Artist: Vallendusk | Album: Homeward Path | Genre: Atmospheric Black Metal | Label: Northern Silence Productions | Tahun: 2015
 

Tidak dapat dipungkiri, Vallendusk adalah salah satu unit black metal paling mumpuni di Indonesia saat ini. Di tangan mereka, komposisi serta penulisan lirik black metal mengalami sebuah peningkatan dan pembaruan mengikuti perkembangan global.

Saya akan berangkat membicarakan Vallendusk, terutama album baru mereka, “Homeward Path” dari titik keberangkatan pertama bahwa black metal adalah sebuah disiplin ilmu. Mengapa demikian? Karena black metal, ketika berkolaborasi dengan sebuah disiplin ilmu, mampu memberikan pandangan alternatif terhadap sebuah objek.

Ambilah contoh kita membicarakan sebuah objek geografis, gunung. Objek tersebut dapat dinilai melalui kolaborasi disiplin ilmu geografi dan “ilmu black metal”. Dengan kolaborasi dua disiplin ilmu tersebut, sebelum membicarakan gunung, kita akan berhenti sejenak pada pertanyaan pemasti objek berupa, misalnya, “gunungnya Gunung Kavvi atau Gunung Appalachia?” Tak berhenti sampai di situ ketika disiplin ilmu lain yang turut berkolaborasi, sosiologi misalnya, akan dihasilkan pula perbedaan output ketika membicarakan Gunung Kavvi atau Gunung Appalachia. Sebab, Gunung Kavvi lekat dengan folklore mengenai pesugihan dan paganisme jawa sedang Appalachia lekat dengan kegagahan alam yang menjadi puji-pujian dalam banyak band black metal arus Cascadia dan bluegrass countrynya. Black metal terbukti memberikan alternatif untuk menilai suatu objek serta memberikan cara pandang baru ketika dia berkolaborasi dengan disiplin ilmu yang telah ada.

Titik keberangkatan kedua adalah sesuatu yang spesifik, Vallendusk itu sendiri. Guna membahas ini saya akan meletakan satu variable komparatif yaitu sebuah unit black metal asal U.S., Panopticon.[1] Pada satu titik ketika menamatkan dua album Vallendusk, “Black Cloud Gathering” dan “Homeward Path”, saya mendapatkan refleksi mereka pada Panopticon melalui dua album terakhir mereka pula, “Kentucky” dan “Roads To The North”.

“Black Cloud Gathering”, persis seperti “Kentucky”,[2] masih dapat dikategorikan album black metal, dari segi progresivitas yang gak progress-progress amat. Secara komposisi “Black Cloud Gathering” kerap memasukan detil-detil “penyegar kuping” berupa petikan gitar bolong dengan nuansa alam yang kalem, sedang Kentucky menyeggarkan kuping pendengarnya melalui range-range folk yang kental. Kedua album itu pun saya pikir memiliki kelemahan yang sama yaitu masih terasa agak terpisahnya selingan-selingan tersebut dengan  komposisi besar yang hendak mereka sajikan dalam keseluruhan album berupa “Appalachian black metal”.

Selain secara komposisi, “Black Cloud Gathering”, secara reputasi, adalah sebuah pembuka realitas bahwa ternayata terdapat unit black metal Indonesia memiliki kemampuan teknis yang canggih dalam mengeksekusi sebuah isu yang banyak berkembang di daerah Appalachian sana, daerah induk saya mengistilahkannya. Album ini membuktikan bahwa Vallendusk adalah kolektif berkualitas yang berada di atas rata-rata pengusung black metal dalam negeri.

Album terbaru Vallendusk, “Homeward Path”, saya pikir akan menjadi terlalu kejam dan sempit ketika dikatakan sebagai sekadar album black metal. Sebab komposisi-komposisi yang disusun dalam monumen semacam “Earth Serpent” “Ring Of Fire”, dan penutup “Grain Of Horizon” melebihi apa arti progresivitas itu sendiri.

Dalam “Homeward Path”, Vallendusk secara cerdas mengeliminasi komposisi datar dan berulang yang banyak terdapat dalam “Black Clouds Gathering”. Bagi mereka, “Homeward Path” adalah dinamika yang terus bergerak dan tidak mengulang titik keberangkatannya.

Hal yang membuat saya juga menyamakan progresivitas dan dinamika mereka dengan “Roads To The North” milik Panopticon terletak pada fluidnya detil-detil “folk”[3]  dalam komposisi. Tidak lagi terdapat kesan terpisah antara “penyegaran kuping” dan komposisi “Appalachian black metal” dalam “Homeward Path”. Eksekusi yang dilakukan oleh Vallendusk benar-benar membuat saya kesusahan mencari celah untuk mengkritisi album ini. Karena jujur, penggarapan komposisi  mereka sangat wholistik dan ketat.

Sama seperti Panopticon dalam “Roads To The North”, Vallendusk dalam “Homeward Path” jelas telah naik kelas beberapa tingkat dalam penyusunan komposisi. Jelas bukan hal yang mudah mencapai peningkatan signifikan hanya dalam rentang waktu 2 tahun saja selepas album pertama mereka, “Black Clouds Gathering”, dirilis. Butuh kualitas personal yang istimewa untuk memepatkan percepatan progresivitas dalam perkembangan sebuah band. Dalam aspek ini, saya kira Vallendusk sukses besar.

Titik keberangkatan ketiga sayangnya adalah sebuah pemberhentian sementara yang sekaligus penutup tulisan ini, sebab saya memiliki sebuah pertanyaan yang mungkin Vallendusk harus jawab. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan dua titik keberangkatan sinergis yang saya jadikan penanda-penanda esensialitas karya Vallendusk pada paragraf-paragraf sebelumnya. Pertanyaan saya adalah pertanyaan yang hadir dari pernyataan Austin Lunn, si Panopticon itu sendiri.

I love folk metal and Viking metal. It’s awesome and a lot of fun, and Viking metal-era Bathory is one of my favorite things to listen to. But I wanted to keep it honest. Yes, I love Scandinavian history, but I grew up in the Southern region of the U.S., and a lot of people are not aware of the history and folklore of their own region. The schools don’t promote it; I think American history classes in public schools dumb down our history.” I like to go to places where history happened, “feel the soil under my feet; learn about it,” and the music is reflective of that.”[4]

Pertanyaan tersebut adalah: “Sejarah mana yang Vallendusk refleksikan dalam dua album mereka? Tanah mana yang mereka injak sehingga mereka merefleksikan apa yang “Black Cloud Gathering” dan “Homeward Path” refleksikan?”

(1) Saya melakukan komparasi Vallendusk dengan Panopticon atas dasar dua hal, pertama saya membutuhkan katalisator untuk menjadikan Vallendusk sebagai pengusung sebuah aliran black metal, “Appalachian Black Metal”, di Indonesia berhasil. Kedua saya mendasarkan diri pada wacana bahwa setiap kultur, do it yourself, cutting edge, anti mainstream atau apapun itu istilahnya, maupun populer, di negara dunia ketiga adalah sekadar refleksi dari negara-negara maju tempat asal dua budaya tersebut terbentuk. Mungkin kita bisa berdiskusi di tempat yang lebih longgar untuk masalah yang terakhir saya sebut.

(2) “Kentucky” adalah full length keempat Panopticon yang dirilis pada tahun 2012. “Kentucky”ini banyak bercerita mengenai sejarah pertentangan kelas borjuis (korporasi penambangan dan pemerintah daerah) dengan kelas proletar (penambang) di Kentucky. Album ini memasukan banyak unsur musik folk yang konon merupakan musik khas yang kerap dimainkan para penambang di Kentucky. Saya menyimpulkan konten album demikan dari beberapa interview dengan Lunn di internet dan pendalaman lirik dari beberapa nomor seperti “Come All Ye Miners”, “Black Soot and Red Blood”, “Killing The Giant As They Sleep”

(3) Folk dalam konteks ini hendaknya dimaknai dalam arti sebagai sekadar “musik genjrengan” atau “petikan” dengan gitar bolong alias dalam arti bentuk, mengeliminasi makna dalam folk sesungguhnya sebagai folklore yang berkaitan dengan budaya bercerita melalui musik di suatu daerah.

(4) http://isolationgrind.com/2012/06/08/interview-panopticon/