Selamat Berpulang, Ferriz Reza Alattas


Medio tahun 2001 saat itu saya masih seorang anak kelas 1 SMA yang mencoba membuat band dan menyasar panggung-panggung random di manapun panggung itu berada. Pada suatu malam saya mendapatkan panggung dalam sebuah festival di Gedung Soetedja, acara menyambut tahun baru 2002 saya ingat sekali. Band saya waktu itu memang kurang jelas dan jelas tidak menjadi bahan pembahasan utama dalam tulisan ini. Yang menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini adalah ketertarikan saya pada seseorang yang malam itu berdandan ala gembel dengan rambutnya yang digimbal awut-awutan dan hampir seluruh mukanya dipenuhi dengan jarum! Yang akhirnya nanti menjadi teman dan mentor saya. Selepas melihat orang tersebut, saya kemudian menanyakan siapa orang tersebut dan teman saya menjawabnya dengan singkat, “Cipenk, dia anak grunge”. Tapi, malam itu ternyata Cipenk bukan lagi anak grunge seperti yang teman saya informasikan, dia tampil dalam sebuah band bersama adiknya dan beberapa orang yang konon katanya tinggal di satu daerah yang berisi band-band underground berbahaya, nama daerah tersebut adalah Karangklesem. Soulsaver begitu nama bandnya, dia tampil bersama Adiknya, Azmi, dan Si Nur, begitu orang memanggilnya. Kedua nama tersebut tidak asing bagi saya sebab mereka adalah pentolan di tempat saya nongkrong di warung mamieh, sebuah warung yang terletak di depan SMA saya bersekolah, SMA 2 Purwokerto. Malam itu saya mendapat suguhan musik yang sungguh-sungguh baru pernah saya dengar, karena sekeras-kerasnya musik yang pernah saya dengar pada masa itu, Slipknot album S/T dan Soulfly album Primitive, lagu mereka jauh lebih keras dan bertenaga dibanding musik-musik keras yang saya pernah dengar. Singkat kata saya kemudian berkenalan dengan Cipenk, saya masih belum mendapat impresi apapun dan cenderung aneh melihat penampilannya.

Waktu berjalan, entah kenapa kami bisa tetap berhubungan baik walaupun jarang bertemu, saya hanya bertemu dan bertegur sapa dengan Cipenk saat melihat Soulsaver manggung, iya saat itu saja. Pada medio 2003 saya memutuskan untuk membuat band metalcore, dengan pengaruh siapa? Siapa lagi kalau bukan pengaruh Soulsaver, band saya diberi nama secara konsensus, Suicide, berisikan pemuda kelas 2 SMA, berpenampilan cupu, ingin memainkan musik seperti Soulsaver, dan tidak punya materi apapun hanya modal 1 kaset Caliban album Vent. Lucu juga sebenarnya kejadian itu. Band saya manggung pertama kalinya di Gedung Soetedja, acara apa namanya agak lupa saya, band saya main pagi-pagi betul, jam 10 Pagi! Saking acak dan minimalnya influence, kami membawakan “Loco”nya Coal Chamber dan “Roots Of Pain”nya Caliban. Usai manggung saya belum kenal tradisi sekarang, “selesai manggung pulang”, saya pogo dulu sambil menunggu Soulsaver main di jam sore. Di sela-sela penantian saya, tiba-tiba Azmi mendatangi saya yang sedang mengelap keringat usai pogo non stop, dia mendatangi saya dengan Cipenk dan mengatakan “Is, ini adik kelasku dia manggung tadi bawain Caliban sama Coal Chamber”. Berkat obrolan singkat saat itu hubungan kami meningkat dari sekadar tegur sapa menjadi obrolan yang mengenai masalah musik dan influence ngeband. Sejak obrolan inilah impresi saya terhadap Cipenk mulai terbentuk.

Kami berdua jadi makin sering ngobrol karena band saya dan Soulsaver pada waktu itu sering berada dalam satu gig. Di masa inilah impresi saya terhadap Cipenk mulai terbangun, meskipun sampai saat itu saya belum tahu siapa sebenarnya nama aslinya. Cipenk di mata saya mulai membangun impresinya sebagai orang yang sangat mengapresiasi band muda yang baru mencoba menunjukan keberadaannya. Tidak tanggung-tanggung saat itu Cipenk memperkenalkan banyak sekali influence-influence penting macam Rykers, All Out War, Hatebreed, Earth Crisis, Vision Of Disorder sampai Reprisal dan Envision, semuanya diberikan melalui kaset-kaset yang dia koleksi, baik yang asli maupun yang bootleg. Cipenk tidak pernah takut mengedukasi yang muda, tidak pernah berpikir mengedukasi yang kosong jadi berisi itu justru akan menjadikannya tersaingi. Tuhan menjauhkan Cipenk dari sifat yang demikian.

Pada tahun 2004, saya mencapai impian saya dalam hal akademis yaitu diterima di Universitas Gadjah Mada dan hampir seluruh teman band saya di Suicide diterima di perguruan tinggi negeri yang berada di luar kota. Sejak saat itu saya menyatakan band saya bubar dan mulai kehilangan intensitas untuk bertemu dengan Cipenk. Pertemuan saya dengan Cipenk kembali adalah saat Purwokerto dilewati tour kolektif band-band dari luar kota seperti Sleepless Angel, Kaos Kutank dan lain-lain dalam gelaran Back To Struggle 3. Saya pada saat itu membentuk band baru di Purwokerto, latihan sekenanya, dan jarang bertemu. Band baru main di acara tersebut. Sepahit-pahitnya acara waktu itu adalah karena acara tersebut merugi, dan Cipenk melalui segala usaha yang dia bisa menutup kerugian acara tersebut dengan menjual handphonenya, yang termasuk dalam tipe canggih dan up to date pada masa itu. Sambil tertawa enteng dia bilang kepada saya “Langka-langka mbok mbayar acara nganggo hape, Wim”[1]. Selepas acara tersebut, setiap saya pulang ke Purwokerto dan mendapati Cipenk membuat gig, saya pasti mengatakan ucapan seperti ini “Anu band-bandan nganggo duit apa ndadak adol hape kie, Penk”[2]. Kami berdua tertawa lepas tanpa saling tersinggung. Oh ya pada periode ini saya akhirnya mengetahui nama asli Cipenk, yang masih katanya juga sih, Ferriz Reza Alattas begitu, itu juga cuma katanya.

Selepas saya menyelesaikan tanggungan studi saya dan kembali ke Purwokerto, saya jadi semakin sering bertemu dengan Cipeng, obrolan kamipun tidak pernah serius, hanya sebatas haha-hihi saja. Obrolan serius pertama, dan sayangnya terakhir juga dengan Cipenk, adalah ketika saat itu tiba-tiba Kemal, drummer Soulsaver, menghubungi saya untuk menggantikan sekaligus 2 orang personil mereka, Cipenk dan Azmi. Alasan Azmi mundur mungkin tak pernah membuat saya khawatir, karena berkeluarga, tapi alasan Cipenk mengundurkan diri agak membuat saya ketar-ketir. Kata Kemal, beberapa waktu lalu sebelum dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi saya, Cipenk mengalami gangguan jantung pada saat manggung, seberapa parah, diapun tidak tahu. Permintaan itu tidak langsung saya terima karena tidak mungkin saya bisa dalam satu waktu melakukan teknik scream Azmi dan throat milik Cipenk yang sangat khas, namun jauh dibelakang itu semua, diluar teknik, saya mengkhawatirkan (dugaan saya mengenai) kecondongan belakangan Azmi dan Cipenk terhadap Fundamentalisme Islam. Saya semakin tidak bisa menolak karena Mada, gitaris Soulsaver, juga mengatakan Azmi dan Cipenk yang memilih saya. Semua masih dalam taraf keragu-raguan sampai akhirnya Mada dan Kemal memutuskan untuk mempertemukan kami bertiga di rumah Mada awal tahun 2013.

Pembicaraan tersebut diawali dengan pendapat Cipenk mengenai ketidakraguan dia dan Azmi untuk memilih saya, tapi ada sesuatu yang musti saya dan mereka bahas, mengenai ketakutan saya pada kecondongan mereka terhadap Fundamentalisme Islam dan saya tidak mau mewarisi hal tersebut, karena jujur saya sangat anti Arabisme. Semangat saya yang Anti Arabisme ini sebenarnya agak segan juga saya bahas mengingat mereka berdua adalah keturunan Arab dan takutnya mereka berdua tersinggung saat saya membahas semangat saya itu. Kami berdua berdebat panjang, saya ingat sekali hampir 5 jam kami berdebat dan saya mendapatkan ujung bahwa mengapa mereka mengangkat Palestina dan Israel sebagai garis besar perjuangan mereka melalui lirik adalah karena konflik dan penindasan tersebut adalah grand theorie dari segala grand theorie penindasan yang terjadi di dunia, sebuah konflik dan penindasan yang memaksa semua orang tutup telinga dan tutup mata. Mereka berdua sama sekali tidak pernah menyangkut pautkannya pada ranah kepercayaan, apalagi Fundamentalisme Islam dan keadaan mereka berdua yang terlahir dalam ras Arab, justru, senada dengan saya, mereka mengamini bahaya Arabisme yang sedikit demi sedikit mulai meneroro keberagaman di negara ini, mereka mejawab itu dengan mantap. Mereka berduapun ternyata sangat toleran dengan memberikan ruang bagi saya untuk mengemukakan pendapat sebagai orang yang tidak percaya agama ataupun segala entitas hierarki[3]dan mereka membebaskan saya untuk mengubah tema lirik Soulsaver tidak lagi melulu masalah konflik Israel-Palestina, namun apapun yang berpangkal pada kepedulian kita terhadap kemanusiaan. Saya yakin seyakin-yakinnya pada mitos kerendahan hati seseorang, bahkan pada orang suci yang katanya yang tidak memiliki nafsu, tapi tidak mungkin ada orang dalam band yang dibentuknya memiliki kerelaan untuk melepas tampilan/image yang telah mereka bangun selama lebih dari 10 tahun. Bagi saya, kerendahan hati Cipeng untuk melepas brand yang selama ini telah ia bangun adalah sebuah pencapaian yang melebihi syarat-syarat untuk menjadi orang suci sekalipun.

Itu adalah kali pertama saya berbicara serius dengan Cipenk, terlalu serius bahkan, dan selebihnya kami kembali berhaha-hihi seperti biasanya. Pertemuan terakhir saya dengan Cipenk adalah pada saat diadakan acara fundraising buat Rakyat Palestina di Djagongan Cafe, puasa kemarin. Saya menyalaminya bersama adik saya juga yang kebetulan sedang pulang kampung. Karena mengenal Cipenk yang dulu, kami berdua membercandainya “Tindike pada pasangi maninglah ben sangar, Penk”[4] dia menjawab, “sihlah wis tuwakoh!” sambil tertawa bersama. Dan pagi ini, pagi-pagi buta benar saya melewatkan 2 panggilan dari AA dan dari Anin, saya terlalu lelah pulang main futsal sepertinya. Saya masih belum tahu ada apa sebenarnya, sampai Kemal mengabari saya, Cipenk meninggal. Akibat gangguan jantung yang memaksanya keluar dari Soulsaver, katanya.

Pembaca, panjangnya requiem ini adalah perlambang bahwa saya memiliki sesuatu yang panjang dan layak diceritakan kepada khalayak mengenai kapasitas sesorang yang seumur hidupnya tidak pernah meninggalkan cela di mata saya. Alasan saya menggunakan kata ganti “saya” dalam requiem ini adalah karena keyakinan saya mengenai impresi baiknya Cipenk semasa hidupnya yang berbeda-beda pada satu pribadi ke pribadi lainnya, kebaikan yang beragam tidak layak saya generalkan melalui pemilihan kata ganti “kami” dalam sebuah tulisan. Kita berhak mengenang kebaikan seseorang, Pembaca, baik melalui kenangan imajiner yang terlukiskan dalam pikiran, melalui kata-kata pendek via media sosial, maupun melalui tulisan panjang mendetail untuk menceritakannya. Pembaca, mari kita jaga impresi yang baik dari Ferriz Reza Alattas, seorang mentor, seorang pionir, seorang yang rendah hati, seorang yang memberikan impresi baik terhadap semua orang. Selamat jalan, Cipenk, susah rasanya menemukan pribadi yang sekomplit kamu saat ini, pasang kembali semua tindikmu disana seperti candaan terakhir kita saat kita bertemu.


[1] Jarang-jarang kan bayar acara pake hape, Wim (terjemahan ke Bahasa Indonesia)

[2] Anu band-bandan pake uang (segar) apa pake jual hape dulu, Penk? (terjemahan ke Bahasa Indonesia)

[3] Entitas anti hierarki ini lazim disebut dengan anarkisme, yang di Indonesia dan seluruh dunia lazim pula diplesetkan menjadi tindakan rusuh yang seharusnya disebut vandalisme. Pembaca, anda boleh mengkritik pengakuan saya sebagai penganut anarkisme seturut partisipasi saya kemarin dalam pemilihan umum.

[4] Tindiknya pasang lagi dong biar sangar, Penk (terjemahan Bahasa Indonesia)

Previous Perihal Permintaan Maaf & Kesungguhan Kita Untuk Memintanya: Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1435 H
Next Meraung Ruang: Kerja Bareng Antara Teater Si Anak dan Susu Ultra Records