Bulan April bagi kami adalah bulan yang istimewa sejak disepakatinya minggu ketiga bulan ini sebagai perayaan Record Store Day secara internasional. Bagi kami yang tinggal di daerah dan tidak mungkin mengadakan record fair besar-besaran macam di kota besar karena orang di sini lebih suka mendownload dan membeli mp3 bajakan, hal tersebut justru menjadi berkah. Mengapa kami sebut berkah? jawabannya sederhana, karena pada jelang hari itu kami dipaksa untuk menjadi kreatif dengan mengoptimalkan fungsi otak kami.

Kami tinggal di Purwokerto, sebuah kota yang sangat tepat untuk menghabiskan hari tua. Kota ini, walaupun sekarang mengalami peningkatan pesat dalam populasi sepeda motor, adalah kota yang tenang kalau bukan lebih tepat dibilang sebagai kota yang minim kompetisi. Sebab minim kompetisi, kami jadi jarang memfungsikan otak secara optimal. Kalau dilihat secara fiksi seperti dalam film Lucy, mungkin pengoptimalan fungsi otak kami tidak mencapai 0,01%, pada hari biasa. Pada hari biasa? Maksudnya? Iya, pada hari biasa kami hampir tidak mungkin terlibat dalam obrolan serius yang memaksa sel-sel otak kami bekerja guna mencetuskan ide brilian, pada hari biasa pula kami tidak mungkin menyelenggarakan diskusi-diskusi untuk menghadirkan kesimpulan yang maha bernas, apalagi menciptakan rangkaian tesis-antitesis dalam pemikiran terstruktur guna menyimpulkan sebuah paradigma atau fenomena. Kami hanya sekumpulan pemuda yang terus-terusan terjebak dalam rangkaian obrolan kelas sampah sampai semuanya berubah menjelang minggu ketiga bulan April. Walaupun kami kerap terjebak dalam obrolan kelas sampah, begini-begini sebagian besar dari kami adalah penggemar rilisan fisik garis keras, bukan itu saja, pembaca, salah satu dari kami sekarang malah menyeriusi sebuah label kecil guna mendistribusikan rilisan fisik yang lumayan underrated sekaligus memproduksi band-band cutting edge Purwokerto dalam bentuk kaset!

Tahun lalu, minggu ketiga bulan April membuat kami berpikir keras bagaimana cara merayakan Record Store Day di kota yang minatnya terhadap rilisan fisik bisa dibilang memble. Yang membuat kami berpikir keras adalah karena kami semua, dalam kolektif ini, berkesimpulan sama yaitu inti dari perayaan Record Store Day adalah adanya record fair yang dikerubuti pembeli yang kalap pada hari itu. Praktis kami tidak pernah mendapati hal tersebut di Purwokerto, maka tahun lalu kami berinisiatif untuk membuat perayaan yang sepi di record fair karena hanya memuat satu record store, waktu itu milik De Majors, namun ramai di panggung karena kami berinisiatif untuk membuat cover version yang menampilkan band-band lokal dari Purwokerto. Kami sendiri bisa mengatakan bahwa gelaran kami sukses tahun lalu, maksudnya sukses dalam mengakali langkanya record store di kota kami. Namun, untuk dibilang sukses menggelar perayaan Record Store Day secara hakiki, sepertinya kami masih jauh dari predikat itu.

Tahun ini, minggu ketiga bulan April kami rencanakan menjadi lebih istimewa lagi. Walaupun kami masih belum dapat menghadirkan record fair secara masif, tapi kami kembali lagi berpikir keras dan akhirnya menghadirkan sebuah ide yang sangat bernas yang tidak hanya berdampak bagi kami yang berada dalam kolektif ini, melainkan juga untuk kota tempat kami lahir, tumbuh, dan besar. Kami akan membuat sebuah dokumenter! Apa konten dokumenter yang akan kami buat? Kami akan menceritakan, istilah inggrisnya, The Rise and Fall of Record Stores in Purwokerto, pembaca, atau dalam bahasa Indonesianya, Timbul Tenggelam Toko Kaset di Purwokerto. Ide ini muncul ketika kami sudah sangat kepepet dan bingung sekali mau bikin inovasi apa pas Record Store Day nanti. Entah mengapa dan bagaimana bisa, tiba-tiba kami mencetuskan ide membuat dokumenter yang sekaligus menaikan taraf pengoptimalan otak kami dari kurang dari 0,01% menjadi 0,1%, pembaca. Adegan ini bisa makin dramatis seandainya pembaca ilustrasikan dengan scene pada film Lucy dalam imajinasi pembaca, tapi minus kami mengkonsumsi kristal biru, loh. Kami cuma mengkonsumsi asap saja!

Dokumenter ini akan bercerita mengenai keterkaitan runtuhnya toko kaset yang menghiasi masa kecil kami di awal tahun 1990an dan ekses berupa munculnya para penjual rilisan fisik alternatif pada masa belakangan ini yang mendekonstruksi pengertian makna toko kaset yang menetap menjadi toko kaset yang berbentuk lapak yang bisa berpindah ke mana saja sesuai dengan gig atau event lain yang ndilalahnya menyediakan ruangan buat mereka. Selain itu, dalam dokumenter ini kami juga akan bercerita mengenai masih bertahannya sebuah toko kaset dari masa kecil kami yang kini menjadi semacam tanggung jawab bersama yang harus kami jaga agar tidak runtuh mengikuti toko kaset yang segenerasi dengannya. Sebagai upah dari usaha kami karena menjaga toko kaset ini, mereka sepertinya memberikan kesempatan kedua bagi kami yang masih menggemari rilisan fisik untuk kembali membeli album-album lawas yang dahulu pada kemunculannya belum dapat kami pahami konten musik serta liriknya, karena di toko kaset tersebut masih banyak sekali terdapat stok kaset lawas yang belum terbeli pada masanya.

Secara garis besar, tujuan dokumenter ini bagi kolektif kami adalah seperti yang sudah-sudah, agar kami yang dahulu selalu saja kekuarangan dokumentasi dan kemudian menggerutu lalu memarahi diri sendiri ketika kita sadar membutuhkan dokumentasi baik sebagai arsip maupun sebagai bahan pembelajaran yang komprehensif bagi generasi selanjutnya tidak mengulang dan marah akibat kesalahan yang lalu. Sedangkan bagi khalayak luas, kami bertujuan menjadikan dokumentasi ini sebagai sebuah penanda, walaupun hanya berbekal opini dari kolektif kami, bahwa Purwokerto pernah terlibat dalam dinamika rilisan fisik musik baik ketika rilisan fisik itu berada dalam puncak kejayaannya, titik terendahnya, sampai seperti saat ini, ketika rilisan fisik sepertinya meresureksi keberadaannya bagi penikmat setia mereka.

Dengan pengantar ini, seperti apa yang kami ungkapkan tahun lalu, kami berharap gelaran yang kami namai Record Store Day chapter Purwokerto bisa tetap dianggap Record Store Day layaknya di daerah lain terutama kota besar walaupun kami tidak menyediakan record fair sebesar di kota lain. Sedangkan bagi para penikmat rilisan fisik yang secara rutin hadir dalam gelaran kami, kami berharap bahwa dokumentasi ini membuat para penikmat rilisan fisik sadar bahwa kita, di Purwokerto, juga terlibat dalam partisipasi guna melestarikan rilisan fisik agar tetap hidup, sehingga di kemudian hari kita tidak lagi menangisi tutupnya toko kaset yang tersisa di Purwokerto. Sebagai penutup pengantar ini, kami mengundang pembaca semua untuk menyaksikan pemutaran dokumenter ini pada hari Minggu tanggal 18 April 2015 bertempat di Halaman Satelit Post. Jangan lupa bawa uang lebih sebab, pengisi dokumenter ini, para penjual rilisan fisik alternatif alias pelapak, akan menjajakan jualannya pada Record Store Day chapter Purwokerto dan kami berhasil memaksa pemilik toko kaset Orion serta Nusantara untuk ikut melapak di gelaran besok ini. Jadi ini sesuatu yang sngat serius! Karena kata support harus dilanjutkan dalam tindakan nyata, maka hadiri dan ramaikan gelaran yang telah memaksa kami meningkatkan kadar pengoptimalan otak kami. Sampai bertemu di Record Store Day chapter Purwokerto!