Artist : MORGUE VONGUARD /STILL | Album : Fateh EP | Genre : Hip Hop  | Label : Grimloc | Tahun : 2014
 

Siapa tak kenal Ucok (Homicide) A.K.A Morgue Vanguard, pentolan rap crew yang hingga kini menjadi sebuah fakta sejarah akan ketajamanan hip hop dengan tema-tema tentang kritik sosial. Prosa-prosa langitan yang diuntai dalam lirik-lirik mereka menjadi sebuah anthem dalam kondisi politik saat rezim fasisme Suharto bercokol. Sebelum resmi membubarkan diri, Homicide telah merilis 2 album dengan judul Tha Nekrophone Dayz; Remnants And Traces From The Years Worth Living dan Illsurrekshun. Serta EP berjudul Homicide (4) / MC HomelessSplit 12″ ‎dan Godzkilla Necronometry. Semua rilisan tersebut selalu menjadi pendobrak dalam atmosfer dunia rap. Meskipun pada tahun-tahun album tersebut banyak juga rilisan album dari rapper lain yang tidak kalah bagusnya dari album Homicide.

Setelah hampir vacum cukup lama, akhirnya Morgue Vanguard kembali mengangkat microphone. Kali ini dia berkolaborasi dengan Hsi Chiang Lin A.K.A DJ Still salah satu pentolan dari Dalek yang juga tidak asing lagi dalam skena hip hop internasional. 3 tahun lalu ex-MC dan beatmaker Homicide, Morgue Vanguard, dan ex-turnablist Dälek, Still, bersepakat untuk membuat sebuah kolaborasi. Selama rentang waktu tersebut mereka bertukar ide, dokumen, beat dan soundbites lainnya. Kolaborasi tersebut menghasilkan 8 komposisi yang mencoba melukiskan potret akhir zaman tentang pergulatan eksistensialisme, konflik klasik imperialisme dan sejarah pemiskinan (dan satu cover puisi Chairil Anwar) diatas bentangan ambient dan beat hiphop yang bersuara diantara katalog the Bomb Squad, Scott Walker, Marley Marl dan Einstürzende Neubauten. Beat-beat berbahaya hasil kerja keduanya dirilis dalam format CD dengan artwork dari Arian13, disertai booklet “Akumulasi Primitif”. (Sumber : https://grimloc.wordpress.com/2014/10/08/morgue-vanguard-still-fateh-collabo-e-p-cd/)

Akhir yang ditunggu telah tiba, menjelang tutup tahun 2014 album yang ditunggu akhirnya dirilis juga. Seperti biasa, Morgue Vanguard Menggunakan metafora khas yang dimilikinya. Lirik-liriknya dalam “Fateh” tidak jauh berbeda ketika kita mendengarkan album Homicide. Namun kali ini, dengan adanya sentukan dari DJ Still. Beat-beat yang dimainkan menjadi lebih gelap. Kita dibawa dalam percampuran Dalek dan Homicide dalam 8 track yang diberondongnya. Alunan beat dikolaborasikan dengan noise berkarakter drone yang dibuat dari lengkingan gitar membuat album ini terasa lebih angker. Ambient dan hip hop bercampur aduk menjadi sebuah komposisi yang menjadikan pondasi album ini terdengar pedih dalam gendang telinga. Sekali lagi, yang membuat istimewa dari album ini adalah konten yang stabil dalam tiap lagu.

Fateh dibuka dengan track berjudul “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang bercerita tentang perampasan lahan dan pola akumulasi primitive yang dikembangkan melalui bloody legislation ala Revolusi Industry di Inggris. Tanpa lirik, track ini melesat dengan background suara-suara menolak perampasan. Selanjutnya dalam track “Fateh” Ucok mulai angkat bicara melalui lirik yang jelas tidak jauh berbeda dengan  bangunan komposisi yang ada dalam Homicide. “Kondor Terjaga” menjadi track ketiga tentang umpatan atas dominasi elit politik yang mencekik. Melalui track ini kemarahan diungkapkan terhadap setiap tindakan kekerasan terhadap rakyat dan juga kebrobrokan tentang dominasi mayoritas kotak suara melalui demokrasi. Secara konsisten dalam lagu-lagu selanjutnya Ucok selalu berbicara tentang anti fasisme, kekerasan Negara melalui apparatus represif, dan melalui militerisme. Hal tersebut nampak jelas dalam track berjudul “Dul Guldur”. Suasana konflik agrarian selalu diangkat dalam setiap tracknya, mulai dari background suara demonstrasi dari Rembang, Batang hingga Karawang terdapat pada track “Tak Berbayang di Roban Batang” dan “Manufaktur Pre-Teks”. Melesat selepas konflik agrarian dalam dua track tersebut, putran rotasi CD membawa saya pada “Kepada Kawan”, sebuah track  yang memuat nukilan puisi Chairil Anwar yang dibalut dengan teknik vokal orasi. Dalam kombinasi beat  dan nukilan puisi tesebut, saya  seakan mendengar kombinasi maut dari seorang Everlast dan Vinnie Paz dalam satu formasi. Fateh menutup dirinya dengan sebuah outro yang berjudul “Sondang”, sebuah track yang, entah sebagai tributte atau sebagai memoar, menceritakan aksi bakar diri mahasiswa Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung.

Secara umum, album ini bisa dikatakan fresh dalam penggarapan beat. Namun tidak membuat ingatan kita lupa bahwa ini adalah Homicide secara utuh melalui identifikasi balutan rima dan teknik vocal draggan yang bisa dibilang sangat Hardcore Rap. Tetapi sekali lagi, ini tidak hanya sebuah album, melainkan sebuah ajakan untuk terus berefleksi atas apa yang terjadi di Negara kita. Ajakan untuk terus melawan segala sesuatu yang menindas. Kita akan melihat wajah-wajah rakyat yang tertindas dalam album ini. Kita diajak untuk membaca ”Necronomicon Book” Das Capital milik Marx, Kapitalisme Ruang milik Harvey, hingga wacana anggapan bahwa manusia selalu menjadi ancaman bagi manusia lain menurut Satre, atau bahkan mungkin bayangan tentang Hannah Arendt yang menceritakan authoritarian ala fasisme Jerman.

Semoga dengan album ini, akan muncul Morgue Vanguard-Morgue Vanguard lainnya. Ia tidak perlu dipuja dan diberhalakan menjadi idola seperti kata Roland Barthes. Tapi kemunculannya dapat dijadikan sebagai semangat atas hasrat pemberontakan yang tak kunjung padam. Terlepas dari apapun, ulasan ini akan bersifat subjektif. Terima kasih atas izin mencurahkannya. Salam. (HEN)