Pembaca, bagaimana kabar pembaca? Baik? Sudah pasti saya berharap anda yang sekarang tengah berada di belakang layar sambil menghadapi tulisan ini dalam keadaan baik. Pembaca, kemarin, udah agak lama sih sebenernya, kolektif yang saya diami mengadakan gelaran Record Store Day. Bentuk acaranya standar-standar aja. Kami menggelar lapakan, menyediakan ruang publik bagi pelapak yang ingin berpartisipasi, dan memutarkan film dokumenter abal-abal yang, ceritanya, saya sutradarai, bersama-sama dinaskahioleh kolektif crue heartcorner, dan, sebuah kehormatan, ditake oleh Yang Mulia Kukuh Hasan Sukmana, secara abal-abal pula. Saking abal-abalnya rangkaian acara tersebut, sampai sekarang kami belum juga menulis reportase dan menguggah dokumenter yang kami putar di Record Store Day kemarin. Gak papa, tapi gak papa, namanya juga web kapiran yang isinya orang kapiran pula, semuanya dikerjakan serba keple, abal-abal, dan santai.

Begini, pembaca, singkat kata gelaran Record Store Day kemarin saya simpulkan sebagai sebuah gelaran yang benar-benar membuat kami shock, terperangah, dan gak nyangka. Apa sebab? Sebab pengunjungnya membludak. Orang banyak datang untuk sekadar bertanya “Dha paan neh, mas?!”, namun banyak pula yang kalap pada acara tersebut, contohnya saya sendiri. Record Store Day kemarin saya simpulkan sebagai sebuah penanda bahwa di Purwokerto masih terdapat banyak orang yang mau menghargai rilisan fisik dan juga masih banyak pula yang mengumpulkan rilisan.

Yang menjadi bahan pertanyaan sekaligus menjadi sesuatu yang saya coba untuk pecahkan pasca Record Store Day kemarin adalah bagaimana memperluas cakupan animo dan mentalitas para penggemar musik di Purwokerto yang ternyata masih baik, menurut barometer yang saya pasang di Record Store Day kemarin, sih. Saya banyak membaca tulisan-tulisan pasca Record Store Day yang terjadi secara global di Indonesia. Ada sebuah tulisan yang menyasar ketakutan mengenai campur tangan record label mainstream terhadap Record Store Day di kota-kota besar. Saya tidak mengamininya sebab hal itu tidak kontekstual dengan tempat saya tinggal sekarang. Ada pula gelaran Record Store Day yang sama sekali tidak memiliki reportase, contohnya kami sendiri di Purwokerto. Intinya kebanyakan pelaku Record Store mengkhawatiran pasca Record Store Day akan terjadi tren pada para kolektor yang membuat mereka jadi mudah disusupi sesuatu yang mainstream. Ya namanya juga tren, kalo kemudian gak jadi sesuatu yang mainstream ya bukan tren namanya. Coba baca lagi dikotomi kebudayaan menurut Prof. Kuntowijoyo buat menyegarkan pemahaman pembaca mengenai keterkaitan tren dengan sesuatu yang mainstream. Ya kalau niat baca, sih. Saya pikir pemikiran macam itu, pertentangan antara indie dan mainstream, ancaman infiltrasi budaya mainstream terhadap tren, sudah obsolete, sudah terlalu basi untuk dibahas, sebab ia sudah ada dari jaman bahuela sejak indie dan mainstream menyatakan perang suci yang gak damai-damai sampai sekarang.

Dengan pembacaan keadaan seperti itu, saya akhirnya memilih buat hamhem aja. Toh, saya cuma ingin membicarakan bagaimana memperluas cakupan sisa-sisa animo yang kemarin terlihat di Record Store Day Purwokerto melalui mendorong band-band lokal untuk merilis rilisan fisik. Sebentar, sebelum saya lanjut, saya giring opini pembaca dulu ya biar gak usah ikut-ikutan ribut masalah indie-mainstream di kota-kota besar. Kita masih jauh dari kriteria untuk meributkannya, walaupun di kota besar hal tersebut sudah merupakan sesuatu yang basi, lebih baik kita mendorong band lokal untuk merilis karyanya dulu. Sudah, jadi guna membahas “mendorong band lokal untuk merilis karyanya” tulisan ini saya jadikan pengantar untuk memperkenalkan satu cabang dari Heartcorner Collective yang ditujukan untuk menjaga animo peminat rilisan fisik terutama rilisan band lokal yaitu Heartcorner Records.

Heartcorner Records dicetuskan oleh Kemal dan diurus oleh Kemal seorang diri pula. Kapiran? Oya sudah pasti, wong itu identitas kolektif ini, kok. Jadi segala bentuk kegiatan yang dikerjakan serta diselenggarakan oleh kolektif ini harus kapiran, gak boleh engga, kalo perlu nanti ditingkatkan kadarnya dari sekadar kapiran jadi kedangkrangan juga boleh. Ceritanya Heartcorner Record ini adalah label yang membantu, niatnya, untuk merilis rilisan fisik dari band lokal dalam bentuk kaset. Kenapa saya bilang niatnya? Karena rilis album itu hakikatnya dari dalam band, Heartcorner Record cuma membantu bentuk perilisannya dalam bentuk kaset. Cuma karena gak pada rilis-rilis, akhirnya Heartcorner Record malah nekat ngrilisi band-band lokal tanpa, kadang, ba-bi-bu dulu, tau-tau udah jadi aja. Keberadaan Heartcorner Record diinisiasi pertama kali dengan merilis band Punk/Fastcore GerombolanXBerat. Selepas itu, karena bingung mau ngompori band apalagi buat rilis, akhirnya Heartcorner Record terpaksa rehat dulu. Dalam rehatnya, Kemalpun tidak lantas menghentikan Heartcorner Record. Dia memilih kulak beberapa kaset band lokal dengan cara patungan antara dia dan MisterX, seorang pemodal misterius yang sangat menggemari rilisan fisik. Apakah MisterX ini berasal dari Banjarnegara? Saya kira bukan, sebab yang dari Banjarnegara gak seloyal ini. Sampai sekarang identitas MisterX ini belum dapat saya bongka, maka biarlah Tuhan yang nanti membongkar semua ini.

Sejauh ini kerja Heartcorner record, bagi saya pribadi, seorang teman Kemal, sangat memuaskan. Baru-baru ini mereka akhirnya berhasil merilis band lokal Purwokerto lagi yaitu Warlok, yang merupakan proyek idealis Kemal dan Pacarnya, Nadia. Buat menaikkan minat pembaca pada Warlok ini, saya akan memberikan liner note pendek berupa: “Bayangkan Acha dan Irwansyah, di era keemasan ekspose cinta mereka, memainkan Hardcore/Punk yang kadang dibumbui sedikit sentuhan D-beat” Menarik, mbok? Selain Warlok, Heartcorner Record kemarin ini, benar-benar kemarin yang menunjukan masih hangatnya sebuah kejadian, baru saja melepas EP sebuah band yang patut diperhatikan dalam dinamika musik di Purwokerto yaitu Willy Wonka. Bisa dibilang, Willy Wonka adalah satu-satunya band di Purwokerto yang secara unik memainkan dreampop dengan sedikit sentuhan lo-fi pantai-pantaian yang lagi in selepas Beach Fossils, DIIV, dan Real Estate meledak di permukaan atas para pengamat musik indie. Album bertajuk Womenkind ini sangat patut dibeli dan disimak. Makanya beli tape, jangan koleksi buat jadi pajangan doang! Dan dari semua rilisan band asal Purwokerto, ini yang paling menarik, pembaca, Heartcorner Record tengah bersiap merilis boxset pertama mereka berupa antologi karya milik band Black Metal kenamaan, kenamaan apa legendaris ya? Ya perpaduan dari dua sematan itu keliatannya, asli Purwokerto yaitu Santet. Bayangkan, antologi dari album pertama sampai album terakhir mereka dalam bentuk CD, sangat menarik, kan, pembaca?

Dari semua yang dibutuhkan sebuah kolektif, atau bahasa lawasnya scene, untuk dapat hidup, kami sudah menyediakannya komplit! Edukasi, ruang publik, sampai semua yang lebih konrit, dalam hal ini rilisan fisik yang merupakan karya lokal dari band daerah. Eh, sudah belum, ya? Kayaknya sih sudah semua, ya anggap saja demikianlah ya, pembaca. Maka dengan panjang dan melelahkannya tulisan ini untuk dibaca, saya mewakili Heartcorner Collective mengucapkan selamat datang buat Heartcorner Record. Yang kemudian menjadi kekhawatiran saya kemudian adalah, pahamkah pembaca mengikuti korelasi yang saya tuliskan diatas bahwa Heartcorner Record adalah perluasan cakupan Heartcorner Collective pasca keyakinan yang timbul akibat Record Store Day kemarin dengan usaha merilis beberapa karya band lokal? Kalau tidak, toh intisari tulisan ini sudah saya tuliskan di sini. Kedepan, kalau cakupan kami kurang luas sebab katanya rantai produksi itu terdiri dari proses Produksi-Distribusi-Konsumsi, yang kalau boleh saya aliaskan sebagai berikut: Produksi: ide dari band dan pemikiran kolektif di Heartcorner Collective-distribusi: melalui Heartcorner Record-dan konsumen: masih belum jelas siapa, maka kami juga akan melengkapi proses ini dengan proses tongpes yang biasa terjadi dalam sebuah scene yaitu proses, “gawe dewek-sebar dewek-dituku dewek” alias menciptkan konsumen sendiri, siapa? ya kami-kami ini, siapa lagi. Eh, tapi siapa tahu masih ada yang penasaran dengan konten Heartcorner Record bisa kunjungi mereka di soundcloud dan web mereka. Mulai dari sekarang, selepas membaca tulisan ini, saya pikir sudah tidak ada lagi alasan buat teman-teman yang ngeband tapi bingung mau rilis album via siapa dan dalam format apa karena sudah ada Heartcorner Record. Jangan sampai teman-teman yang ngeband jadi bermental seperti stiker di helm pemuda tanggung bermotor suara ultra-sonik “dibuang sayang, ditahan meriang”. Ayo perluas cakupan karya kalian, ayo merilis karya kalian! (WR)