Artist: Lies!, Hands Upon Salvation, Deconsecrate | Album: 3 Way Split | Genre: H8000 Hardcore | Label: Diorama Records  | Tahun: 2015
 

Apa yang lebih tua dibandingkan pertentangan antara Islam Katolik dan Islam Protestan, ehm..maksud saya Sunni dan Syiah, selain budaya split dalam kultur DIY Hardcore? Saya rasa tidak ada. Kalaupun ada yang lebih tua dari kedua hal yang saya pertentangkan di atas sudah pasti jawabannya adalah obsesi Agnes Monika untuk go international.

Kalimat pembuka di atas mungkin kurang tepat untuk membuka review mengenai tiga pemeluk taat dalam sebuah genre yang dinamai H8000 Harcore. Tapi tak masalah, toh nantinya dalam review ini saya akan membahas 3 way split ini sebagai gejala sosiokultural pembentukan sejarah dalam sebuah sistem, sebagai media untuk, istilahnya, comprehensive listening bagi anak-anak yang sekarang sedang gandrung-gandrungnya mengenakan atribut Hardcore, dan sebagai media nostalgia sebuah cara yang sudah sangat tua dalam menyebarluaskan karya plus membangun jejaring.

Dahulu ketika saya masih berumur belia dan baru mudeng secuil tentang Hardcore dan kroni-kroninya, saya dikejutkan dengan fakta terdapatnya genre bernama H8000 Hardcore. Sebuah genre yang berawal dari kultur DIY Hardcore pada masa itu, memainkan riffing mengerikan layaknya band Death/Thrash Metal, dan membawa sebuah sentimen positif kala itu yang lazim disebut dengan “Straight Edge”. “Apalagi ini?” begitu dahulu saya kerap bergumam. Minimnya informasi yang saya dapat mengenai H8000Hardcore ketika itu adalah hal yang sangat wajar, sebab internet belum menjadi barang primer seperti sekarang. Boleh dikatakan internet pada saat itu adalah barang tersier yang memaksa saya jadi cuma bisa menikmati pemeluk-pemeluk H8000 pada masa itu semacam Congress, Liar, Hamartia, Arkangel dkk secara terbatas via merekam melalui kaset pita di rumah seorang teman.

Mengapa pembuka ini terksesan nostalgic ? Karena begini, berbicara H8000 Hardcore saya pikir memang tidak bisa saya lepaskan dari tinjauan retroaktif, apa sebab? Ya sebab mereka ini, bagi saya, adalah sesosok mahluk purba yang mencoba bertahan menikmati Hardcore di tengah kibasan tendangan kung-fu dalam gelombang moshpit. Bagi saya sepertinya H8000 adalah cagar budaya yang benar-benar harus dilestarikan dan digali peninggalannya guna memberikan fondasi kuat bagi seorang untuk menjadi Hardcore kids, begitu istilahnya, di era post-modern ini.
Berbicara masalah retroaktif yang pasti berkaitan dengan sejarah, menarik sepertinya ketika review ini saya kaitkan dengan kebiasaan saya belakangan, membaca teori-teori Pitirim Sorokin, dan membagi review ini dalam 2 fragmen besar: Fragmen yang berbicara mengenai pengaruh H8000 Hardcore sebagai gejala sosial dan pembentuk sejarah dalam sebuah sistem dan fragmen yang membahas 3 way split ini sebagai album musik yang memberikan panduan comprehensive listening serta cara yang sangat tua dalam mempromosikan karya.

Baik, ini fragmen pertama, saya akan membicarakan 3 way split ini dalam teori-teori Pitirim Sorokin yang berkaitan dengan teori gejala sosiokultural dan keterkaitannya dalam membentuk sejarah dalam sebuah sistem. Seperti ini, Sorokin pernah berpendapat: “gejala sosiokultural memiliki kaitan yang sangat kuat dengan terciptanya sejarah dalam sebuah sistem. Partikel-partikel dalam gejala sosiokultural akan mempengaruhi tioplogi sejarah yang tercipta dalam sebuah sistem”.

Secara spesifik, Sorokin kemudian mengelompokan kaitan gejala sosiokultural dengan sejarah dalam tiga tipe. Nah, saya menggunakan tipe yang ketiga yang menyebutkan “Likewise, almost unlimited are the posibilities of variations of the ever-new systems through the method of substitusion or replacement of the exhausted systems by new ones. Hence, history is ever new, unrevealed, and inexhaustible in it creativeness” guna merangkai sekaligus meletakan H8000 Harcore sebagai gejala sosial dalam sistem besar berupa musik Hardcore dan sejarah yang terjadi di dalamnya.

Pusing? Iya, saya juga agak merasakannya. Begini, ijinkan saya mebahasakannya dalam bahasa yang lebih kontekstual. Taruhlah Hardcore, sebagai genre besar, adalah sebuah sistem sosial yang bekerja dengan “possibilities of variation of accidental properties of the system, the range of the possibilities here is wide, in some cases, at least, theoritically, almost unbounded” . Variasi dalam sistem inilah yang menurut saya memunculkan variable variasi yang kuat yang nantinya akan menjadi trend dalam sebuah sistem. Variasi-variasi dalam Hardcore meskipun dikatakan tidak terikat dan tidak terbatas, belakangan hanya memunculkan variable variasi yang kuat berupa Beatdown Hardcore saja sebagai trend yang meluas. Tak banyak variasi dalam Hardcore yang bisa menimbulkan trend meluas seperti yang Beatdown Hardcore lakukan.

Oke, bisa mengikuti sampai di sini? Saya lanjutkan. Perlu diingat, sistem selalu memperbarui dirinya dengan metode subtitusi atau penggantian trend yang mengemuka di dalamnya. H8000 Harcore adalah gejala sosial sekaligus jenis variasi yang tidak pernah mengemuka dan tidak pernah menjadi trend. Namun, pada awal tahun 2000an, H8000 Hardcore pernah menciptakan sejarah ketika menjadi gelombang besar dalam mengimbangi dan memberi variasi terhadap trend arus utama dalam sistem Hardcore. H8000 Hardcore memberikan bukti bahwa variasi memang terdapat dalam sistem. Meskipun tidak menjadi trend, H8000 membuktikan ucapan Sorokin bahwa “Hence, history is ever new, unrevealed, and inexhaustible in it creativeness”. Sejarah bukan hanya sesuatu yang mampu dibuat oleh trend saja. Sejarah pun mampu diciptakan sesuatu yang baru, belum terbaca dan tak pernah kehabisan kreativitas. H8000 pernah membuktikan bahwa variasi dalam sistem dapat menciptakan sejarah dan menjadi sebuah gejala yang mempengaruhi sebuah sistem.

Dari kajian saya mengenai H8000 Hardcore yang merupakan salah satu gejala sosial yang mampu memberi variasi terhadap sistem, saya akan melanjutkan review ini dalam runutan wacana yang saya kemukakan perihal 3 way split ini adalah bahan comprehensive listening, buat saya aja, deh, jangan buat Hardcore Kids seperti yang saya sebutkan di atas.

3 way split ini berisi 3 band lintas negara, Lies! Dari Belanda, Hands Upon Salvation dari Indonesia, dan Deconsecrate dari tempat berasalnya gelombang H8000, Belgia. Ketiga band ini, sepengetahuan saya, adalah penganut taklid apa yang lazim disebut dengan H8000 Hardcore. Untuk kedua band yang berasal dari luar Indonesia, Lies! dan Deconsecrate, saya pikir lazim-lazim saja mereka masih taat memainkan H8000 Hardcore, tapi buat Hands Upon Salvation ini masalah yang berbeda.

H8000 Hardcore dapat kita sepakati bersama sebagai produk budaya yang berasal dari luar Indonesia, maka pada paragraf sebelumnya saya menganggap band yang masih memainkan H8000 masih merupakan sesuatu yang lazim. Sedangkan di Indonesia, selama saya mengikuti perkembangannya, hanya sedikit sekali band yang memainkan Hardcore beginian. Sepengetahuan saya hanya beberapa band saja yang bisa disebut memainkan H8000 seperti Suja, Burning Inside (sedikit banyak, sih, itu juga menurut saya), Restrain, Straightout (album awal mereka terdengar seperti copycat Dead Blue Sky dan Hamrtia tapi benar-benar sangat brilian), dan Hands Upon Salvation sendiri.

Kenyataannya, hingga saat ini, hanya Hands Upon Salvation saja yang masih memainkan secara tertib H8000 Hardcore. Keberadaan mereka dalam 3 way split ini saya pikir memberikan jalan bagi pendengar Hardcore saat ini untuk melakukan comprehensive listening sekaligus comparative studies mengenai dinamika Hardcore dari era ke era, terutama di Indonesia. Meskipun terkesan subyektif, saya akan meletakan Hands Upon Salvation sebagai semen dalam fondasi besar Hardcore di Indonesia. Mereka mampu menyerap budaya dari luar, bertahan menjadi puritan, dan menyebar luaskannya di tempat mereka hidup dan berkembang.

Comprehensive Listening terhadap konten 3 way split ini diharapkan mampu mendorong pada keingintahuan mendalam mengenai sebuah metode yang sangat kuno yaitu split album. Split album adalah metode yang sangat kuno dan kerap digunakan oleh band-band DIY dalam genre apapun. Tapi H8000 Hardcore sejak awal kemunculannya adalah salah satu genre yang sangat setia menggunakan cara ini.

Dalam pandangan saya, split album  mungkin menjadi sebuah metode yang sangat tidak lazim di generasi sekarang. Bukan berarti saya menjadi fasis dengan menggunakan dikotomi yang tegas antara generasi dahulu dan generasi sekarang, tapi saya pikir ini merupakan sebuah fakta. Sebab saya sudah sangat jarang menemui metode ini digunakan di masa sekarang. Sekarang orang lebih menyukai rilisannya dalam bentuk digital alias tak berbentuk. Generasi sekarang harus belajar dari metode orang-orang dahulu mengenai masalah bagaimana menyebarluaskan karya dan membentuk jejaring. Kalau dipikir-pikir lagi, mereka melakukannya jauh sebelum internet menjadi kebutuhan primer.

Ah, sepertinya saya terlalu banyak membahas apa yang ada di luar 3 way split ini sampai saya lupa menceritakan konten utama darinya. Karena sudah kadung membawa review ini terlalu retroaktif, saya menyimpulkan bahwa 3 way split ini sangat cocok untuk mengenang era-era saya berkenalan dengan H8000 Hardcore. Lies! sedikit banyak mengingatkan saya pada All Out War dahulu, Deconsecrate memainkan riff-riff yang dahsyat dan menghadirkan kembali term Blackened Hardcore dengan groove-grove yang mengerikan. Semuanya membawa saya pada nuansa nostalgia bagaimana dahulu saya mengenal H8000 Hardcore.

Hands Upon Salvation jelas mendapat tempat tersendiri bagi saya, sebab mereka memiliki sentuhan personal dengan saya. Sebagai informasi Hands Upon Salvation, tepat sebelum merilis 3 way split ini, baru saja merilis album terakhir mereka yang bertajuk “Entities”. Sebuah antologi yang berisi elegy dan melankolia berbalut H8000 Hardcore rasa Yogyakarta. Hands Upon Salvation memiliki jalan karier yang berbanding lurus dengan genre yang selama ini secara taat mereka usung. Mereka tidak pernah menjadi sangat besar, namun mereka selalu diingat karena menjadi kaum puritan yang menjaga eksistensi variasi dalam Hardcore sampai sekarang.

Andai boleh jujur, saya agak kecewa dengan lagu yang diikutkan Hands Upon Salvation dalam 3 way split ini. Mereka memutuskan untuk memasukan 3 lagu yang sudah pernah saya dengar dalam “Entities”. Sama sekali bukan lagu baru. Saya sangat paham mereka bukanlah tipikal band yang produktif karena apa yang mereka hadapi dalam keseharian mereka plus materi yang mereka produksi bukanlah materi kelas ecek-ecek minim kontemplasi mendalam pada proses musikal dan penulisan liriknya. Jujur saja, kekecewaan saya mungkin timbul dalam tataran seorang penggemar yang menunggu idolanya menghasilkan karya baru.

Sebagai penutup, sepertinya saya hendak menyampaikan sesuatu yang terbalik dari review kebanyakan. Ketika dalam review kebanyakan band merasa puas karena direview oleh seorang penulis, maka saya berkesimpulan sebaliknya. Sebagai penulis, saya merasa puas dapat mereview 3 way split ini dan menjadikannya sebagai sedikit bahan penelitian komprehensif mengenai H8000 Hardcore, pengaruhnya sebagai gejala sosial dalam sebuah sistem, dan, semoga, menjadikan review ini sebagai apa yang saya harapkan di atas, menjadi media comprehensive listening juga membuktikan apa yang saya gunakan sebagai pembuka review ini, tak ada yang lebih tua dari budaya split dalam kultur DIY Hardcore.

“Likewise, almost unlimited are the posibilities of variations of the ever-new systems through the method of substitusion or replacement of the exhausted systems by new ones”. Sorokin meramalkan bahwa trend pasti akan tergantikan selama ia masih terintegrasi dalam sebuah sistem. Semoga masa baik itu segera hadir kembali. Panjang umur, H8000 Hardcore!(WR)

Beberapa bahan bacaan lebih lanjut:

– Carle C. Zimmerman, Sorokin, the world’s greatest sociologist (University of Saskatchewan, Sorokin lectures, no. 1; Saskatoon: University of Saskatchewan, 1968)

– http://www.goodliferecordings.com/en/inside-look/story.html

– http://www.metal-rules.com/interviews/Congress-June2004.html

3 Way Split ini tersedia di Purwokerto via heartcorner records
Follow @hcrecs
Contact: 081225584853