Kepada Pak Polisi Tanpa Seragam Semalam di Kafe Ramsha


Selamat pagi, Pak Polisi yang semalam menggerebeg pertunjukan, bapak sudah bangun dan menyeruput kopi sambil menghisap rokok favorit bapak? Semalam bapak mendapat sufficient sleep alias tidur yang berkualitas? Kalau bapak mendapatkannya, maka kami tidak. Pak, kami cuma ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin bisa menjadi kesetaraan logika berpikir kita berdua, dua buah kubu yang bersebrangan. Poinnya sederhana kok, Pak, tidak mbulet seperti mata kuliah logika yang dulu pernah kami dapat di bangku Universitas. Kesetaraan pertama yang ingin kami capai adalah pada pertanyaan ini, Pak, bapak dahulu pernah muda? Sudah pasti bapak dahulu pernah muda sama seperti kami yang semalam berada di kafe yang bapak kacaukan acaranya. Mungkin gejolak muda kita tidak sama, Pak, kami memilih berkesenian dan bersenang-senang dengan menggunakan ruang publik, sedang bapak entah melalui medium apa. Mungkin bapak bisa balas dalam surat balasan yang ditujukan terhadap kami nanti selepas bapak baca surat ini. Walaupun medium kita berbeda, Pak, tapi keinginan kita waktu muda pasti sama: meluapkan gejolak muda kita melalui sebuah medium dan sebagai kaum muda sudah wajar kalau kita, mungkin bapak juga dahulu, tidak suka dibatasi. Jadi kesimpulan dalam percobaan penyetaraan logika pertama kita berdua kita gagal, Pak, sejak tindakan lebay bapak semalam yang tahu-tahu ada di acara yang digelar di Ramsha Kafe entah akibat laporan dari siapa, tidak berseragam, lantas menyita beberapa ampli gitar dengan alasan menjadikannya sebagai sample, mohon maaf mengkritisi pemilihan kosakata bapak dalam memilih kata sample yang artinya “contoh”, kami jadi bertanya-tanya, bapak ini mau menyita ampli sebagai barang bukti telah terjadi pelanggaran ketertiban umum versi bapak atau mau memeriksa ampli tersebut sebagai contoh ampli yang bagus, misalnya. Kalau bapak mau memeriksa ampli itu bagus atau tidak gimana caranya, Pak? Lantas apa parameternya, Pak? Mau dicolokin jadi speaker komputer di kantor, ya bukan gunanya ampli itu dibuat, mau ditest soundnya? Memang bapak punya gitar, oh maaf bisa main gitar maksudnya, oh atau maaf lagi punya minat pada seni maksud kami?

Kesetaraan berpikir kedua yang kami sasar adalah ini, Pak, bapak tahu semalam itu acara apa? Itu ceritanya acara tribute atau penghormatan buat Rolling Stone. Bapak tahu Rolling Stone kan? Mereka itu band kerenloh, Pak, tanpa perlu dilanjutkan lebih jauh sepertinya percobaan penyetaraan logika berpikir kita lagi-lagi tidak sama, Pak. Kami suka Rolling Stone sedang bapak entah suka apa, kalau anak bapak nanti suka Rolling Stone dan bikin acara begitu bakal bapak angkuti juga peralatan bandnya? Karena sepertinya penyetaraan logika berpikir kita gagal dan tidak menmui titik temu, maka ada baiknya saya tutup saja tulisan ini, Pak. Bapak yang terhormat, maaf kalo logika berpikir kita tidak sama dan tidak setara, bapak ingin ketertiban umum, kami ingin menggunakan ruang publik untuk berkreasi, bapak tidak tahu Rolling Stone sedang kami memujanya sampai membuatkan malam penghormatan bagi mereka. Maka sejak bapak selalu menekankan bahwa kami tidak memiliki izin keramaian dan melanggar ketertiban umum, sejak bapak semalam secara lebay membawa ampli gitar di Ramsha Kafe sebagai sample, oh maaf barang bukti mungkin maksudnya, dan kami selalu dinyatakan bersalah dalam koridor logika bapak, maka sejak itulah kami musti melawan, melalui kata-kata, melalui rangakaian nada yang sumbang terdengar di telinga bapak, melalui apa saja, kami tak boleh tinggal diam karena bapak selalu mengusik kami. Jangan persulit lagi ruang gerak kami, Pak, apalagi sampai menangkapi kami, bapak cuma perlu membalas surat ini, karena apa, Pak? Karena kami ingin kesetaraan berpikir, kami menulis buat bapak, bukan menangkapi bapak. Selamat pagi, selamat beraktivitas, Pak Polisi semalam.

Purwokerto, 5 Juni 2014

Heartcorner Collective

Previous Sullen EP - Barefood
Next Perihal Reputasi dan Perkawinan: Sebuah Curahan Hati dan Ucapan Selamat