Paris In The Making & ANECHOIS Polymorphous Tour


Setelah 24 September lalu diinvasi oleh band-band dengan sentuhan post-rock lewat gelaran Space Invasion #2, 16 November kemarin Purwokerto kembali diinvasi oleh band serupa yaitu Paris In The Making dan ANECHOIS dari Singapura. Kedatangan mereka kali ini adalah  dalam rangka promo tur Split Tape mereka yang bertajuk Polymorphous. Purwokerto patut berbangga, karena “hanya” 4 kota yang disinggahi rangkaian tur ini  yaitu Jakarta, Sumedang, Yogyakarta dan Purwokerto sendiri. Seolah belum lepas dari euforia Space Invasion #2, pemilihan venue gigs kali inipun  tidak jauh-jauh dari tempat yang dijadikan venue Space Invasion #2,  Aula FISIP Unsoed, yaitu di Ex-Kantin FISIP Unsoed. Venue ini dulu juga sempat menjadi venue dimana  Diskoiraa dari Spanyol dan Terapi Urine dari Bandung memuntahkan kebrutalan mereka. Selain menampilkan Paris In Making dan ANECHOIS, gigs ini juga menampilkan band-band lokal yang cukup dasyat pada scenenya seperti Bunkerboob, Sadstory On Sunday dan Daskapitalism.

Acara  bertajuk Paris In The Making & ANECHOIS Polymorphous Tour yang dijadwalkan dimulai pukul tujuh malam ini terpaksa molor sampai dua jam akibat genset yang terlambat datang dan checksound dari Paris In The Making serta ANECHOIS yang ternyata melebihi estimasi waktu. Hal tersebut membuat penonton yang datang tepat waktu malah beruntung, karena mereka mendapat bocoran suara-suara “ajaib” dua band tersebut. Keterlambatan dimulainya acara juga berakibat batalnya Daskapitalism untuk turut membuka gigs ini karena Daskapitalism juga harus manggung di tempat berbeda yang kebetulan waktunya bersamaan dengan dimulainya gigs ini. Akhirnya hanya dua band lokal yang membuka gelaran tour ini dan  Bunkerboob didaulat untuk segera tampil membuka gelaran ini. Tak butuh waktu lama, Bunkerboob dengan modern hardcorenya  langsung memicu terjadinya moshpit. Sekitar 8 lagu mereka bawakan hampir secara medley diantaranya “Loyalitas”, “Liar”, dan “Kita Api” yang diambil dari upcoming album mereka bertitel Return For The Kids yang rencananya akan dirilis sekitar Januari tahun depan. Usai Bunkerboob,  Sadstory On Sunday bersiap mengambil alih panggung. Memainkan beberapa traclist andalan, Sad Story On Sunday kembali memancing moshpit pada lagu yang bertempo cepat seperti “Intro” dan “Home I : Kita Hidup Di Satu Dunia”. Hal yang sangat disayangkan terjadi saat mereka memainkan lagu baru yang masih bertempo cepat dimana tiba-tiba seluruh aliran listrik padam dikarenakan genset yang kehabisan bahan bakar. Akibat insiden tersebut penonton harus mati gaya sekitar 45 menit sembari menunggu genset diisi bahan bakar dan sialnya lagi, walaupun telah terisi bahan bakar, genset ternyata  sempat masih sulit dinyalakan! Beruntung insiden tersebut tidak menyurutkan kondisi moshpit yang sudah terlanjur panas, sehingga setelah semua kembali normal Sadstory On Sunday masih mampu menutup penampilannya malam itu dengan “We could be anyone else” yang sukses menjadi sing a long penonton.

1476061_727227233971310_1031413470_n

Seperti yang sudah-sudah, harapan saya masih sama, semoga makin banyak band sejenis yang mampir di Purwokerto supaya memberi warna yang berbeda pada skena musik Purwokerto

Malam sudah menunjukan sekitar pukul sebelas selepas Sad Story On Sunday menutup penampilan mereka dan yang ditunggu pun akhirnya mulai menata set-nya. Paris In The Making  diadaulat sebagai headliner yang tampil perdana guna tetap menjaga panasnya moshpit malam itu. Paham dengan waktu yang semakin larut, band screamo/post-hardcore  a la Envy, Devil Sold His Soul, Rinoa yang beranggotakan Salihin Sadon (Vokal/synth), Suhayl Agoes Djaja (Bass), Ahmad Ariff  (Gitar), Syahmi Samad (Gitar), Syahadi Samad (Drum) akhirnya terpaksa mencoret beberapa lagu dari list yang seharusnya dibawakan seperti “Mayumi” dan “May They Be Saved From Light”. Namun, hal tersebut tidak mengurangi penampilan mereka yang memukau malam itu. Setlist sederhana yang dibawakan Paris In The Making malam itu sukses membuat penonton tetap merapat dan menganguk-angguk mengikuti irama-irama indah yang mereka suguhkan, Salihin Sadonpun sukses mewarnai penampilan Paris In The Making dengan gestur yang menunjukkan kegalauan maksimal. Selain membawakan lagu dari debut album mereka yang bertitel Origins, malam itu mereka juga membawakan lagu “Memoirs” dari album split dengan LKTDOV dan “Origins” dari split album mereka dengan ANECHOIS. Setelah Paris In The Making menuntaskan penampilannya, giliran rekan senegaranya ANECHOIS yang bersiap. Sekejap kemudian setelah ANECHOIS menampilkan lagu pertama mereka, penonton hanya bisa terduduk dan bengong dengan kerumitan musik progresif/math-rock a la Toe atau Delta Sleep yang disajikan Haziq Hussain (gitar/vocal), Muhammad Fadli  (drum), Firdhauz Asyraft (keyboard), Dale Roswald (bass) dan Ahmad Khaliq (gitar) ini. Meskipun secara keseluruhan tipikal musik dari ANECHOIS cenderung ke musik instrumental, mereka dengan pintar melepas  teriakan Dale Roswald pada saat yang tepat sebagai instrumen tersendiri berupa vokal sehingga memberikan sensasi yang sangat berbeda pada beberapa lagu yang mereka bawakan malam itu. Teman saya yang katanya pusing mikirin duit untuk beli susu anaknya pun tampak cengar-cengir karena sangat menikmati sajian ANECHOIS yang sangat seru ini :p

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 00.43 saat ANECHOIS mengakhiri aksi serunya dan berakhir pula gelaran Paris In The Making & ANECHOIS Polymorphous Tour ini. Lagi-lagi masih asingnya genre musik berbau post-rock, Minimnya Publikasi dan asingnya venue (mengingat tempat baru diumumkan H-3 sebelum acara) membuat penonton awam masih enggan untuk hadir. Padahal gigs ini sama sekali tidak dipungut biaya, hanya dipungut sumbangan seikhlasnya yang nantinya ditukar sebuah stiker gigs dengan artwork yang menarik. Diluar semua kendala yang ada dan mengiringi berlangsungnya gigs ini, bagi saya pribadi terdapat sesuatu yang tidak ternilai yaitu berupa  atmosfer dan efek psikologis yang didapat dari gelaran ini. Seperti yang sudah-sudah, harapan saya masih sama, semoga makin banyak band sejenis yang mampir di Purwokerto supaya memberi warna yang berbeda pada skena musik Purwokerto. Terima kasih buat atmosfer, suasana dan pemacu adrenalin yang jarang saya dapatkan di gigs-gigs lain.(RW)

Previous Spirit On Sunday #6
Next Berjanji Setia Kepada Jurgen Habermas