RECORD STORE DAY CHAPTER PURWOKERTO 20 APRIL 2014


Record Store Day adalah sebuah perayaan internasional untuk para pecinta rilisan fisik dan penggiat toko rilisan fisik itu sendiri. Para pencinta rilisan fisik dan penggiat toko biasanya berkumpul di suatu tempat untuk merayakan hari tersebut. Guna merayakan Record Store Day, Heartcorner Collective mencoba untuk membuat perayaan kecil-kecilan di hari yang spesial tersebut. “Record Store Day chapter Purwokero” dirayakan pada hari minggu, 20 April 2014 di Blasta Casual Resto. Pada perhelatan Record Store Day, Heartcorner Collective mencoba mengubah konsep tahun lalu dimana Record Store Day tahun lalu hanya mengedepankan eksebisi dari para pencinta rilisan fisik saja. Pada Record Store Day kali ini Heartcorner Collective menghadirkan beberapa label yang menjual rilisan fisik di Purwokerto serta menampilkan empat band local Purwokerto yang mengusung genre yang berbeda-beda.  Guna menambah uniknya perayaan Record Store Day chapter Purwokerto kali ini, band yang didaulat tampil pada acara tersebut diminta membawakan cover version dari band yang hingga kini masih mereka simpan rilisan fisiknya yang juga mempengaruhi musikalitas yang mereka usung hingga saat ini.

Acara yang sebelumnya direncanakan akan dimulai pukul 13.00 ini terpaksa mundur sampai pukul 14.00 karena alasan klasik, hujan. Kondisi  yang agak menghambat gelaran siang itu toh ternyata tidak mengurungkan niat para pemburu rilisan fisik untuk memburu rilisan yang dijajakan khusus pada Record Store Day. Tak hanya memburu rilisan yang dijajakan hari itu, para pengunjung juga terlihat antusias menyaksikan eksebisi koleksi milik Dhani “Ganteng” Wurianto, Irfan “Aong” Gama, Margue Aryanti, Arlansyah R, dan saya sendiri, Teddy Bear, berupa Kaset, CD dan Vinyl yang ditempatkan dalam satu meja khusus dimana tujuan eksebisi tersebut adalah untuk menunjukan perjalanan memori dan influence masing-masing peserta eksebisi dalam menikmati musik hingga saat ini. Disampingeksebisi tersebut, unsur utama dalam Record Store Day, yaitu penjual, diwakili oleh Aziz No End sebagai perwakilan dari DeMajors Purwokerto menggelar lapaknya untuk menjual beberapa rilisan yang band yang berada dalam distribusi De Majors, Adnan “Tempik” juga terlihat menjajakan cd debut album bandnya, Bunkerboob, yang baru saja dirilis dibawah label Kerta Badja. Selain kedua teman tersebut, Aong juga terlihat membawa beberapa piringan hitamnya untuk dilelang pada hari itu, Aong sendiri adalah salah satu pencinta piringan hitam yang juga merupakan Project officer pada gelaran Record Store Day kali ini. Padatnya spot pintu masuk kedalam venue  membuat saya tersenyum, sebab saya menjumpai beberapa wajah asing yang sama sekali belum pernah saya temui sebelumnya yang datang pada hari itu hanya untuk membeli rilisan fisk dan menyaksikan eksebisi dari teman-teman Heartcorner Collective. Benar-benar pemandangan yang sangat sedap dilihat.

Mengalihkan pandangan mata saya ke venue, acara nampaknya telah dibuka dengan penampilan dari LAST SCIENTIST, suguhan ciamik dari DJ Hendrikus bersama dengan raper-raper Purwokerto langsung menghangatkan suasana ketika itu yang memang dingin karena hujan.Yang cukup menjadi perhatian saya adalah ketika LAST SCIENTIST tampil, alih-laih melakukan cover version dalam arti yang sesungguhnya, mereka malah memilih untuk melakukan mash-up blend antara tembang milik Iwan Fals, “Sore Tugu Pancoran”, dengan komposisi milik mereka sendiri. Hal tersebut membuat saya berkesimpulan bahwa mereka ini adalah unit yang memiliki edukasi cukup mendalam mengenai root Hip-hop sebagai musik perlawanan kultur, bukan hanya gaya-gayaan dengan snapback, MC yang merapal secepat kilat, dan gaya ghetto. Mereka jelas memiliki sesuatu yang lebih. Selepas “LAST SCIENTIST”, mengantri dibelakangnya adalah para punggawa Post-punk Pagi Yang Indah yang siap untuk menunjukkan mereka aksi mereka di atas panggung. Seperti biasa dalam penampilan yang sudah-sudah,  guyonan khas dari vokalis mereka Descond selalu menghiasi setiap penampilan mereka di atas panggung. Karena mengusung genre Post-punk tlonyoran saya sendiri cukup kaget ketika menyaksikan Pagi Yang Indah mengkover Gun’s and Rose lagu “Sweet Child O’mine” tapi karena tlonyoran, tetap saja mereka tidak menyelesaikan lagu tersebut.

Setelah Pagi Yang Indah menutup panggung mereka siang menjelang sore itu dengan track andalan mereka, “Transisi”, Revolver besiap untuk melanjutkan estafet kemeriahan panggung. Sebelum Revolver naik ke panggung, ada kejadian yang cukup menarik dimana Shidik yang pada saat itu baru datangdari Majenang (Shidik adalah mantan vokalis Hopeless To Survive yang saat ini bekerja sebagai TL perusahaan rokok ternama di negeri ini di Majenang. Selain bekerja, Shidik juga memperkuat predikatnya sebagai Playboy Manjenang) langsung didaulat sebagai MC dadakan dan seperti biasa Shidik langsung mengeluarkan jurus-jurus andalan yang kocak untuk mem-bully teman-teman Purwokerto yang saat itu berada di acara. Sore itu nampaknya menjadi sore yang apes bagi Cipling, pembetot bass Bunkerboob, yang dihajar habis-habisan oleh Shidik mulai dari kemiripannya dengan pesulap fenomenal Pak Tarno sampai pengulikan tips dan trik Cipling dalam menyepik lawan jenis. Kembali ke pembahasan penampil sore itu, Revolver, tidak dapat naik ke panggung dengan formasi lengkap karena vokalis mereka berhalangan hadir, namun minus vokalis asli tidak kemudian mengurangi ke-“gahar”an mereka di atas panggung.Berbeda dengan 2 band pengisi acara sebelumnya yang menjadikan cover version sebagai sisipan, Revolver justru mengisi penampilan mereka malam itu dengan format full cover version lagu-lagu rock era 80-90an. Penampilan Revolver yang membuat beberapa penonton ber sing-a-long membuat mereka mendapatkan standing applause dari beberapa penonton yang nampak puas dengan rapinya cover version dan nostalgia yang mereka suguhkan sore itu. The Telephone didaulat sebagai band penutup pada sore itu.Terhitung sudah sekitar 2 tahun mereka tidak tampil di panggung, sontak pada sore itu mereka mendapat atensi yang cukup besar dari teman-teman Purwokerto. Membawakan lagu-lagu andalan dalam album perdana mereka “Materialisme, Dialektika dan Logika”, sore itu terdapat satu hal yang menarikketika The Telephone hendak menutup penampilan mereka, hal tersebut dikarenakan mereka memilih untuk membawakan lagu NIRVANA berjudul “Smells Like Teen Spirit” yang dinyanyikan drummer mereka, Kemal. Saya melihat Kemal memiliki bakat untuk menyanyi bahkan saya sampai membayangkan apabila nanti The Telephone bubar akibat Anind, vokalis mereka bunuh diri, Kemal dapat membentuk band lagi sebagai vokalis layaknya kisah Dave Grohl di Nirvana dahulu. Secara keseluruhan acara ini berjalan dengan lancar dan meriah. Hal yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah banyaknya wajah-wajah asing yang sebelumnya belum pernah saya temui ada di gigs maupun di jalan.Saya sangat bahagia melihat antusiasme mereka dalam memilih dan menanyakan hal-hal mengenai rilisan fisik artis kesukaan mereka di lapak De Majors Purwokerto, mungkin sekarang trend sedang berulang dimana para pencinta rilisan fisik mulai merebak kembali dan mari dengan logika kita bersama, kita membuang jauh-jauh predikat hipster apalagi sematan anak kemarin sore pada para pengumpul rilisan fisik yang sedang tumbuh ini. Apabila kita menamai mereka sebagai hipster dengan konotasi yang buruk, maka kita semua yang terlibat acara “Record Store Day chapter Purwokerto” ini adalah mantan hipster  yang tak mau dan tak bisa disembuhkan. Akhirnya, dengan meminjam quotasi dalam leaflet Jagjaguwar Records, izinkan saya mewakili teman-teman yang terlibat dalam perayaan kemarin untuk menyerukan dengan lantang “Long live physical media!”. (AFA)

Previous Kehidupan Yang Vhana Ini - Terapi Urine
Next PARADE BAND TERBAIK 2014