Membicarakan Ini Tak Semudah Membicarakan Cuaca dan Prakiraannya


“If a vehicle as powerful as television were oriented even slightly toward this kind symbolic revolution, I can assure you that everyone would be rushing to put a stop to it….” (Pierre Bourdieau)

Pembaca, apa kabar? Kembali lagi kita bertemu dalam pengatar buat para pembaca dalam membaca materi yang kami sajikan di laman ini. Pembaca, kami belakangan ini merasa kepayahan karena sepertinya kami mengalami minimnya partisipasi dan regenerasi dalam hal tulis menulis di laman ini. Bukannya bermaksud curhat seperti hobi dari Presiden Republik ini, tapi kami hanya merasa bingung saja hingga saat ini kami tidak juga menemukan partisipasi yang signifikan atau regenerasi yang mantap dalam pengerjaan laman ini.

Pembaca, kemarin ini saya mendapatkan sebuah pencerahan mengenai masalah yang saya hadapi melalui petikan artikel Pierre Bourdieu yang berjudul “On Television”. Tulisan tersebut, hemat kemampuan saya dalam menterjemahkannya, berisi beberapa daftar kesalahan televisi yang membuat mental kita kerdil, kritik kita juga menjadi tumpul, standar pembacaan kita terhadap fenomena yang disajikan televisi ini menjadi seragam, akibat siapa? Ya akibat dari televisi ini. Saya disini tidak bermaksud untuk menambah daftar panjang kritik terhadap televisi, saya hanya tertarik mengaitkan apa yang Bourdieu tulis pada awal artikelnya dengan minimnya partisipasi yang saya dapatkan dalam hal tulis menulis di laman ini. Pembaca, kita semua pasti pernah menyaksikan, entah itu sengaja atau tidak, sebuah tayangan bernama prakiraan cuaca, sebuah program yang menggeneralkan pemikiran kita pada titik yang seragam mengenai fenomena cuaca yang akan terjadi hari ini. Ketika kita menyaksikan tayangan tersebut pemikiran kita sudah difragmentasi dalam opsi yang beberapa, tidak luas, tidak bebas, sekali lagi terbatas dan beberapa. Entah mengapa saya (sebagai penulis pengantar ini) jadi berpikir mundur beberapa bulan yang lalu ketika ada peresmian laman ini di Blasta Casual Resto, banyak pertanyaan disana yang ketika saya kaitkan dengan pengantar membaca ini mejadi gathuk. Terutama adalah masalah penyeragaman berpikir dari sebuah komunitas yang berada dalam satu kota dimana kita dipaksa tidak boleh menjadi eksklusif dan harus terbuka pada semua jenis grand theorie (atau dapat kita sempitkan lagi dengan istilah genre) dari sebuah komunitas lain. Ketika masalah tersebut mengemuka dalam acara tersebut, jujur saja saya sebagai bagian dari komunitas ini sangat memikirkan ekses yang mungkin terjadi dengan pembahasan masalah keterbukaan dan anti eksklusivitas dalam forum terbuka, karena hal tersebut memang sangat jarang sekali terbahas, dalam forum terbuka tentu saja. Selama ini kita banyak membahas masalah basa-basi saja, karena senada dengan Bourdieu saya sangat mengamini kutipannya yang berbunyi “The collective activity i’ve described works so well precisely because of this homogenization, which smoothes over things, brings them into line, and depoliticizes them[1]. Ya saya menganggap negatif sebuah homogenisasi yang memperhalus suatu hal, membawa mereka pada tataran pemikiran yang seragam dan menghilangkan maksud hakiki mereka dalam menjadi pemikiran yang memiliki maksud. Dengan kenyataan permintaan untuk selalu terbuka dan dengan pernyataan Bourdieau tersebut saya (sebagai penulis pengantar membaca ini dan sebagai bagian dari komunitas heartcorner) berkesimpulan seperti ini “jadi biarlah kita tidak terjebak dalam penyeragaman (yang dibentuk oleh prakiraan cuaca) mendung, cerah, cerah berawan, cukuplah apa yang kita komunitaskan itu menjadi mendung buat yang percaya hari ini mendung, cerah buat yang percaya hari ini akan cerah, dan seterusnya. Tak perlu meyakinkan semua orang akan percaya pada apa yang kita platformkan dalam komunitas kita.”

Pembaca, tak bosan saya meminta partisipasi pembaca. Karena ketika kita berbicara komunitas tidak akan semudah menghadirkan “something that attempt to be inoffensive, not to offend anyone, and it must never bring problems – or, if it does, only problems that dont pose any problem[2] (Sesuatu yang yang tidak memiliki maksud menyerang, tidak untuk menyerang seseorang, dan sesuatu yang harus tidak pernah membawa masalah, atau kalaupun sesuatu tersebut membawa masalah, masalah tersebut tidak lantas menghadirkan masalah-masalah yang lain – diterjemahkan oleh penulis). Ada sebuah perbedaan yang harus tetap kita jaga disini, karena kita tidak berbicara masalah cuaca, seperti yang dikatakan Bourdieu kerap dijadikan bahan obrolan dua orang karena tidak memiliki tendensi apapun dan tidak menimbulkan apapun. Lagipula mana ada sih orang bersilang pendapat akibat membicarakan cuaca, tapi kita membicarakan sebuah fragmentasi berpikir yang kita biarkan tetap bersilang, tetap dinamis dan terjaga keragamannya, kita membicarakan konsep besar yang menjadi ciri khas dan menjadi dasar kita berkumpul, membentuk komunitas dan membiarkan ide mengalir didalamnya, dan perlu diingat itu merupakan hal yang sulit. Mari berpartispasi, kami berjanji kami tidak akan menanyakan ramalan cuaca pada kalian yang datang membawa partisipasi kalian, kita akan berbicara sesuatu yang besar dan kita akan merealisasikannya. Pembaca percaya kalau hari ini akan panas seperti biasanya? maka saya harus memilih opsi kalau nanti pukul 4 sore bakal turun hujan, agar kita saling menyilangkan pendapat, agar perbedaan tetap terjaga diantara kita, agar alam bawah sadar kita tidak diseragamkan, dan utamanya agar kita selalu terlibat dalam partisipasi komunikasi dua arah. Terima kasih, selamat membaca (WR)



[1] From Pierre Bourdieu, On Television, pp. 44-56 and 66-67. Translated by Priscilla Parkhurst Ferguson. New York: The New Press, 1998

[2] Ibid            

Previous Records Store Day Purwokerto: Sebuah perayaan khusus bagi pecinta rilisan fisik.
Next Kehidupan Yang Vhana Ini - Terapi Urine