diperkeras dengan sound seadanya dengan samar-samar.

Setelah saya menunggu cukup lama, pentas pun dimulai dengan mempertunjukan siluet dimana adegannya menceritakan seorang gadis yang sedang terikat dan dicacimaki oleh seorang perempuan paruh baya. Gadis terikat tersebut adalah gadis yang diculik dan dihilangkan karena mencoba menguak kejahatan para petinggi perusahaan yang berkongkalikong dengan pemerintah dalam kasus kebakaran perkampungan.  Selepas adegan itu, adegan selanjutnya  memunculkan tokoh pria yang sedang bermalas-malasan di sebuah taman, tentu saja adegan ini bakal apik tersaji seandainya setting panggung mendukung. Ternyata, pria tersebut adalah seoarang yang telah menunggu lama untuk bertemu lagi dengan kekasihnya. Dialog demi dialog mengantarkan kita menuju cerita demi cerita yang menggambarkan latar belakang dan kisah dari pria di taman tersebut, mulai dari kekasihnya yang hilang, hidupnya yang hancur karena kebakaran yang menghabiskan rumah beserta isinya, juga meninggalnya kedua orang tua pria tersebut. Setelah usai dialog pengantar kisah hidup pria tersebut, barulah kemudian muncul seseorang yang dinantinya, pemeran perempuan akhirnya tampil di atas panggung dan membuat cerita semakin menarik. Dalam pertemuan mereka berdua, setelah dikisahkan kalau mereka lama terpisah, sempat terjadi adu mulut antar keduanya, namun pada akhirnya mereka berdua bisa saling terbuka karena kesamaan nasib, lelaki dan perempuan itu sama-sama kehilangan rumah dan desanya. Mendekati ujung pementasan, intensitas dialog antar pemeran pria dan perempuan semakin menjadi, beberapa dialog yang terkesan puitis dan sedikit mesra membuat penonton sejenak dapat berpaling dan berteriak menanggapi dialog mereka berdua dengan sorakan standar khas mahasiswa berupa “ahhhhh”dan “cieeee” sebelum akhirnya para penonton tersebut kembali berpaling buat memainkan jari-jari di smartphone mereka. Pemandangan tersebut sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang positif sebab sudah barang tentu harapan dari penyelenggara pementasan adalah konsentrasi penuh dari penonton yang tidak terbagi dengan apapun, bahkan dengan kesibukan penonton dan smartphone mereka. Beruntung minimnya perhatian penonton hanya terjadi pada sebagian dari mereka saja, sebab masih terdapat beberapa penonton yang memusatkan perhatiannya pada pementasan dan memberikan kritik terhadap pelaksanaan pentas.

IMG_0757
IMG_0754
IMG_0750

Penghilangan Paksa, Penggusuran Pemukiman Atas Nama Investasi dan Pembangunan: Sebuah Korelasi dan Kritik Melalui Pementasan “Orang Malam”

Pembaca, sebagai seorang penikmat dan pelaku teater, selepas menyaksikan pementasan “Orang Malam” saya mencoba mengkorelasikan naskah pementasan besutan Soni Farid Maulana dan teman-teman teater Receh dengan kondisi kontemporer negara ini. Pertama, saya mengkorelasikan “Orang Malam” yang mencoba menampilkan potret buram bangsa ini, penghilangan paksa beberapa aktivis kemanusiaan, dengan kenyataan di negara ini. Bila kita ingat dalam banyak kasus, beberapa orang yang mencoba menguak kebenaran banyak yang hilang, entah itu hilang secara nyata atau dihilangkan secara paksa oleh negara. Hilangnya orang yang mencoba menguak kebenaran sudah pasti menyisakan pertanyaan bagi kita semacam: mereka ada dimana, masih hidup ataupun sudah mati, dan kalau sudah mati mereka dikuburkan dimana? Hal pahit semcam itu dialami oleh beberapa tokoh seperti, sebut saja Tan Malaka, Wiji Thukul dan beberapa aktivis atau mahasiswa pada masa Orde Baru. Sebagian yang lain mungkin  nasibnya jauh lebih jelas, ditemukan tewas menggenaskan, seperti Marsinah, Udin, Munir dan lainnya. Mereka yang harus meregang nyawa karena menguak kebenaran, menegakan Hukum dan Kemanusiaan, harus disingkirkan. Pemerintah bangsa ini terlalu takut mengakui sesuatu yang klise yang selalu terjadi, yaitu ketakutan akan kebohongan-kebohongan yang telah mereka ceritakan demi mengamankan posisi mereka. “Orang Malam” sukses mengkorelasikan hal pahit dari kenyataan untuk membela kemanusiaan di negara ini dalam adegan serta dialog yang mereka sajikan dalam pementasan malam itu.

Kedua adalah isu soal pembangunan, belum lama kita disuguhi dengan aksi militan ibu-ibu petani di Rembang dan para petani Karawang, mereka tidak rela tanah pertanian mereka dijadikan pabrik semen dan perumahan. Namun atas nama penanaman modal, pemerintah dengan PT. Semen Indonesia mengerahkan TNI untuk memukul mundur warga Rembang, beberapa kali terjadi keributan antar warga dan TNI, dan kini Ibu-ibu petani Rembang tengah melakukan Sidang. Dan lahan yang menjadi konflik, kini menjadi area latihan militer. Tak jauh beda dengan Rembang, Karawang pun demikian, pemerintah dan Agung Podomoro grup menurunkan brimob dan water cannon  untuk memukul mundur warga Karawang, tak segan aparat memukuli warga jika nekat tetap bertahan. Kasus ini berakhir dengan dipenjaranya bupati Karawang atas dugaan kasus korupsi. Sekali lagi “Orang Malam” dapat mengangkat kisah yang sama melalui jenis teror yang berbeda, pembakaran desa, namun intinya pementasan tersebut memberikan gambaran pada saya mengenai bagaimana perasaan terteror ketika kita menentang isu pembangunan yang dihembuskan pemegang modal yang bekerja sama dengan pemerintah. Kita cuma punya satu pilihan yaitu patuh!

Pembaca, demikianlah kesimpulan saya, pementasan yang seharusnya dipertontonkan oleh teater kampus adalah pentas yang tidak melulu mempermasalahkan soal estetika mengenai bagaimana gesture, musik, dan setting panggung terlihat menarik, melainkan bagaimana cara membalut sebuah isu secara menarik agar proses edukasi terus berlanjut dan penonton pulang dengan pengetahuan baru, mengenai bagaimana bangsa ini memiliki sisi hitam yang menakutkan dan tidak terkuak sampai saat ini. Sebagai penutup, pantas kiranya saya mengutip apa yang dikatakan W.S. Rendra dalam sajaknya yang menggetarkan, “Sebatang Lisong”, “Apakah arti kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan”. Sekian tulisan yang bisa saya sampaikan kepada pembaca, Salam budaya, Salam seni untuk keberpihakkan.

(MochammadZakky N S, Pamengku Teater Si Anak FISIP Unsoed)