Artist : FSTVLST | Album : HITSKITSCH | Genre : Indie Rock  | Label : FSTVLST RCRD PRJCT | Tahun : 2014
 

Setelah mendengarkan album HITSKITSCH hampir 4 bulan dan walaupun terbilang telat untuk mereview album ini, tapi gak ada salahnya kalo saya tetap menuliskannya. Nah berikut tulisan saya mengenai album dari band yang ALMOST ROCK,BARELY ART ini. FSTVLST

Apabila pembaca sudah tidak asing dengan FSTVLST (dibaca Festivalist) karena pembaca tahu mereka adalah dari band yang bernama JENNY, maka saya harus membuat pembaca satu persepsi terlebih dahulu dengan saya yang menyatakan bahwa FSTVLST tidak dapat disamakan dengan JENNY. Karena menurut saya JENNY adalah kakak dari FSTVLST, banyak memiliki kesamaan tapi banyak juga perbedaanya layaknya saudara, bukan berarti pula saya menganggap hierarki kakak adik ini berada pada tataran unggul-lemah, saya menempatkan hierarki kakak-adik ini sebagai sesuatu yang terlebih dahulu lahir. Bukan pula saya bermaksud menganalogikan main kakak-adikan jaman sekarang yang bisa bikin kakak-adik juga, bukan.. Buat saya pergantian nama dari JENNY menjadi FSTVLST adalah sesuatu tepat, sebab, bagi saya masterpiece MANIFESTO adalah sesuatu yang saya pikir bakal sangat susah diualngi bahkan oleh pembuatnya sendiri. Nah, biar gak dianggap mengalami penurunan kualitas dalam penulisan lagu serta komposisi, JENNY baiknya mengganti nama mereka. Oke mari membahas tinggalkan masalah pergantian nama ini, karena saya akan membahas FSTVLST mulai dari artwork sampai lagu per lagunya. Mari membahas sebuah album yang bertajuk HITSKITSCH dari band asal Yogyakarta ini.

Setelah menunggu beberapa tahun dari rilisan single-single mereka di www.fstvlst.com , ahirnya band yang beranggotakan Roby Setiawan (Guitars) , Farid Stevy Asta (Vokal), Danish Wisnu Nugraha (Drums), Humam Mufid Arifin (Bass) mengeluarkan album berjudul HITSKITSCH. Apa itu HITSKITSCH? Karena penasaran saya melakukan googling singkat dari nama HITSKITCH itu. Ternyata HITSKITSCH adalah gabungan dari kata HITS dan KITSCH, HITS sendiri dapat diartikan singkat sebagai sesuatu yang populer. Dan KITSCH saya artikan sebagai sesuatu yang terlihat mewah padahal terdiri dari bahan murahan atau bisa dibilang karya seni rendahan. Jadi HITSKITSCH adalah sesuatu yang populer  tetapi terbuat dari bahan yang murah. Seperti pada petikan lirik dari lagu “Ayun Buai  Zaman” , “Hits namun Kitsch”. Mungkin FSTVLST ingin memberikan opsi bagi pendengarnya untuk menilai album ini apakah HITS ataukah KITSCH ? Sesuatu yang cukup fair.

FSTVLST merilis album ini dalam bentuk CD dengan packaging digipack berwarna merah polos hanya dengan tulisan FSTVLST , HITS dan KITSCH  yang berukuran seperti buku catatan. Rilisan limited 1000 dengan hand numbered di stiker bagian plastik belakang dari CD ini. Dengan materi, konsep ,dan musik yang bagus,menurut saya album ini sangat layak koleksi. Mungkin bagi kolektor ini nanti bisa jadi CD Rare dan melambung harganya di kemudian hari , seperti band-band lain yang merilis ulang dalam format berbeda dan setelah 2/3 bulan harganya jadi mainan para seller. Cekidot gambar disamping. Bukan bermaksud promosi. Tapi memiliki karya dari band yang disukai dalam bentuk fisik rasanya lebih gimana gitu. Dan Alhamdulillove saya punya dan bernomor 626/1000.

 

Divisi artwork digarap oleh Farid Stevy Asta di studionya LIBSTUD, Vokalis dan juga seniman ini memberikan ilustrasi di setiap 10 lagu dalam album ini

FSTVLST-cover
FSTVLST-artwork

Hampir semua konten yang memuat artwork digarap olehnya , mulai dari Merchandise, Web, dll digarap oleh Farid. Farid sendiri sudah sangat melekat dengan artwork-artwork garapannya, jadi mungkin dia dan karyanya itu sudah bisa saya ibaratkan seperti The Velvet Underground dengan Andy Warhol-nya plus dia jadi vokalisnya.Pembahasan selanjutnya adalah masalah konten yang lain dari album ini, apalagi kalo bukan komposisi dan lirik. Pada bagian ini, penggarapan melibatkan lebih banyak personil lagi, bukan hanya Farid, melainkan Roby dan personel lainnya.

ORANG-ORANG DI KERUMUNAN

Dimulai dengan bebunyian bel dan suara seperti sirine pemadam kebakaran mengawali lagu yang menceritakan chaosnya kehidupan jaman sekarang. “Tak Setuju maka beda kubu, Tak Sepaham Lantas Baku Hantam” petikan lirik yang cukup menggambarkan cerita di lagu ini. Dalam lagu ini FTSVLST mengangkat isu kesetaraan dalam lirik “Bahwasanya Aku Kau Mereka Sama” seperti yang selalu di suarakan mereka di setiap panggung dengan symbol = sebagai kesetaraan. Masih kental gitar-gitar ala The Strokes dan permainan energik dari Danish pada drum menambah nyawa pada lagu ini.

I. MENANTANG RASI BINTANG

Musik akustik dan lirik tentang Pelajaran Hidup yang ditulis cerdas oleh Farid mengajak pendengarnya mensyukuri hidup dan berbahagia. Katanya: “Karena bahagia itu sederhana. sudahilah sedihmu yang selalu saja.”

II. HUJAN MATA PISAU

Loh ini kan lagunya JENNY sebelum berganti nama menjadi FSTVLST? JENNY pernah merilis lagu ini sebagai single. Tapi jangan takut, guna menguatkan konsistensi perubahan dari JENNY menjadi FSTVLST di album HITSKITSCH ini “Hujan Mata Pisau” sudah berubah total melalui aransemen yang jauh dari kesan waton. Diawali dengan suara hujan yang menguatkan judul lagunya, lirik dalam “Hujan Mata Pisau” menceritakan sebuah kebingungan dalam mencari keputusan yang serba salah. “ Kanan atau kiri arah yang saling menyindir”. Bagi saya, dalam lagu ini, pendirian dianalogikan sebagai payung, sedang Hujan Mata Pisau adalah masalah yang selalu menimpa. Dan hanya keberanian yang dapat menyelamatkan kita yang berada dibawah payung tersebut.

III. AKULAH IBUMU

“Jarwo Suryo Suryo Lumebeng Ancala Srenging Karsa Mung Nadyan Nyumurupono” adalah suara sinden yang dilantunkan Siti Marfuah dan Anita Siswanto dalam iringan gitar akustik  dan suara cymbal  yang membangun kesan megah pada lagu ini. Secara keseluruhan lagu ini menceritakan seorang Ibu yang dilupakan anaknya dengan lirik yang cerdas.

IV. HAL-HAL INI TERJADI

Lagu yang berdurasi hampir 7:22 ini berisi perpaduan Farid membacakan ketika membaca puisi dengan suara Trombone oleh Krishananto Bayu Budi Atmojo sebagai backsound. Puisi yang Farid bacakan menceritakan hal-hal yang terjadi di masa kini, mulai dari keserakahan, atheist, anti-sosial, konsumerisme, hingga kebencian.  Sebagai penulis lirik, Farid menganalogikan anak sebagai pendengar masa depan agar dapat memilih jalan yang benar dimasa depan. Cerdas.

V. TANAH INDAH UNTUK PARA TERABAIKAN RUSAK DAN DITINGGALKAN

Sekali lagi menggunakan sebuah komposisi yang menggunakan gitar akustik, dipadu dengan keyboard oleh Rio Faradino dan sentuhan melodi gitar electrik. Sepertinya penulis lirik ingin mencari dimana surganya yang sudah terlupakan dan mengajak yang merasakan apa yang ia rasakan untuk bernyanyi dalam lagu ini. Petikan lirik menarik “Kita kan tinggalkan sauhNya, dan abaikan kompasNya” sepertinya meneguhkan pendapat saya mengenai lagu ini.

VI. BUKAN SETAN ATAU MALAIKAT

Disini pendegar akan dibawa pada dau sisi, antara sisi setan atau malaikat yang tidak bisa ditebak dan tentu ditulis cerdas oleh Farid. Berbau garage lagi dan tetap ada bebunyian gitar akustik.

VII. SATU TERBELA SELALU

Seperti yang sudah-sudah, ritme gitar garage kembali terasa, dengan tempo yang cepat , beat drum cepat pula. Pada lagu ini pendengar diajak membayangkan pejuang yang disiksa, dipaksa berbicara tetapi menolak. Namun, Farid menghadirkan pertanyaan pula dalam lirik lagu ini, bagaimana jika yang diperjuangkan tidak seperti yang dibayangkan, dan yang diperjuangkan tetap nyaman saja. Simak petikan dalam lirik yang berbunyi “Ternyata nyaman saja, nyaman pembunuh cita-cita”.

VIII. HARI TERAKHIR PERADABAN

Garage dicampur Punk Rock, cepat dan megah. Mungkin begitu gambaran saya tentang musik di lagu ini. Bagi saya, secara lirilk FSTVLST menggambarkan kiamat versi mereka melalui petikan “Barbarian bersorban, Rantai kuasa yang tiran”. Bahkan sekarangpun FSTVLST berbicara mengenai barbarian bersorban. Saya jadi bergumam, betapa terkenalnya para barbarian itu, sudah tidak terhitung berapa ratusan musisi yang melancarkan otokritik pada barbarian itu.

IX. AYUN BUAI ZAMAN

“ Sejauh mata memandang, hamparan kilau keemasan, sepertinya ini puncak angan-angan, namun apapun yang pernah tergenggam, pasti akan memudar, lalu hilang”  Intro lagu ini diawali dengan gitar akustik membuat saya lekas tertipu dan menganggap “ahh paling seperti lagu-lagu sebelumnya”, sebelum saya sadar bahwa awal tersebut tidak menggambarkan keseluruhan lagu. Nuansa lagu terakhir di album Hitskitch ini segera berubah ketika beat dimulai. Saya merasakan nuansa Jangle Pop ala The Stoneroses yang tentu saja dikemas ulang dalam versi FSTVLST. Lirik dalam lagu ini menceritakan tentang Buaian Zaman kontemporer saat ini, seperti kehidupan sosialita, kepopuleran yang fana, usaha menaikan kasta dalam pergaulan, dan kekuasaan, dalam arti apa saja.

Sepertinya FSTVLST lebih banyak mengangkat tema-tema yang terjadi di sekitar mereka dan menggunakan gitar akustik seperti musik dan tema-tema yang diangkat genre folk. Sebagai contoh, FSTVLST menonjolkan sisi Jogjakartanya di lagu “AKULAH IBUMU” dengan kolaborasi Sinden yang jarang dilakukan olah band-band jaman sekarang. Selain itu, mereka juga menyediakan opsi yang sama seperti opsi HITS dan KITSCH dalam set lagu yang mereka susun. Pendengar bisa diajak moshing di beberapa lagu seperti “Bukan Setan atau Malaikat, “Satu Terbela Selalu” dan “Hari Terakhir Peradaban”, atau diajak merenung melalui lagu “Akulah Ibumu”, “Hal Hal Ini Terjadi” ,  atau bisa pula diajak mengetuk-ngetukan ujung jempol mereka melalui Jangle Pop  di “Ayun Buai Zaman”.

Kesimpulan saya, album ini layak dimiliki pembaca yang mengingikan suasana baru dari musik garage yang dipadu dengan folk dan Jangle Pop. Bagi para pengoleksi rilisan fisik, jangan lupa kalo rilisan FSTVLST sangat menarik dan saya yakin dengan tren yang sedang terjadi di Indonesia saat ini, rilisan mereka adalah investasi yang sangat baik di masa depan. Bayangkan ketika kita nanti butuh susu untuk menenangkan anak, atau barangkali kita dapat istri yang cuma bisa minta melulu. Rilisan yang langka adalah solusinya, gak percaya? Coba deh 5 tahun dari sekarang, pembaca yang mungkin membeli rilisan FSTVLST ini melelang dengan harga 5 kali lipat dari harga beli sekarang. Ha mbok tak jamin, pasti laku! Sebagai penutup, layaknya seorang fans yang pernah menyaksikan intimnya panggung FSTVLST, yang waktu itu masih bernama JENNY, di Purwokerto, besar harapan saya untuk kembali menyaksikan mereka di kota tempat saya tinggal ini. Mungkin kadar kerinduan saya belum sedalam yang dilantunkan Bimbo dalam “Rindu Rasul”. Tapi serius, saya rindu menyaksikan FSTVLST kembali di kota ini. Wasatanmetalikum….