Inverted Attack 4 @X-on Studio


Purwokerto 15 November 2014 diguyur gerimis seharian dan diselimuti udara dingin, tapi tidak di X-on studio. Di dalam studio yang berukuran cukup luas itu diadakan Inverted Attack ke 4, yang kali ini berformat studio gigs, yang diselenggarakan oleh teman-teman Pyrate Punx Purwokerto. Luasnya ukuran studio tidak lantas membuat udara dingin di luar studio menular ke dalam studio, sebab dengan banyaknya kawan yang hadir pada gigs ini membuat udara dan suasana di dalamnya menjadi panas dan liar. Inverted Attack kali ini diramaikan dengan tour Seven Crowns,  sebuah band hardcore-punk Inggris, dan Scheisse Minnelli dari Jerman. Seven Crowns sendiri sudah bukan nama asing bagi teman-teman di Purwokerto, sebab ini adalah ketiga kalinya mereka menyambangi kota ini. Gigs malam itu Dibuka oleh Metroriot, sebuah band yang enerjik dan menyimpan karakter unik dalam 2 personelnya yaitu Suyud Melodic, si bassis, yang dalam setiap panggung pasti melakukan hal yang membuat penonton tertawa, baik melalui perkataannya maupun polahnya, dan Barkah, si gitaris, yang bertubuh kurus dan bertato yang selalu setengah sadar ketika bermain gitar dalam gigs apapun. Akibatnya dalam setiap gigs dimana Metroriot tampil yang ada hanya gelak tawa dari penonton yang disebabkan oleh kesremawutan polah personelnya.

WP_20141115_22_37_19_Pro
WP_20141115_22_35_18_Pro
WP_20141115_22_35_01_Pro
WP_20141115_22_34_40_Pro
WP_20141115_22_20_40_Pro

Penampil kedua pada Inverted Attack adalah band yang tengah menyiapkan EP mereka, Gerombolan X Berat, sebuah band fastcore asal Purwokerto yang bervokalis gendut dan kerap dipanggil Pardi. Khusus untuk orang yang satu ini, Pardi, sekilas belakangan dengan naik daunnya ustadz cum provokator cum motivator cum penulis buku abal-abal, Jonru, saya merasakan ada kemiripan dalam wajah kedua orang tersebut. Walaupun demikian, Pardi tetap orang yang jauh memiliki integritas dibanding Jonru. Sebab kalau Jonru memiliki terlalu banyak profesi dan profesi itu membuat dia jadi tenar bahkan malah kaya mendadak, profesi Pardi yang hanya seorang guru dan musisi justru membuatnya jadi kadang jatuh miskin, lebih banyak jatuh miskinnya daripada jadi kayanya, hal itu menjadikan Pardi konsisten sebagai wong cilik. Jadi saya menyimpulkan bahwa kemiripan mereka hanya sebatas kemiripan fisik saja, tidak lebih dari itu. Suasana tlonyoran agak mereda ketika Tutup Botol mengambil alih studio, band yang dimotori oleh kawan yang bernama Garonk  ini menurut saya semakin matang dalam mengemas konsep serta penampilannya. Selain itu mereka adalah salah satu band Punk rock yang cukup konsisten pada genrenya di Purwokerto.

Inverted Attack kali ini tidak hanya menjadi gigs yang diorganisir guna mengakomodasi kunjungan Seven Crowns dan Scheisse Minnelli, namun juga untuk mengakomodasi solidaritas dengan teman-teman dari Tegal. Hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya band dua Tegal dalam gigs ini yaitu Bengal, yang mendapat giliran untuk menguasi studio setelah Tutup Botol usai beraksi, yang sukses menjaga panasnya udara di dalam studio dengan performanya. Setelah Bengal beraksi, Bunkerboob, band Hardcore Purwokerto yang sedang naik daun pasca meluncurkan album yang berjudul Return of The Kids, didaulat untuk memamerkan kegalakkan sound mereka. Dengan padatnya jadwal manggung yang mereka miliki, Bunkerboob masih memiliki keluangan waktu untuk turut berpartisipasi dalam gigs kecil ini. Hal tersebut menunjukan kerendahan hati mereka pada gigs yang diorganisir oleh wong cilik dan kawulo alit, Bunkerboob sukses menjaga mental cutting edge mereka dengan kesediaan mereka untuk tampil dimanapun dan dalam gigs apapun, salut! Malam itu Bunkerboob menunjukan performa prima yang berasal dari  ketekunan mereka berlatih. Menurut saya, Bunkerboob bukanlah band yang memainkan, istilahnya, Hardcore miring, mereka hanya memainkan Hardcore beatdown yang tengah tren saat ini, namun dengan performa serta ketekunan mereka dalam berlatih, mereka mampu menunjukan bahwa mereka, saat ini, disadari atau tidak, adalah salah satu aset terbesar yang dimiliki skena musik Purwokerto. Band berikutnya yang tampil selepas Bunkerboob usai menghibur para Hardcore Kids adalah Go On, band asal Tegal yang telah beberapa kali mampir ke Purwokerto. Menurut pengamatan saya perfoma mereka pada malam itu menunjukan materi mereka yang tetap konsisten dan performa yang lebih matang. Salut buat teman-teman Tegal yang datang jauh-jauh untuk memberikan performa mantap dan materi yang tetap konsisten!

Usai sederet band lokal memanaskan suhu ruangan studio X-on, giliran bintang tamu dari manca negara yang didaulat untuk memanaskan studio. Giliran pertama jatuh pada Scheisse Minnelli, Band Hardcore Punk dengan sentuhan minimalis Punk Melodic asal Jerman. Sebelumnya saya sama sekali belum pernah mendengar apalagi menyaksikan band ini tampil, saya hanya tahu band ini album mereka, Sorry State Of Affairs, yang dipajang di lapak kaset di depan studio yang digelar oleh Kang Kunx. Saya cukup penasaran mengenai materi mereka. Saat Scheisse Minnelli  menyiapkan peralatan mereka, saya keluar dari studio sejenak untuk menghirup udara segar sebab di dalam studio sudah terlalu panas dan pengap. Selepas menunggu sejenak, sepertinya Scheisse Minnelli telah siap dengan set  mereka dan saya memutuskan untuk kembali masuk kedalam studio. Begitu mereka menggeber lagu pertama mereka, saya menyaksikan sesuatu yang jauh melebihi ekspektasi saya, Scheisse Minnelli secara cerdas memadukan beberapa part Punk-Melodic-Hardcore yang cukup miring yang ditunjang dengan primanya player dalam band ini. Mendapati suguhan seperti itu, crowd dalam studio langsung pecah dengan mosh dan sesekali ada beberapa anak yang mencoba melakukan dive. Cukup lucu juga suasana studio saat mereka tampil. Keyakinan saya pada primanya kemampuan player Scheisse Minnelli  semakin nyata adanya ketika mereka memainkan lagu terakhir mereka, yang sayangnya saya tidak tahu judulnya. Sebelum memainkan lagu tersebut, si vokalis berkata bahwa dia akan membawa crowd pada tahun 1974an dan dia meminta pada crowd untuk sejenak meninggalkan tari-tarian a la Hardcore Kids karena dia bilang kita akan berdisko malam ini. Benar saja mereka memainkan sebuah komposisi yang sama sekali jauh dari root Hardcore atau Punk, crowd pun segera tenggelam mengikuti aba-aba si vokalis untuk melakukan tarian disko. Menurut saya, Scheisse Minnelli benar-benar sukses menutup penampilannya malam itu dengan sesuatu yang beda, melalui sebuah musik disko yang dimainkan band Hardcore Punk!

Setelah Scheisse Minnelli sukses membawa crowd berdisko, Seven Crowns nampaknya tidak memberikan kesempatan pada crowd untuk sekadar menarik nafas. Melalui persiapan singkat mereka kembali memanaskan udara studio dan memaksa crowd untuk kembali berkeringat dan kehabisan nafas. Dari 3 kunjungan Seven Crowns ke Purwokerto mereka masih nampak sama seperti dahulu, mereka yang ganas dan liar ketika berada di panggung. Malam itu Seven Crowns didaulat untuk menutp perhelatan Inverted Attack dan mereka nampak sukses melakukanya.   Usai Seven Crowns menutup penampilannya malam itu ada kejadian lucu dimana vokalis mereka buru-buru minta jalan untuk menghirup udara segara di luar studio. Saat saya temui usai mereka merapikan alat yang meraka bawa dan bersiap kembali ke hotel, saya menemukan jawaban yang sangat lucu dimana Seven Crowns mengatakan bahwa mereka belum pernah tampil dalam ruangan sepanas itu. Maklum saja, selain iklim yang berbeda antara Inggris dan Indonesia, sudah barang tentu mereka pasti juga belum pernah merasakan iklim khusus studio gigs yang lembab, panas, bau keringat dan bebauan aneh lainnya, sepertinya saya bisa memahami penderitaan Seven Crowns dan Scheisse Minnelli  saat tampil dalam studio. Usai menyelesaikan tanya jawab saya dengan kedua band tersebut terlihat beberapa teman yang masih bergerombol di depan studio, mereka nampaknya sangat antusias dengan acara spa gratis berkedok studio gigs ini, karena selain bersenang-senang, mereka juga dapat menghangatkan diri akibat udara Purwokerto yang seharian memang tidak tersentuh panas matahari. Selepas berpamitan, saya kemudian memutuskan untuk pulang dan mengingat-ingat kejadian seru pada gigs tadi, semoga solidaritas dan semangat teman-teman dalam mengadakan gigs tidak surut akibat makin sulitnya perijinan untuk meminjam gedung di Purwokerto. Semoga saja. (NE)

Previous Jack Daniel's on Stage KOIL & /rif
Next Pementasan Lakon “ORANG MALAM” - Teater Receh (Fakultas MIPA Unsoed)