Artist : Jalan Pulang | Album : Jalan Pulang | Genre : Pop/ Ballad  | Label : Methafor Records | Tahun : 2014
 

Membeli sebuah rilisan fisik adalah bentuk nyata dari dukungan saya terhadap sebuah band, apalagi untuk sebuah band yang saya sukai. Melakukan hal tersebut sudah barang tentu menjadi sebuah kepuasan tersendiri. Namun, ada kalanya saya membeli sebuah rilisan fisik karena suatu keadaan tertentu, seperti, pertama, saya ingin berjudi dengan rilisan sebuah band, mungkin saking penasarannya dan tak kunjung tersedianya bajakan digital (baca:download secara ilegal) hingga akhirnya kita terpaksa membeli rilisan tersebut. Kedua adalah dari segi lingkungan, memiliki beberapa teman yang doyan mengoleksi rilisan fisik atau hidup dan bergaul dengan teman yang notabene musisi dan merilis album dapat memunculkan faktor yang kedua. Apabila dikaitkan dengan kedua alasan diatas, saya memiliki contoh konkret berupa penantian saya dalam menunggu rilisan band-band teman saya semacam Soulsaver dan Sadstory On Sunday. Toh mereka tak kunjung merilis album, justru teman yang tidak begitu saya tunggu malah merilis album, mulai dari Evil Circle, Bunkerboob, The Telephone, Slide Munky dan band yang akan saya bahas, Jalan Pulang. Ya, meskipun suka atau tidak dengan hasil karya atau musikalitas band yang saya sebut di atas, mereka adalah teman saya dan membeli rilisan fisik mereka adalah sebuah dukungan teman.

Pada awalnya saya  tidak pernah benar-benar serius mendengarkan musik dari Jalan Pulang. Membeli rilisan fisik mereka cuma sekadar dukungan pada teman saja, tidak lebih dari itu. Saya membeli CD nya, lalu saya memasukkannya ke dalam komputer melalui ritual yang dinamai ripping. Musik mereka pada awalnya cuma saya dengarkan dengan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tanpa memberikan unsur magis apalagi hipnotis bagi saya. Hingga akhirnya pada suatu waktu, tiba-tiba banyak teman di kosan saya mulai bertanya, lagu siapa yang sedang saya putar dan mereka minta kopi lagu dari cd yang telah saya rip. Hipnotis apa yang yang diberikan Jalan Pulang hingga teman di kosan sampai meminta kopian lagu mereka kepada saya? Padahal selama ini saya selalu diprotes teman jika memutar lagu dengan volume kencang, se “mellow” apapun lagu tersebut. Namun tidak dengan Jalan Pulang dan anehnya lagi, selepas banyak teman kosan mengkopi lagu-lagu Jalan Pulang dari saya, mereka mulai sering memutar lagu-lagu tersebut dalam posisi kamar tertutup dimana di depan pintu kamar kosan mereka terparkir sandal maupun sepatu yang secara implisit menegaskan bahwa barang tersebut adalah milik lawan jenis. Dari kejadian itulah saya mulai bertanya dan mencoba meraba-raba jawaban melalui inisiatif saya mengenai hipnotis apa yang terkandung dalam lirik Jalan Pulang, sampai-sampai, dengan bahasa yang lugas terpaksa saya katakan, teman-teman kos saya menggunakan lagu mereka untuk pengiring kimpoi.

Jalan pulang adalah sebuah kelompok pop balada asal Yogyakarta, kebetulan  vokalis/gitar/harmonika/recorder dan vokal/piano/biola adalah orang yang pernah tinggal di Purwokerto dalam waktu yang lama yaitu Irfan Rizkidarajat dan Margi Ariyanti. Sisanya ada Damar N. Sosodoro di gitar, M. Dwiki P. di bass/vokal/glockenspiel dan Indra Agung HB di drum. Bagi saya yang menarik dari perilisan album mereka adalah ketika tanpa banyak ba-bi-bu tiba-tiba mereka merilis album. Hal tersebut bagi saya merupakan sesuatu yang menarik sekaligus berani karena lazimnya band di Indonesia biasanya menjalani “birokrasi” menuju album mulai dari merilis single, merilis Mini Album alias extended play, dan barulah setelah itu semua sebuah band biasanya merilis full album. Dari kejadian yang menjadi variable utama yang saya jelaskan diatas, masalah lagu Jalan Pulang yang menjadi soundtrack kimpoi teman-teman kosan saya, isi tulisan ini lebih menuju pada sisi lirik dibandingkan pembedahan musikalitas yang kemudian menuju pada dikotomi sebuah genre. Jujur saya sangat penasaran dengan keromantisan lirik dari Jalan Pulang, sampai-sampai saya berpikir apakah saya harus menyaru menjadi seorang perempuan terlebih dahulu guna merasakan pengaruh lirik Jalan Pulang? Mungkin. Penelitian minim metode saya sedikit demi sedikit mulai menemukan jawabannya mulai dari fakta bahwa Irfan, vokalis Jalan Pulang, adalaha seorang yang sangat gemar. sekali mengulik lirik, puisi, serta referensi berbahasa indonesia. Tapi sejauh itukah pengaruh referensi yang dibaca Irfan dan penyampaian lirik romantis berbahasa Indonesia untuk sampai dalam maksud yang hakiki romantisnya terhadap lawan jenis? Ternyata jawabannya : iya. Sebab, saya menyimpulkan, ketika kebanyakan orang justru gagap saat mengucapkan kalimat-kalimat romantis dalam bahasa Indonesia, Jalan Pulang justru mampu dengan fasih membahasakan kalimat-kalimat tersebut dalam lagu mereka. Dari penjelasan saya ini, paling tidak saya sudah menjawab satu pertanyaan mengenai kenapa teman kosan saya menggunakan lagu-lagu Jalan Pulang sebagai soundtrack kimpoi, ya karena mungkin teman-teman kosan saya gagap dalam mengungkapkan kalimat romantis yang berujung dengan ajakan kimpoi, sedang kegundahan mereka untuk melalukan hal tersebut mereka wakilkan melalui lirik-lirik yang dibahasakan oleh Jalan Pulang.

Tugas saya selanjutnya adalah mencoba melihat adanya kemungkinan apakah Jalan Pulang memiliki sesuatu yang mereka sembunyikan dalam tracklist mereka di album mereka ini. Sebab, dengan terjawabnya pertanyaan pertama diatas, saya jadi makin yakin kalau Jalan Pulang tidak hanya sekadar menyampaikan bahasa romantis dalam bahasa Indonesia melalui lirik lagu mereka, saya yakin ada sesuatu yang lebih jauh daripada itu, sebuah rangkaian cerita. Melanjutkan penelitian abal-abal  lagi minus metode, saya menemukan hipotesis bahwa tracklist Jalan Pulang diurutkan berdasarkan proses percintaan dua manusia, mulai dari tahap sepik sampai tahap ngenes alias gagal total berujung pada perpisahan, dan ada lagi yang paling ngeri, gagal move on. Nah, untuk membahas penelitian lanjutan saya ini, mari saya tuntun pembaca untuk satu persatu, bersama, menuju pemahaman yang saya buat mengenai konsep siklus percintaan tersebut. Apabila nantinya saya mengalami miss  alias meleset dalam penelitian saya, saya sepertinya tidak harus mempertanggung jawabkan perihal macam-macam, karena seperti pembaca lihat dalam kalimat diatas, toh penelitian saya ini adalah penelitian abal-abal lagi minus metode. Mari saya antar pembaca pada kesimpulan yang coba saya bangun.

Sejalan dengan sebuah kisah percintaan romantis yang mereka alirkan dalam albumnya, Jalan Pulang membukanya melalui lagu berjudul “Sajak Pertemuan”, sebuah lagu dengan kandungan lirik sepik tingkat expert yang pasti membuat perempuan awam klepek-klepek saat mendengarkannya. Namanya juga baru pertemuan,  mereka tak langsung menaikkan tensi pendengar, lagu ini masih sebatas format akustik piano yang santai. Kemudian, kisah memasuki masa PDKT melalui “Lagu Berdua” sebuah musikalisasi puisi karya Acep Zamzam Noor. Tensi pendengar perlahan dibuat mulai naik dengan mulai masuknya seluruh instrumen musik namun dalam permainan yang masih kalem sedang vokalnya mulai “tidak santai” menjelang akhir lagu. “Tensi dari sekadar ketemuan menuju tahap PDKT juga harus dinaikan dong, masa gitu-gitu aja”, kurang lebih saya membahasakan rangkaian dua lagu awal Jalan Pulang dalam bahasa yang sederhana seperti itu. Kisah romantis ini masuk bab selanjutnya dengan “Matahari Kesiangan”. Apakah karena lagu ini menceritakan kisah dua manusia yang janjian buat jalan-jalan di sunday morning UGM lalu salah satu dari mereka bangun kesiangan? Tentu bukan, kalau Jalan Pulang memutuskan jadi band parodi, besar kemungkinan pikiran saya mengenai lagu tersebut bakal mereka akomodasi, tapi mereka sedang berbicara cinta. “Matahari Kesiangan”  saya simpulkan sebagai masa percintaan yang memasuki fase yang jaman sekarang sedang tren disebut “baper” (bawa perasaan), ini bukan main-main! Saya menyimpulkan demikian dari lirik yang berbunyi “…kan kuhirup cahya segarmu/kan kuresap embun dingin itu/kan kunanti kunanti kicauan burung/membentuk nada bagaikan lagu.” yang terus berulang menekankan kemantapan hati salah satu tokoh dalam kisah romantis yang dibentuk berdasarkan rangkaian lirik-lirik Jalan Pulang. Tentu saja tensi pendengar dibuat naik tinggi pada nomor ini, senaik level kisah percintaan yang sedang dibangun. Kisah romantis berlanjut pada hightlight pertama, apalagi kalau bukan fase “jadian”. Fase ini diwakili oleh lagu “Solilokui” melalui atmosfer ceria sangat terasa pada lagu ini. Lirik yang sebenarnya biasa saja, atau mungkin malah terlemah di album ini, dapat ditutupi karena atmosfer ceria yang meluap-luap sepanjang lagu. Nah, sebentar, sebentar, saya potong dulu masalah rentetan ya, pembaca, sebab saya punya hipotesis, lagi, dari kelakuan teman-teman kosan saya. Teman-teman kost saya biasanya sudah stop sampai disini dalam mendengarkan album Jalan Pulang, sambil kimpoi tentunya. Mereka tidak melanjutkan lagi rentetan fase dalam kisah yang diceritakan dalam album Jalan Pulang. Bisa dibilang mungkin teman-teman ksot saya hanya mencari kesenangan saja, tanpa mau melanjutkan kisah sedih yang bersisian dalam kisah yang dirangkai oleh Jalan Pulang. Saya punya dua opsi dalam menjelaskan keadaan ini, pertama teman-teman saya sadar dalam pemilihan lagu Jalan Pulang, “masa iya mau kimpoi pakai lagu sedih” begitu mungkin kalau dibahsakan, dan yang kedua teman-teman saya berarti memahami lirik Jalan Pulang, sebab mereka tahu bagaimana memanfaatkan lirik dalam lagu tersebut untuk membenemtuk aura kimpoi dan tahu kapan untuk berhenti menjadikan lagu Jalan Pulang sebagai soundtrack kimpoi. Wah, pintar-pintar juga saya punya teman kosan. Paling tidak mereka tidak hanya sekadar memanfaatkan lagu balada saja, tapi mereka juga memanfaatkan lirik lagu balada tersebut.

Fase-fase yang tidak ingin dilalui oleh teman-teman kost saya dibuka dengan “Apa Daya”. Pada awalnya saya kira lagu tersebut masih dalam fase “jadian” seperti yang saya jelaskan dalam lagu”Solilokui”. Namun, pada bait akhir lagu “…apa daya…. Ku mencintaimu/apa daya… Ku merindukanmu” membuat saya mulai mengenyitkan dahi, apa yang sebenarnya terjadi sehingga bait lirik tersebut kesan pasrah serasa ditekankan di sana. Pertanyaan saya akhirnya terjawab melalui lagu berikutnya berjudul “Lelah”. Dari judulnya, sudah pasti lagu tersebut adalah lagu yang diciptakan untuk menggambarkan fase konflik, dimana berbagai perbedaan muncul dan membuat sebuah hubungan mulai goyah. Guna menyampaikan penggambaran tersebut, Jalan Pulang dengan cermat menyampaikannya bukan hanya melalui judul saja, melainkan melalui musik berupa  raungan gitar a la post-rock yang sudah barang tentu di masa sekarang selalu dianalogikan dengan perasaan galau, dan melalui lirik penutup yang berbunyi “…ku butuh, bukan dirimu/ku bunuh dirimu.” Itulah hightlight fase kedua dalam album Jalan Pulang, fase kegagalan sebuah hubungan.  Jalan Pulang mencoba memberikan sebuah alternatif manis yang selalu diharapkan dua orang manusia yang gagal menjalani hubungan melalui “Sajak Perpisahan” yang berisi sebuah do’a agar konflik dapat segera diakhiri dengan baik, meskipun harus berpisah. Hal tersebut tercermin melalui bait lirik “..redalah.. Selamat jalan, selamat berpisah.”

Sebuah kisah cinta wajarnya kita harapkan berakhir melalui ungkapan “Sing wis yo wis”, sayangnya, kadang manusia dan hubungannya bukanlah sesuatu yang mudah diredakan geloranya hanya melalui sebuah ungkapan saja. Jalan Pulangpun sepertinya mengamini hal tersebut, mereka tidak tanggung-tanggung dalam membuat kisah cinta, tidak hanya awal dan akhir kisah cinta yang mereka ceritakan. Mereka juga mengakomodasi perasaan yang sekarang sedang tren yang disebut “gagal move on”. Hal tersebut menjadi tema utama pada lagu selanjutnya “Lagu Sepi”. Lagu berisi seputar kenangan dengan seorang yang dikasihi yang tak mungkin kembali. Jalan Pulang akhirnya menutup rangkaian lagu mereka dalam album mereka melalui lagu yang berjudul sama dengan nama band ini, “Jalan Pulang” sebuah lagu yang didaulat sebagai penutup kisah romantis dalam album ini. Dimana segala penyelesaian segala konflik yang tertuang di atas diselesaikan dalam lagu ini dengan optimisme pada setiap bait yang tertuang. Menurut saya “Jalan Pulang” adalah highlight ketiga album ini yang berisi penyelesaian konflik dari akibat-akibat sebuah kisah cinta yang gagal. Sampai disini dan berakhir dengan optimisme? Ternyata belum, pembaca.

Diakhir album, terdapat sebuah bonus track yang diberi judul “Percakapan Tangis” sebuah lagu yang sebelumnya mucul di Kompilasi Musik Tradisional Tembi. Lagu ini menurut saya merupakan alternate ending dari “Jalan Pulang”. Apabila “Jalan Pulang” adalah happy ending, maka “Percakapan Tangis” sad ending. Jalan Pulang memberikan opsi pada pendegarnya untuk memilih cara apa yang bakal mereka lakukan buat mengakhiri kisah yang gagal, cara sedih, atau cara senang? Sebuah hal yang cukup fair saya pikir, mengingat kita tidak selalu mengakhiri kisah kita secara senang, kita harus belajar jujur kalau kadang kita masih ingat saja “yang dulu-dulu”. Sebagai kesimpulan saya menyimpulkan bahwa Jalan Pulang, mungkin, memberikan segalanya dalam sebuah alternate, ada yang sedih, ada yang senang, ada yang pikiran di awang-awanag, ada yang cenderung realistis. Namun harus diakui, lirik mereka memiliki kandungan “sepik” kelas dewa alias kelas expert yang mungkin bisa saya praktikan lain waktu. Jalan Pulang mengajarkan pada saya, minimal, untuk tidak memisahkan entitas kesatuan musik dengan liriknya, namun pelajaran yang lebih besar yang saya dapat adalah mengenai lengkapnya album ini dalam membumbui perasaan kita, mulai senang, sedih sampai kalau kita lagi iseng buat mengingat yang sudah-sudah, Jalan Pulangpun menyediakannya. Mengutip Napoleon Bonaparte “…Seribu meriam tidak akan membuat aku mundur dari peperangan, tetapi satu ujung pena membuatku berpikir seribu kali untuk melawan.” membuat saya berkesimpulan buat jangan main-mainkan dengan lirik di album ini,  jelas juga jangan mempermainkan perasaan kalian pas lagi pengen mengingat yang sudah-sudah, pakai saja highlight awal album Jalan Pulang buat menarik lawan jenis! Pena dan kenangan kadang mencungkil hati kita jauh lebih dalam daripada apa yang dilakukan oleh pisau bedah. Mungkin penelitian lanjutan saya akan saya pusatkan pada keberanian saya buat mengingat yang sudah-sudah sambil mendengarkan fase sedih dari album Jalan Pulang ini, mungkin. (RW)