Artist : Mix Max Rap feat. Pandu | Album : Manaqib Di Balik Seorang Wajah EP | Genre : Hip-Hop/ Rap   | Label : Mix Max Lab Record Yogyakarta | Tahun : 2014
 

Muhammad Ikhsan Fatur Rahman AKA Icn Right Here adalah seorang beat maker yang kali ini, dalam review saya, berbagi microphonenya dengan temannya, Apprye Nur Setiadi AKA Apprye Flow Here, dan membentuk rap crew bernama Mix Max Rap pada tahun 2009 yang berbasis di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kolaborasinya, Mix Max Rap merilis sebuah extended play atau mini album berjudul Manaqib di balik seorang wajah, dibawah label DIY Mix Max Lab Record Yogyakarta. Manaqib ini menjadi sebuah dokumentasi karya yang menarik sebab pesan yang disampaikan serta siapa saja yang terlibat di dalamnya adalah sesuatu yang khusus. Maka, saya cukupkan pengantar bagi pembaca guna mengikuti tulisan saya, dan mari kita menuju pada pembahasan utama, apa yang sesungguhnya tersurat dan tersirat dalam Manaqib di Balik Seorang Wajah.

Hipotesa pertama kali ketika saya mendapati judul EP ini, Manaqib, adalah akan adanya sebuah cerita tentang kebaikan dari amal dan akhlak seseorang dalam EP tersebut. Sedikit demi sedikit hipotesa saya nampaknya mulai terbukti, hal tersebut dimulai dengan hadirnya Galih Pandu Adi yang merupakan seorang  sastrawan dari kota tua Lasem, Rembang. Kolaborasi Mix Max Rap dengan Galih Pandu selanjutnya menjadi benchmark pada mini album ini dimana secara keseluruhan konten pada Manaqib sukses mengelaborasi rap dengan puisi.

Manaqib mengawali dirinya dengan sebuat track pembuka berjudul “Eksordium” dimana Galih Pandu melantuntan sajak yang mau tidak mau menghanyutkan saya pada pemahaman tradisi abad pertengahan dimana sebuah pidato dibuka secara jelas dan sopan untuk selanjutnya menghantarkan dirinya pada sebuah narasi. Track kedua adalah sebuah komposisi yang harus saya akui memaksa saya untuk berpikir menye-menye setelah menyimaknya. Mengapa saya berpikir demikian? Karena sesederhana ini: track yang berjudul “Kamuflase Kenangan” ini dibuka dengan sample potongan lagu milik Ernie Djohan yang berjudul “Kau Selalu Di Hatiku”. Potongan sample dan judul tersebut membuat saya berkesimpulan bahwa “Kamuflase Kenangan” adalah sebuah balada mengenai seorang lelaki yang ditinggalkan perempuan yang selama ini mengisi hari dan hatinya. Ternyata itu semua hanya persepsi saya. “Kamuflase Kenangan” kenyataannya adalah sebuah kerinduan akan bentuk atau entitas, sesuatu yang jauh melebihi rupa wajah yang terlihat dan tergambar. Mereka menyampaikan kerinduan melaluibalada yang standar namun dalam makna yang melebihi bentuk standar itu sendiri.”Jalan Pulang” menjadi track ketiga mereka dalam Manaqib. Bagi saya, “Jalan Pulang” memiliki sebuah siklus menarik seperti siklus eksistensialisme yang dipaparkan oleh Soren Kiekergard, dimana eksistensialisme manusia memiliki beberapa tahapan yaitu eksistensialisme etis, eksistensialisme estetis , dan dipuncaki oleh eksistensialisme religius. Hipotesa saya mengenai siklus perjalanan eksistensialisme manusia pada track  tersebut dipertegas dengan line dari Galih Pandu yang berbunyi “kepada langit yang lapang, kutanyakan kemana orang-orang itu akan berpulang. Sedang dijalanan tiang-tiang lampu telah padam, dan peta-peta ini hanya menunjuk arah ketiadaan”.

Selain konsisten dengan sajak dan puisi, konten dalam Manaqib juga sangat konsisten dalam menggunakan sample base dari tembang-tembang lawas. Dalam “Jalan Pulang” mereka menggunakan lagu milik Novia Kolopaking berjudul “Asmara”. Kekonsistenan penggunaan sample base lagu lawas masih dipertahankan Mix Max Rap pada track keempat dalam Manaqib yang berjudul “Sedih Berganti Wajah”. Disini Mix Max menggunakan sample base “Bengawan Solo” yang merupakan tembang legendaris milik Gesang. “Sedih Berganti Wajah” mencoba bercerita tentang optimisme dalam meraih sebuah cita-cita. “Manaqib Di Balik Wajah” menjadi track kelima dalam mini album ini. Dengan rangkaian kata yang demikian, sepertinya kali ini hipotesa saya tidak akan meleset ketika saya melabeli track ini sebagai sebuah lagu cinta sebab dalam track ini rangkaian metafora dan penggunaan flow straight forward berpadu indah dengan puisi oleh Galih Pandu. “Selembar Risalah” menjadi baris keenam sebelum album ini ditutup dengan track ketujuh berjudul “Epilog” melalui rangkaian kata dari Galih Pandu.

Secara keseluruhan, sebagai penikmat dan pelaku Hip-Hop/Rap itu sendiri, saya menyimpulkan bahwa “Manaqib Di Balik Seorang Wajah” adalah perpaduan yang sangat sukses dari Rhyme and Poet alias Rap. Sepanjang mini album ini permainan rima dan metafora bersimbiosis dengan beat dan puisi membuat album ini tidak sekadar menarik untuk didengar tapi juga menarik untuk dibaca konten liriknya. Tapi diluar semua yang saya simpulkan, ada sebuah poin yang sangat saya kagumi berupa kekonsistenan seperti yang saya bahas di atas dimana Mix Max Rap konsisten menggunakan beberapa lagu lawas milik Ernie Djohan, Tetty Kadi, Novia Kolopaking, dan Gesang sebagai pondasi dalam beat instrumentnya. Mini album ini komplit untuk mengenang lagu-lagu hit pada masa orang tua kita remaja, bagi saya kajian retrospektif mereka menjadi sesuatu yang sangat menarik. Selamat atas peluncuran albumnya, Mix Max Rap. Selamat pula atas pencapaian merilis album yang tidak hanya baik untuk didengar, namun juga baik untuk disimak penulisannya. Respect