Sebutlah pada tanggal 28 maret 2015 kemarin adalah hari bahagia bagi Hip Hop Colony Purwokerto Districtside, sebuah perkumpulan bagi para pecinta, penikmat dan pengagum budaya yang disebut Hip Hop. Setelah genap 5 tahun perkumpulan ini dibentuk, yang berarti secara matematika sederhana mereka memproklamirkan diri pada tahun 2010 silam, akhirnya mereka membuat sebuah prosesi ucapan syukur atas bertambahnya usia mereka dengan membuat sebuah gigs bertajuk “5th Anniversary : Hip Hop Mendoan #2”. Bekerja sama dengan UKM Remoef FISIP Unsoed gigs tersebut diadakan dilapangan Fakultas Politik Fisip Unsoed. Selain menggelar panggung buat para rapper lokal, Hip Hop Colony Purwokerto Districtside turut mengundang beberapa komunitas yang turut mendukung acara tersebut seperti : Super Semar Familia, Banyumas Family Of Lowrider, Sandekala Heroes (BMX & Skate), Teater Sianak Fisip Unsoed, Purbalingga Urban Street Art, Purwokerto Street Art, Purwokerto Beatbox Community, Satria Breakin dan Heartcorner Collective.

11078116_936118199820199_8562055789174257566_o
11080752_936115403153812_8593987687504636627_o
11082343_936115656487120_8457092536972312679_o
11083792_936114939820525_2060235982669077557_o
11084229_936115369820482_2442283168898090698_o

Sajian utama dari perayaan ulang tahun Hip Hop Colony Purwokerto Districtside, yaitu gig, seharusnya dimulai pukul 16.00 WIB, namun terpaksa mundur akibat hujan yang memang sedang tren di Purwokerto. Tren hujan tersebut sepertinya berbanding lurus dengan tren batu akik, keduanya sama derasnya dan sama gencarnya dalam melanda Purwokerto. Selain hujan, karena mengambil lokasi di Kampus, gig juga sempat tertunda akibat masih terdapat kegiatan perkuliahaan yang tidak bisa diganggu. Sambil menunggu kegiatan perkuliahan usai, beberapa komunitas seperti lowrider mulai berdatangan untuk mendisplay kreasi mereka, tak ketinggalan para pencinta BMX dan Skate mulai unjuk trick. Cuaca mulai membaik dan kegiatan kuliah nampaknya akan segera usai. Akhirnya tepat pukul 18.30 WIB setelah panitia yakin cuaca tidak akan bersikap labil lagi, mereka memutuskan untuk memulai gig dengan mempersilakan street chyper competiton oleh para B-Boy dan B-Girl sebagai pembuka. Usai kompetitisi, Purwokerto Beatbox Community menanti giliran buat memainkan bunyi-bunyian melalui mulut mereka dengan sangat memukau. Pozion dari Cilacap membuka penampilan rap crew pertama pada acara tersebut, disambung oleh rap crew tuan rumah Los Lungalos dan PWTGB.

Selepas rap crew menguasai panggung secara beruntun, panggung kembali diisi oleh sub kultur yang dianggap dekat dengan kultur Hip-Hop yaitu breakdance. Penampilan para breaker, begitu banyak orang menyebutnya dimaksudkan untuk sebuah pre-eliminasi kompetisi breakdance. Para pemain saling unjuk kemampuan hingga terpilih 8 orang untuk lanjut ke babak selanjutnya. Usai para breaker beranjak dari panggung, Kolaborasi Disposable Rap feat Mizta Phee membuat penonton berkumpul pada bagian depan panggung. Keadaan konudisf sepertinya tidak hanya terasa di atas panggung saja, di sisi kiri panggung kawan-kawan Purwokerto Street Art melakukan aksi menggambar graffiti secara live. Ditambah lagi aksi-aksi dari kawan-kawan skate dan BMX yang dengan lihai memaikan kendaraan mereka untuk melakukan freestyle. Hip Hop Colony Purwokerto Districtside sepertinya secara paham mengemas acaranya bukan melulu pada inti acara saja, gig yang diisi dengan Rap Crew, namun mereka juga memperhatikan subkultur popular yang biasa ada dan berdampingan dengan kultur Hip-Hop itu sendiri. Mengembalikan pandangan ke atas panggung lagi, nampaknya setelah  Disposable Rap feat Mizta Phee  top 8 breakdance competition nampaknya telah melanjutkan eliminasinya dan Wea Rapper dari Cilacap bersiap kembali mengayun panggung.

Berselang waktu sejenak, penampilan para breaker memanaskan suasana dengan dance mereka guna menjadi yang terbaik seklaigus menyisihkan kompetitor mereka, sedang di atas panggung UKM Remoef sepertinya bersiap menampilkan kejutan dengan menghadirkan Rap Crew dadakan. Battle dance masih terus berlanjut menuju 4 terbaik sementara kawan-kawan dari Rappshody mengeksekusi microphone melalui lagu single mereka berjudul “HCPD Rollin: dari atas panggung. Last Scientist mengantri pasca Rappshody yang kemudian langsung dilanjutkan dengan penampilan dance dari Krisna dan Kecap dari Fresh Fuzion guna memberi nafas bagi para Hip-Hop kids menjelang penampilan salah saatu bintang tamu malam itu. Setelah semuanya selesai, maka inilah yang dinanti oleh Hip-Hop kids IDos And Blak69! Penampilan mereka menarik hampir seluruh kids merapat ke bibir panggungdan mengacungkan tangan mereka dalam ritma chill  dan ajakan IDos And Blak69 untuk bernyanyi menyuarakan legalisasi ganja dan pengubahan stigma masyarakat ayam terhadap orang bertato. Karena banyak dari penonton yang ikut naik ke atas panggung untuk ikut bernyanyi bersama IDos And Blak69 panitiapun dengan terpaksa menurunkan 2 buah sepeda lowrider yang berada diatas panggung untuk menghindari kerusakan karena sempat jatuh dan terinjak oleh penonton. Sebuah ungkapan yang cukup retoris dilontarkan oleh Blak69 saat jeda penampilan dimana ia menanyakan “apaan tuh Hip-Hop?!” Sebuah pertanyaan yang terhitung retoris mengingat, sepertinya dan sepemahaman saya, Blak69 sejak awal penampilannya malam itu dan entah dari kapan, yang jelas bukan malam itu saja, menggunakan media bernama Hip-Hop untuk menyampaikan pesannya.

Setelah hampir 30 menit Idoz & Black69 mengayun panggung, di belakangnya bersiap Doyz Da Noiz, yang membawa rekannya dari Blakumuh bernama Eric Probe, untuk menaiki panggung. Bagi saya ada keadaan serius ketika Doyz naik panggung, mengapa? Karena pertama selepas Idoz dan Blak69 turun panggung penonton justru berceceran meninggalkan panggung, kedua Doyz membawa Erik, bukankah ini suatu yang langka di Purwokerto dimana sebuah unit legenda, Blakumuh, menyambangi kota kecil ini? Atas dua hal tersebut saya dengan sangat terpaksa mendikotomikan penonton acara malam itu sebagai produk Elitisasi dan Massifikasi a la Profesor Kuntowijoyo. Oke saya kasar, tapi come on, man, kalian tidak bisa menilai sebuah rap crew cuma melalui beat yang mereka rangkai saja, itu hanya tampilan luar mereka! Ini Blakumuh, yang menyanyikan Kaum Kumuh pada Kompilasi Pesta Rap 1 dan S.O.S pada kompilasi Pesta Rap 3. Meskipun mereka membawa nama Doyz yang membuat kita paham apa itu kritik vertikal dengan penguasa dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dari Morgue Vanguard, mereka tetaplah Blakumuh yang secara konsisten sedari dahulu tidak memisahkan media musik dan lirik sebagai satu entitas perlawanan. Bukankah Hip-Hop itu musik perlawanan sebelum Lil Wayne muncul di TV dan membuat semuanya jadi sekadar gaya-gayaan dan gagah-gagahan? sekali lagi, ayolah.

Dari sebagian besar penonton yang akhirnya beranjak, masih terdapat beberapa batang hidung yang setia di depan panggung. Muka mereka nampak terkesima dengan beberapa nomor milik Doyz di album solonya, Perspektif. Mimik para penonton seketika berubah drastis ketika tiba-tiba intro pada lagu S.O.S dimainkan. Mereka nampak terbahak karena sepertinya mereka mengenang masa kecil mereka yang kerap memparodikan lagu ini dengan ungkapan Basuki saat itu, S.O.S menjadi wesewesewes. Doyz dan Erik selama di panggung secara telaten memberikan pemahaman pada penonton untuk tidak hanya menikmati beat yang mereka bawakan tapi juga untuk menyimak lirik yang berada di dalamnya. Mereka pasti paham betul bagaimana musik dan lirik adalah satu entitas yang tidak terpisahkan sebagai media dalam menyampaikan pesan.  

Doyz akhirnya turun dari panggung dan menyudahi setnya. Beberapa teman nampak mengajaknya bercakap di belakang panggung, sedang sebagian lagi masih tidak percaya kalau mereka baru saja menyaksikan legenda bernama Blakumuh. Secara keseluruhan saya ingin mengucapkan selamat pada Hip Hop Colony Purwokerto Districtside atas suksesnya “5th Anniversary : Hip Hop Mendoan #2”, sedang di sisi lain saya ingin berterima kasih atas kehadiran Doyz pada gelaran kali ini, sebab saya jadi makin yakin pada pendikotomian produk budaya a la Profesor Kuntowijoyo itu benar-benar ada dan menjangkiti semua jenis budaya populer. Selamat buat Hip Hop Colony Purwokerto Districtside, semoga edukasi terus berlangsung!