Artist: Doyz | Album: Oblivion | Genre: Hip Hop | Label: Baturaja Records/Grimloc Records | Tahun: 2015

1, 2, 3, Lets go. Siapkan headset ditelinga dan bersiap untuk melongo. Album kedua dari Doyz Da Noiz yang berjudul “Oblivion” akan membawa anda berwacana. Setelah 13 tahun lalu meluncurkan album berjudul “Perspektif”, maka album kedua ini adalah jawaban atas kelupaannya untuk berkarya. Mungkin itu adalah salah satu alasan Doyz mengambil judul “Oblivion”, disamping banyaknya pembahasan tentang “kelupaan” para hip hop kids tentang hip hop itu sendiri dalam album ini.

Di album ini Doyz mempercayakan penggarapan beat kepada Jozzi Gesiradja, sedangkan sisanya Doyz memberikan mandat pada beatmakers yang ia pilih sendiri; Gantazz, J-Beat, Morgue Vanguard dan Jay Beathustler. Oblivion terdiri dari 9 lagu dan 1 instrumen, dengan beberapa lagu yang berisikan kolaborasi dengan Ras Mohammad, Morgue Vanguard (eks-Homicide), dan teman setianya Eric Probz dalam formasi legendaris Blakumuh.

Lagu pertama dibuka oleh “Tinju Di Angkasa” yang meninju melalui “hentikan rapper kancut jadi terkenal, karena hip hop telah menjadi pelacur dan lelah setelah habis ditunggangi oleh mereka yang tak becus rap. Namun butuh landasan pamor dan bacot triakan nasionalisme hingga bibir jontor”. “Kemudian rakyat kurus kering butuh lebih dari suplemen terlalu sibuk gemukan anggota parlemen” menjadi salah satu punchline dalam lagu kedua berjudul “District 21” bersama Eric Probz. Bisa dibilang lagu kedua ini terdapat barisan punchline dari Doyz dan Eric Probz yang menjelaskan mengenai Jakarta sebagai rumah mereka. “inTVdual” menjadi lagu ketiga dalam album ini. Doyz berbicara bagaimana televisi menjadi momok yang mengerikan yang terus dikonsumsi saat kalian menyendiri ketika pemuda nganggur berlomba menjadi mercenary. “Testamen” dalam baris keempat menyambar saat kepingan CD sedang diputar. Kali ini Doyz berkolaborasi dengan Morgue Vanguard (ex-Homicide). Saya tidak perlu meragukan lagi kualitas ayat-ayat yang diciptakan MV. Tetamen menjadi penting karena sudah waktunya MV menulis sebuah hikayat untuk para umat agar tidak tersesat dan lupa akan sejarah mereka sendiri. Doyz bercerita bahwa “jargon dekade ini gejolak kawula muda” menunjukan jelas tahun dimana pada tahun 80an Hip Hop mulai masuk ke Indonesia. Testament adalah penanda zaman.

“Melarat Akibat Muslihat” pada baris kelima sebagai interlude tanpa lirik yang member nafas bagi saya sebelum tercekik. “Aksis Sang Iblis” melesat di deretan keenam. Kocokan gitar gaya Hardcore 90an sangat cocok dipadu bersama rappin dengan konten tentang eksploitasi yang tak berkeadilan yang mengingatkan saya kepada Dog Eat Dog, meskipun karakter vocal khas Doyz sangat lembut dalam lagu ini. Kemudian ”Prosa Wangsa” muncul dengan cerita ”Ideologiku pertemanan lebih kuat dari ribuan demonstran di depan gerbang kekuasaan” antara Doyz dan Eric Probz. Lagu ini pula yang membuat saya sangat menginginkan Blakumuh dengan formasi utuh untuk segera merilis album kembali. Lagu kedelapan berjudul ”Primitive Future” keseluruhan lirik disajikan dengan bahasa Inggris, karena rumit untuk mengartikan saya hanya bisa meringis (LOL). Sebelum menuju lagu di baris terkahir Doyz terdapat lagu berjudul “Bumi Hari ini #3”. Jika pendengar atau pembaca akrab dengan yang namanya Jioniz, nah lagu ini membicarakan hal tersebut. Berkolaborasi dengan Ras Muhammad dengan rapalan Lion Roar sangat khas miliknya. Jika boleh tahu bumi hari ini yang pertama di album apa ya..? “Habitat Para Ilmuwan” pada baris terakhir menyisakan cerita tentang sebuah harapan mirip teori keadilan milik John Rawls, atau saya yang menjelaskan asal ceplos. Tapi, gagasan tentang dunia baru penuh kebaikan bisa jadi juga miliki Benedict Anderson dalam Imagine Community. Ya sudahlah daripada utak-atik saya gak pas, saya cukupkan dengan sekadar menyebut lagu tersebut sebagai lagu terakhir yang ada dalam Oblivion.

Sebelumnya maaf jika saya banyak melakukan joke dalam mereview album ini. Saya secara subjektif akan mengatakan bahwa: “album kedua Doyz kali ini sungguh sangat berbeda dengan “Perspektif””. Perbedaan mencolok terdapat pada permainan diksi dan metafora yang lebih kompleks. Jadi, saya sarankan untuk sebelum menyimak album ini, bacalah dulu banyak buku kemudian ketika menyimak album ini sandingkan sleeve lirik album ini dengan mesin pencari canggih milik kalian biar gak percuma mereka menyampaikan edukasi kepada kalian. Satu hal yang tidak berubah di album ini adalah teknik straight flow khas milik Doyz. Saya seakan sedang mendengar dongeng dari Mos Def. By the way, bagi saya album Perspektif tetap lebih Boom Bap dengan sound vintage yang memiliki preferensi ke Damu De Fudgemunk dan beat garapan Rawkus Record. Berbeda jauh dengan Beat instrument dalam “Oblivion” yang cenderung variatif menyerupai milik Marley Marl, Dalek, Slum Village, A Called Tribe Quest.

Saya akan memberi tambahan dari perspektif pribadi saya bahwa “Oblivion” menjelaskan posisi keberpihakan Doyz melalui lirik dan konten di dalamnya. Selain dari pembahasan yang saya tuliskan di atas, keberpihakan mereka tunjukan melalui kocokan multi sillabel yang kadang dibuat oleh Doyz ditambah rentetan punchline dari rekannya Eric Probz membuat telinga saya menjadi sakit (Mas Eric, lirikmu bikin saya envy). Bukan, bukan karena volume keras yang saya setting ketika menyimak album ini, tetapi karena realitas bahwa “Oblivion” menjadi pembuka terang untuk melihat refleksi Doyz mengenai kondisi sosial dan posisi keberpihakannya. Hal ini menjadi penting sekaligus menjadi penanda karena pada album pertama, “Perspektif”, Doyz masih terlihat malu-malu untuk mengeluarkan seluruh gagasannya. Baiklah, saya pikir cukup sekian ulasan dari saya. Terlalu panjang justru akan membuat otot kalian tegang, meskipun ulasan ini saya anggap masih kurang. Tapi otak saya perlu beristirahat sebelum kencang, mari goyang. Salam Tinju Di Angkasa. (HEN)