Artist: Rebel Education Project | Album: Letter To: | Genre: Hip-Hop   | Label: Demajors | Tahun: 2014
 

Boleh dikatakan saya berkenalan dengan band bernama Rebel Education Project secara tidak sengaja. Saya hanya tahu salah satu personil bernama Upi A.K.A Tuan Tigabelas. Karena saya orang yang kepo, akhirnya saya ulik dan cari tahu tentang band ini. Ternyata, Rebel Education Project sudah berdiri pada tahun 2012. Rebel Education Project beranggotakan Tuan Tigabelas (MC), Vava (gitar, backing vocal), Duke (gitar), Marco (drum, perkusi), Tara (bass, backing vocal), dan Edward (keyboard, synth). Meraka mengemas Rebel Education Project dengan konsep band dan rap sebagai pengental bahwa mereka adalah band hip hop. Sekilas, sentuhan mereka mengingatkan saya dengan The Roots asal Philadelphia, USA yang begitu kental nuansa hip hop dengan aliran jazz dan neo soul. Tapi, setelah mendengar album EP yang mereka dirilis pada bulan mei 2014 lalu saya menarik kesimpulan bahwa mereka berbeda dengan The Roots. Bekerjasama dengan perusahaan rekaman demajors Independent Music Industry [DIMI] atau demajors, Rebel Education Project meliris album EP berjudul Letter To: yang diproduseri oleh oleh Javafinger, pemain bass dari Maliq and The Essential. Dalam album ini mereka juga kolaborasi bersama musisi-musisi lain seperti Chita from Parisude, Luo Endo, Shotgun Dre, Kyriz Boogiemen, dan lain nya.

Jangan tanyakan aliran musik dari Rebel Education Project, karena latar belakang musik yang berbeda dari tiap personilnya menjadikan lagu mereka bervariasi. Terlebih lagi, saya bukan orang yang punya kompetensi untuk menggolongkan aliran musik yang hari ini makin bervariasi. Bagi saya, mau apapun musiknya selama konten dan penggarapan instrumentnya dikerjakan dengan serius pasti hasilnya akan bagus. Intinya, band ini membawa saya ke jalur antah berantah. Tiba-tiba muncul funk, tanpa permisi jadi dengar musik soul jazz, tau-tau jadi ada tekstur reggaenya, ada rocknya juga, pokoknya seenak-enaknya mereka memainkan musik.

Letter To: mengantarkan saya meluncur dalam rangkaian track per track melalui  lagu pertama yang berjudul Rebellion, menurut pemahaman saya lagu ini menceritakan tentang kenapa nama Rebel Education Project itu ada dan selalu saya terpikat dengan teknik rap model The Rubik’s Cube dari sang MC Tuan Tigabelas. Di lagu kedua mereka berbagi verse dengan Boogiemen dengan judul Muak tentang kebosanan dan protes kita pada hal yang selalu kita temui dalam hidup sehari-hari. infotaintment, politik, traffic, musik, regulasi, dan hal-hal semacam itu. Simak juga instrument garapan mereka dilagu ini, sekali lagi saya tidak bermodel G-Funk atau bukan. Selanjutnya album berlanjut dengan Green Effect yang merupakan hasil kolaborasi dengan Dimas dan Lou Endo yang mencoba menceritakan tentang diri Rebel Education Project seperti dalam tradisi rap. Mereka ingin memberitahu bahwa “That is who iam, I don’t give a fuck with your opinion, but thanks” seperti itu kira-kira. Lagu keempat berjudul Loudpipes theme song buat @bigbluntshop selaku rekanan mereka dalam berkarya. Slowjamm yang dikemas soul jazz begitu lembut bersama Shot Gun Dre menceritakan seorang laki-laki yang mencoba jujur tentang dirinya. Bersama Chitara Parisude dan Ilman dalam lagu keenam Putih Hitam bercerita tentang mimpi yang tidak sejalan dengan keadaan, identik sekali dengan rap yang selalu bercerita tentang semangat yang harus membara meski badai menghadang. Idealisme harus dipegang teguh karena banyak jalan untuk mencapainya. Mimpi sebagai penutup mini album mereka. Bercerita tentang sudut pandang dan protes mereka terhadap kebijakan-kebijakan yang menjadikan ini sebagai hal yang sangat tabu untuk dibahas, mempunyai stigma negatif dan ditutupi kebenarannya. Sekilas instrumen lagu ini mirip dengan Lose Your Self milik Eminem tapi tidak identik.

Saya bukan pengamat musik yang mampu secara tegas mendikotomikan jenis musik, pun dalam album Letter To: milik Rebel Education Project. Tapi saya memiliki keterkaitan antara bervariannya musik isian dalam Rebel Education Project dengan apa yang saya pelajari sebagai mahasiswa Fisip dan penggemar musik hip-hop. Saya mengaitkan hal tersebut dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Theodor Adorno, seorang Frankfurt sejati, mengenai matinya metanarasi dalam kehidupan Post-Modernisme. Disadari atau tidak, matinya metanarasi telah merasuk dalam dunia musik. Hal itu terbukti dengan tidak adanya lagi sebuah band, group, atau apapun itu yang secara tegas memainkan satu jenis musik yang murni. Semua genre dapat berdiri sendiri mewakili dirinya tanpa perlu dibayang-bayangi dan takut mereka akan disebut apa. Hip Hop pada tahun-tahun terkahir begitu berkembang dari teknik sample base hingga masuk dalam kategori Electronic Dance Music. Hal ini membuktikan bahwa genre sebagai entitaspun dapat berdiri secara mandiri. Tapi bagi saya Rebel Education Project tetap suatu yang istimewa ketika mereka mau dan mampu mengangkat isu-isu sosial yang bersifat kritis yaitu dunia musik yang sudah mulai jumud dengan lagu yang tidak mendidik berpadu dengan tayangan televisi yang banal. Rebel Education Project tidak berhenti hanya pada karya seperti kebanyakan teori Post Modern yang minim emansipasi. Sedikit banyak, beberapa personil dari Rebel Education Project juga melakukan aksi dan kegiatan sosial secara riil yang merupakan tindak lanjut atas apa yang mereka kritisi dalam komposisi lagu mereka. Kurang istimewa apa mereka? Lots of respect! (HEN)