Pembaca, saya dalam editorial ini ingin bercerita mengenai sebuah mimpi yang ingin saya wujudkan. Tentu saja mimpi tersebut berkaitan dengan kegiatan saya dalam membuat laman, kolektif, dan kota yang saya tinggali saat ini menjadi besar dan lebih dikenal.

Dahulu, ketika saya pertama kali ditunjuk menjadi, istilahnya, editor in chief pada lama ini, saya punya mimpi besar. Mimpi tersebut adalah menjadikan kolektif Heartcorner selain sebagai organizer band-band yang mau bermain di acara kecil-kecilan a la kami juga sebagai pusat kajian yang berisi usaha-usaha edukatif dalam memaknai musik sebagai sebuah wacana dan pergerakan yang berkaitan dengan dinamika sosial. Bukan melulu hanya sebagai media untuk menyampaikan sesuatu saja.

Marshall Mcluhan pernah berpesan bahwa “medium is the message“, thus Michel Foucault berpesan bahwa segala sesuatu adalah diskursus, alias wacana yang entah bagaimana caranya pasti akan menyampaikan sebuah konsep pada orang di sekitarnya. Nah, hal-hal beginian ini yang membuat, bagi saya, urgensi Purwokerto untuk memiliki wadah penyelenggara segala sesuatu yang berkaitan dengan musik sebagai wacana sangat tinggi. Wadah yang tidak hanya membicarakan musik sebagai sebatas pemahaman teknis melulu.

Saya bermimpi, di Purwokerto ini, orang-orang, terutama yang menggemari musik atau seni lainnya, bisa menerapkan kajian-kajian dalam musik terhadap gejala-gejala kultural dan sosial. Saya rasa ini akan berat apalagi di Purwokerto. Jelas. Tapi saya harus berusaha mewujudkannya. Guna menginisiasi mimpi saya ini, pada bulan Juni ini saya meminta bantuan beberapa teman dari kolektif ini dan kolektif mahakaya ide, Bhineka Ceria, guna menggarap sebuah diskusi ringan dalam tajuk “Musik dan Politik” bersama Irfan Rizkidarajat yang baru saja merilis buku berjudul “Nyanyian Bangsa: Telaah Musik Sujiwo Tejo Dalam Menghadirkan Wacana Identitas dan Karakter Bangsa”.

Mengapa saya memilih buku ini dan memilih Irfan? pertama jelas karena masalah kemudahan akses. Irfan adalah adik kandung saya, jadi saya tidak perlu bikin semacam appointment macem-macem sewaktu mengundang dia ke Purwokerto. Kedua buku ini adalah sesuatu yang sangat berbobot sebab, seperti yang saya impikan di atas, buku ini mampu menjembatani musik secara teknis dengan gejala kultural berupa pengaruh nada dan lirik terhadap pendengarnya plus wacana yang disampaikan oleh variable penelitian yang terpusat pada pemberontakan musikalitas Sudjiwo Tedjo. Tak hanya itu, buku ini juga memuat kapsulisasi penggunaan musik sebagai perlawanan maupun pembentukan karakter bangsa dari Orde ke Orde yang pernah merezim di Indonesia.

Tak cuma mengenai mimpi masalah mengadakan kajian-kajian, dengan editorial kali ini, saya juga memperkenalkan sebuah kolom baru di Heartcorner.net berupa kolom opini. Kolom ini bertujuan untuk mendorong pembaca laman ini untuk berpartisipasi memberikan wacana mengenai masalah sosial dan kultural yang berkaiatan dengan masalah-masalah kontemporer di Purwokerto. Meskipun sebatas opini, saya berharap banyak bahwa pembaca yang kemudian berpatisipasi dalam kolom ini tidak meninggalkan opini pembaca pada tataran kritik tanpa solusi. Saya berharap bahwa pembaca mampu menghadirkan pembahasan yang komprehensif dan solusi dalam opini yang pembaca tulis.

Dengan editorial kali ini, saya baru saja bercerita mengenai usaha kolektif ini untuk merintis mimpi menjadi nyata, memperkenalkan kolom baru di laman ini, sekaligus mengundang pembaca untuk hadir di diskusi yang bersama-sama Heartcorner dan Bhineka Ceria gagas pada tanggal 27 Juni 2015 mulai pukul 15.00 di Seklolah Bhineka Ceria.  Terakhir kami dengan tangan terbuka mengajak pula pembaca untuk berpartisipasi dalam kolom opini yang tengah kolektif ini rintis.

Kata orang tua bermimpi itu bunga orang tidur sedang mewujudkan mimpi itu bukti orang bangun plus hidup, dengan ini saya sedang membuktikan bahwa Heartcorner kolektif bangun dan hidup, sebab mereka tengah mewujudkan mimpi. Mimpi memperkenalkan Purwokerto pada khalayak luas minus standar yang kepunjulen dengan embel-embel city branding. Mari datang dan belajar bersama, salam. (WR)