I See Human But No Humanity


Menjadi Manusia

“We declare our right on this earth…to be a human being, to be respected as a human being, to be given the rights of a human being in this society, on this earth, in this day, which we intend to bring into existence by any means necessary (Malcom X)

Manusia adalah yang dapat menghargai kemanusiaan, beberapa waktu lalu kita mendengar bagaimana perjuangan ibu-ibu dari rembang untuk mempertahankan bukan ha katas tanah mereka. Tetapi, lebih pada bahwa manusia tidak perlu serakah terhadap alam yang selama ini mendampingi kita untuk hidup. Belum lepas ingatan kita dari semua kejadian kekerasan yang terjadi seperti di Mesuji, Sampang Madura, Bima Nusa Tenggara,dan beberapa kasus kekerasan yang tak tersebut. Hingga tersiar berita bahwa petani karawang sedang memperjuangkan Hak atas tanah yang mereka gunakan untuk keberlangsungan hidup. Dari ujung timur roket melesat merangsek kedalam pemukiman warga palestina tanpa memilih. Membabi-buta menghancurkan apapun yang dihadapannya, seperti kawanan anak muda yang tengah melakukan Pogo dance dengan ayunan tangan dan kaki tanpa permisi. Mereka yang berjuang selalu berhadapan dengan moncong senjata, pentungan, dan sepatu boots atas nama otoritas yang mewakili kekuasaan Negara, oleh Gramsci disebut Represif State Aparatus.

Melalui kepentingan ekonomi Negara menjajah dan menindas rakyatnya sendiri seperti dalam kasus karawang, rembang, wajo dan yang lainnya. Atas nama otoritas agama dan klaim kebenarannya warga sampang dan tasikmalaya terpaksa harus meninggalkan rumahnya. Atas nama agama yang menjelma menjadi tirani mayoritas kebebasan beragama terpenjara hanya karena ingin membangun tempat beribadah. Bahkan hingga tumbuhnya gerakan politik zionisme Israel dengan menjajah palestina. Penindasan atas nama apapun tidak dapat dibenarkan. Apalagi sampai merenggut nyawa orang lain. Setiap manusia memiliki hak hidup yang sama tanpa diskriminasi. Sejarah selalu mengulang kesalahan yang sama dalam praktik kekerasan, manusia tidak pernah belajar atas darah yang selalu tertumpah sia-sia hanya untuk wilayah,kekuasaan,sumber daya,ekonomi,politik,agama dan klaim kebenaran apapun.

Sejarah perjuangan manusia adalah sejarah melawan kekuasaan, begitu milan kundera berbicara. Tentu kekuasaan dalam hal ini adalah sebuah kekuasaan yang menindas. Mungkin kita perlu belajar banyak kepada mahatma Gandhi tentang bagaimana ahimsa dan satyagraha harus menjadi refleksi dalam berkehidupan, atau bunda Theresa yang selalu memberi kasih sayang terhadap kaum kusta yang terpinggirkan. Ketimbang melihat pembenaran hitler atas pembunuhan kaum yahudi sehingga kita gelap mata dan menghujat penuh kebencian.

Saat inilah kita mulai harus menunjukan empati dan simpati terhadap sesama, lakukan apapun yang dapat kita lakukan terhadap mereka dari hal yang sekecil mungkin. Bukankah kita dilahirkan untuk saling berbagi dan mengasihi. Sang pencipta tidak pernah memberikan hak prerogative kepada satu manusiapun untuk menindas yang lainnya. Malcom x pernah berteriak lantang sebelum dia ditembak dalam pidatonya “Our objective is complete freedom, justice and equality by any means necessary”

Menjadi manusia, dalam kemanusiaannya, menjadi manusia dalam keberagamannya, maka saat itulah Gandhi pernah berpetuah “My Nationality Is Humanity”

Previous Marhaban Ya Marhaban
Next Terjebak Romantisme Hiper Realitas