Terjebak Romantisme Hiper Realitas


An Intervew of Adan Fajar Maruciel by  Elfa “Mali” Swaratama | https://www.behance.net/maruciel

                Anda mungkin berpendapat bahwa era pra modern telah hilang sepenuhnya. Sebuah era dimana kita menuhankan suatu figur ataupun sebuah suasana. Anda tidak sepenuhnya salah karya-karya Uciel sejenak membawa kita kembali ke jaman renaissance,tapi disaat kita terlena oleh romantisme yang mendayu-dayu tersebut kita diingatkan oleh sebuah penyajian visual yang visioner. Ya, itulah Adan Fajar Maruciel dengan karya-karyanya yang menari-nari di alam hiperrealitas.

                Sebuah penyajian visual yang kompleks belum tentu membuat mata kita mengernyit, justru Uciel meramu kompleksitas tersebut menjadi sebuah kesatuan yang “cantik” dalam karya-karyanya. Dalam proses berkaryanya Uciel jelas bukan seniman yang tidak melibatkan audience dalam karyanya. Penggunaan pakem-pakem layout dan objek-objek universal digunakan sebagai media komunikasi. Uciel banyak menggunakan simbol-simbol yang menggugah jiwa feminisme kita. Jauh dari kesan kemudaan yang cenderung pada joke, semangat, maupun kritik. Uciel dalam karyanya justru membuatkita bernafas pelan dan terhenyak untuk sejenak meninggalkan realitas hidup dan berangkat menuju dunia hiperrealitas buatannya. Dunia hiperrealitas tersebut mungkin apa yang orang beragama sebut sebagai “surga”, karena Uciel bersedia membagi perasaan gundah gulananya.

                Uciel tidak serta-merta merupakan sebuah produk lama. Uciel adalah contoh konkrit satu dari sekian seniman yang dapat lepas dari kekriya-an sebuah karya seni. Uciel (saat tulisan ini dibuat) dalam proses berkaryanya banyak melibatkan program komputer, dimana penggunaan media digital dianggap oleh beberapa orang meninggalkan eksklusivitas dalam sebuah karya seni. Dalam hal ini, saya dan Uciel memiliki satu pemahaman yang sama tentang keberadaan media digital. Kita sebagai manusia hendaknya tidak mendirikan tembok untuk menghalangi gempuran teknologi. Lebih keren jika kita menerima segala bentuk perkembangan jaman dan mengimplementasikannya menjadi sebuah produk baru yang merupakan representasi diri kita.

0aab662a08d35fbf651a2ccff4266dfe

                Pada karya Uciel yang berjudul “Chasing The Sun”, saya terjebak pada tatapan mata yang ditunjukkan figur gadis dalam karya tersebut. Sebuah tatapan poker face membuat saya bertanya-tanya tentang apakah makna dari tatapan mata tersebut. Salah satu suasana yang bisa saya tangkap dari penyajian visual tersebut adalah kegalauan, sebuah kegalauan yang tidak dapat dideskripsikan karena tatapan tersebut lebih membuat saya penasaran daripada  tatapan Monalisa terus dibahas tanpa ada habisnya. Dalam karya ini Uciel menyajikan sebuah romantisme psikologi yang menghantui otak saya. Kupu-kupu disimbolkan sebagai sebuah pembelajaran dan proses transformasi dalam hidup; sebuah binatang mungil yang mengalami berbagai tahapan yang ketat dalam mencapai proses pendewasaan. Kupu-kupu dalam masyarakat modern tidak bisa lepas dari unsur romantisme yang terkandung didalamnya.  Dalam karya ini, Uciel menekankan pada sebuah proses perjalanan hidup demi menggapai cita-cita, sebuah tema yang klise namun kadang terlewat untuk diperhatikan.

                Kepentingan dari pembentukan suasana nampaknya menjadi hal yang sangat krusial bagi Uciel dalam proses kreatifnya. Hal tersebut dapat kita kaji dari beberapa karyanya yang antara lain yang diberi judul  “Ode to The Sea” dan “X”. Berbagai objek yang ditempatkan daam kedua karya tersebut membentuk sebuah kesatuan yang baku dan bermakna tunggal. Tidak bijak nampaknya mengkaji karya Uciel dengan memecah sebuah objek satu persatu karena karya Uciel justru menggabungkan beberapa simbol menjadi sebuah simbol baru yang tidak terpisahkan.

ddadb26f75129886010d6bd19ac4ebac

                Sebagai kesimpulan saya berpendapat, diluar semua puja-puji dalam penjelasan saya diatas, Uciel bukanlah seseorang yang special dan saya tidak menganggap bahwa Uciel adalah seseorang yang jenius atau berbakat dalam seni visual. Dia mencapai pencapaian kekhasan dalam karyanya sekarang melalui proses yang panjang, yang mungkin tidak atau belum ia ceritakan. Saya juga tidak menganggap bahwa Uciel adalah seniman sukses, tidak, Uciel belum sukses. Masih banyak yang harus dilakukan Uciel untuk mewujudkan dunia hiperrealitasnya.

Previous I See Human But No Humanity
Next Space Invasion #3 : Noise Industries